Tassowuf - Torekat Hikmaliyah

ahkan hingga detik ini,
tak pernah Sang Matahari berkata pada bumi

“Kau berhutang budi padaku”

Saksikanlah apa yang terjadi dengan cinta yang demikian:
Seluruh penjuru langit terang karenanya.

- Hafiz (1315 – 1390)

Sabtu, 26 Desember 2009

INI ADALAH RINGKASAN RIWAYAT HIDUP PARA ULAMA DANHABAIB DI INDONESIA

As Sayyid Al Habib Al Ustadz Muhammad bin Husein bin Ali bin Muhammad Ba’abud Al Alawi Al Husaini yang berhubungan dengan nasab beliau, masa pertumbuhan beliau, keluarga beliau, masa pendidikan, serta jasa beliau di dalam mengajarkan Al-Qur’an, bahasa Al-Qur’an, hukum-hukum syariat islam, dan lain sebagainya. Semoga ALLAH SWT menjadikan ringkasan ini sebagai ‘ibroh yang bermanfaat bagi diri kita sekalian dan sebagai peringatan bagi anak cucu beliau serta para kerabat dan murid beliau, amin. Allohumma amin.
Nasab beliau dari pihak ayah :
Muhammad bin Husein bin Ali bin Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin Zein bin Musyayakh bin Alwi bin Abdullah bin Al Mu’allim Muhammad Ba’abud bin Abdullah yang bergelar ‘Abud bin Muhammad Maghfun bin Abdurrahman Ba-buthoinah bin Ahmad bin Alwi bin Al Faqih Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi yang dikenal dengan ‘Ammul Faqih bin Syech Muhammad Shohib Mirbath bin Syech Ali Kholi’ Qosam bin Syech Alwi bin Syech Muhammad bin Alwi bin Syech Ubaidillah bin Al Muhajir Ilallah Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-‘Uroidhi bin Al Imam Ja’far As-Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Husein cucu Rasullullah dan buah hatinya bin Ali bin Abi Thalib wabnu Fatimah Az-Zahroh putri Rasulullah SAW.
Adapun nasab beliau dari pihak ibu adalah :
Muhammad bin Ni’mah binti Hasyim bin Abdullah bin Aqil bin Umar bin Aqil bin Syech bin Abdurrahman bin Aqil bin Ahmad bin Yahya bin Hasan bin Ali bin Alwi bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Al Faqihil Muqoddam bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath dan seterusnya sampai akhir nasab yang tersebut diatas.
Sekilas tentang ayah beliau :
Al Habib Husein dilahirkan di “Bour”, Hadramaut pada tahun 1288 Hijriyah dari ayahnya Al Habib Ali, seorang yang alim dan Waliyullah yang merupakan salah seorang murid dari Al Habib Abdullah bin Husein bin Thohir dan Al Habib Abdullah bin Husein bil Faqih. Sedangkan ibunya adalah As-Syarifah Muzenah binti Sayyid Muhammad bin Abdullah bin Ja’far Alaydrus yang berasal dari daerah Tarbeh, Hadramaut.
Ketika usia Al Habib Husein 3 tahun wafatlah ayah beliau yaitu pada tahun 1291 Hijriyah di ‘Ardh Kheleh, Bour, maka ibundanyalah yang memelihara beliau, adapun ibunda beliau wafat pada tahun 1322 Hijriyah di kota Sewun yaitu yang ketika itu Al Habib Husein telah berada di Jawa.


Al Habib Husein dibesarkan di Bour dan belajar ilmu pada guru-guru disana, terutama ialah Al Habib Zein bin Alwi Ba’abud. Pada usia 20 tahun Al Habib Husein menikah dengan As-Syarifah Syifa’ binti As-Sayyid Abdullah bin Zein Ba’abud, yang mana As-Syarifah Syifa’ tersebut wafat di masa hidup Al Habib Husein. Pada tahun 1318 Hijriyah, berlayarlah Al Habib Husein ke Jawa, Indonesia dan berdiam beberapa lama di rumah keponakan beliau Muhammad bin Ahmad bin Ali Ba’abud di Surabaya.
Dan setelah wafat keponakan beliau tersebut, Al Habib Hasyim bin Abdullah bin Yahya menulis surat kepada Al Habib Husein yang ketika itu tinggal di Batu Pahat, Malaysia dimana isi surat itu meminta kepada Al Habib Husein untuk kembali ke Indonesia dan menikah dengan anak beliau yaitu janda dari keponakan Al Habib Husein sendiri As-Syarifah Ni’mah, agar supaya Al Habib Husein memelihara anak – anaknya yaitu Sidah, Abdurrahman dan Ahmad, oleh karena Al Habib Hasyim telah mengetahui kebaikan budi pekerti Al Habib Husein dan memilihnya untuk menjadi suami putrinya.
Maka datanglah Al Habib Husein ke Surabaya dan menikahinya, dan Allah SWT mengaruniai mereka berdua satu putra dan tujuh putri yaitu Muzenah, Alwiyah, Ruqoyyah, Muhammad, Nur, Maryam, Aminah, dan Aisyah. Al Habib Husein adalah seorang pedagang, beliau mempunyai sebuah toko dan mengirim barang-barang ke Sulawesi dan Kalimantan pada langganan-langganan beliau.
Cara hidup Al Habib Husein sangat sederhana, bersih, mengatur waktu sebaik-baiknya, tidur agak sore dan bangun tengah malam untuk bertahajud, di waktu pagi hari pergi ke toko sampai siang hari, beliau lazim sholat berjamaah di Masjid Ampel dan setelah sholat Maghrib beliau lazim mebaca Al-Qur’an dan Rotibul Haddad bersama anak-anaknya.
Beliau sangat memuliakan tamu yang datang padanya dan disaat lain beliau gemar membaca kitab-kitab atau menghadiri majlis pengajian Sayyidina Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya di Surabaya, begitu pula beliau banyak mendapat faedah ilmu dari mertuanya Al Habib Hasyim bin Abdullah bin Yahya yang terkenal kealimannya, begitu juga daripada mufti Jakarta masa itu Al Habib Ustman bin Abdullah bin Yahya adik dari mertua beliau apabila datang dari Jakarta ke Surabaya tinggal di rumah beliau dan mengadakan majlis ta’lim dan pengajian selama ia tinggal di Surabaya, dan banyak lagi majlis pengajian atau rouhah para ulama yang beliau hadiri seperti majlis Al ‘Allamah As-Sayyid Yahya Al Mahdali Al Yamani, Majlis Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi, Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor, Al Habib Ahmad bin Muhsin Al Haddar yang tinggal di kota Bangil, Majlis Al Habib Alwi bin Thohir Al Haddad mufti Johor, Al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik, dan Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang Jakarta yang mana ia adalah juga sahabat beliau semasa menuntut ilmu di Hadramaut, rohimahumullahu ta’ala.
Ciri-ciri Al Habib Husein diantaranya ialah beliau berparas tampan dan berkulit putih, berhidung mancung dan berbadan tinggi, bersih pada badan dan pakaiannya. Akhlak beliau murah hati, jujur, kasih sayang terutama pada fakir miskin dan anak-anak kecil, beliau rajin di dalam berumah tangga serta menjunjung tinggi ahli ilmu, dan beliau sering kali berkata pada istrinya dan juga keluarga bahwa ia memohon kepada Allah dan mengharap supaya putra beliau yaitu Al Ustadz Muhammad menjadi seorang yang mengajarkan ilmu, yang mana ALLAH SWT telah mengabulkan do’a tersebut.
Al Habib Husein banyak berjasa diantaranya seringkali menjamin pendatang-pendatang baru dari Hadramaut, terkadang memberi uang tanggungan, beliau sering memberi hutang kepada orang yang membutuhkan lalu menghalalkannya, banyak bershodaqoh, menderma untuk masjid ampel, dab beliau adalah sebagai salah satu pengurus Madrasah Al Khoiriyyah Surabaya dan Robitothul Alawiyyah, yang mana beliau bekerja secara jujur dan ikhlas.
Pada malam Jum’at tanggal 3 Muharram 1376 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 9 Agustus 1956 pukul 10.20 Al Habib Husein pulang ke rahmatullah, banyak sekali para pengantar jenazah beliau dari dalam dan luar kota lalu disembahyangkan di Masjid Jami’ Lawang yang diimami oleh sahabat beliau Qodhi Arob di masa itu yaitu Al Habib Ahmad bin Gholib Al Hamid, dan dimakamkan di pemakaman Bambangan Lawang, rohimahullahu rohmatal abror.
Adapun ibunda Al Ustadz Muhammad yaitu As-Syarifah Ni’mah dilahirkan di Surabaya pada tahun 1288 Hijriyah dari seorang ayah yaitu Al Habib Hasyim bin Abdullah bin Aqil bin Yahya, dan dari seorang ibu As-Syarifah Maryam binti Al Habib Abdurrahim bin Abdullah Al Qodiri Al Djaelani keturunan daripada As-Syech Abdil Qodir Al Djaelani.
Beliau adalah putri bungsu Al Habib Hasyim, beliau tumbuh di sebuah rumah yang penuh ilmu dan ibadah, yang mana ibunda beliau As-Syarifah Maryam mendapatkan ilmu dan ketaqwaan berkat pendidikan ayahnya Al Habib Abdurrahim yang telah membawanya ke negeri Haromain dan tinggal beberapa lama di Madinatul Munawwaroh dan perjalanannya ke sebagian jazirah arab diantaranya Negeri Baghdad, maka tumbuhlah As-Syarifah Ni’mah ini atas ketaatan dan ketaqwaan dan cinta ilmu, lebih-lebih lagi paman beliau Al Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya yang sering datang ke Surabaya dan tinggal di rumahnya menjadikan beliau bertambah ilmu dan cahaya.
Beliau sangatlah menjaga sholatnya dan bangun akhir malam, membaca Al-Qur’an dan dzikir-dzikir serta sholawat atas Nabi SAW, dan kebanyakan duduk-duduk beliau dengan para tamunya perempuan berisikan masalah-masalah agama, nasehat-nasehat atau membaca kitab-kitab, syair-syair dan hikayat-hikayat yang bermanfaat. Beliau sangatlah menjaga diri, bersih, murah hati dan membantu suaminya di dalam menerima tamu, bahkan setiap hari beliau membuat makanan-makanan untuk persiapan jika datang tamu, lalu jika tidak ada tamu yang datang beliau mengirimkan makanan tersebut ke Masjid yang dekat dengan rumahnya sebagai sedekah untuk anaknya yang telah meninggal dunia dan para kerabat beliau, khususnya kedua orang tua beliau.
As-Syarifah Ni’mah pulang ke rahmatullah pada pagi hari Jum’at pukul 06.40 pada tanggal 5 Jumadil Ula tahun 1358 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 23 Juni 1939 Masehi, dan dimakamkan di pemakaman Pegirian Surabaya di belakang makam ayahanda beliau Al Habib Hasyim bin Abdullah bin Yahya, rohimahumullahu jami’an amin.
Demikianlah sedikit tentang kedua orang tua Al Ustadz Muhammad bin Husein Ba’abud
Adapun beliau Al Ustadz Muhammad dilahirkan di Surabaya daerah Ampel Masjid di sebuah rumah keluarga yang dekat dengan Masjid Ampel sekitar 20 meter, pada malam Rabu tanggal 9 Dzulhijjah tahun 1327 Hijriyyah. Menurut cerita ayahanda beliau bahwa ibunda beliau saat melahirkan beliau mengalami kesukaran hingga pingsan, maka ayahanda beliau bergegas mendatangi rumah Al Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya yang memberikan air kepada ayahanda beliau untuk diminumkan pada ibunda beliau, maka setelah diminumkannya air tersebut, dengan kekuasaan Allah ibunda beliau melahirkan dengan selamat. Dan Al Habib Abu Bakar bin Yahya berpesan untuk dilaksanakan sunnah aqiqoh dengan dua ekor kambing tanpa mengundang seseorang pada waktu walimah kecuali sanak keluarga ibunda beliau saja, maka terlaksanalah walimah tersebut dengan dihadiri oleh Al Habib Abu Bakar bin Yahya, dan beliau pula lah yang memberi nama dengan nama “Muhammad” disertai dengan pembacaan do’a – do’a dan fatihaah dari beliau.
Al Ustadz Muhammad mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya dari masa kecilnya, lebih – lebih ayahanda beliau sedikit memanjakan beliau dikarenakan beliau adalah putra satu – satunya dan juga disebabkan firasat baik ibunda beliau terhadap beliau. Lalu pada saat umur beliau 7 tahun adalah masa beliau berkhitan, yang mana ayahanda beliau mengadakan walimah yang besar, dan setelah itu ayahanda beliau memasukkan beliau di madrasah Al Mu’allim Abdullah Al Maskati Al Qodir, hal ini sesuai isyaroh dari Al habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya, akan tetapi beliau tidak mendapat banyak dari Al Mu’allim Al Maskati tersebut dan tidaklah lama masa belajar beliau disitu, kemudian ayahanda beliau memasukkannya di madrasah Al Khoiriyyah. Dan dikarenakan pada masa itu susunan pelajaran di dalam madrasah tidaklah seperti yang diharapkan, disebabkan oleh tidak adanya kemampuan yang cukup bagi para pengajarnya, maka beliau merasa tidak mendapatkan pelajaran kecuali hanya sedikit, akan tetapi setelah beliau berada di kelas 4 terbukalah hati beliau untuk ilmu, terutama setelah datangnya para tenaga pengajar dari Tarim Hadramaut, seperti guru beliau Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad bil Faqih dan Al Habib Hasan bin Abdullah Alkaf, ditambah dengan adanya guru-guru yang mempunyai kemampuan yang cukup seperti Al Habib Abdurrohman binahsan bin Syahab dan terutama oleh karena perhatian dari Al Arif billah Sayyidinal Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor, yang mana Al Ustadz Muhammad merasakan berkat pandangan serta do’a-do’a beliau di dalam majlis-majlis rouhahnya, dimana Al Ustadz Muhammad sangatlah rajin menghadirinya, dan telah membaca beberapa kitab di hadapan beliau, juga bernasyid “Rosyafat” gubahan Al Habib Abdurrohman bin Abdullah bil Faqih dihadapan beliau bersama As Sayyid Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Yahya. Al Habib Muhammad Al Muhdor sangat menyayangi beliau dan sering kali mendo’akan beliau, maka ketika itulah beliau merasa mendapatkan futuh dan manfaat juga barokah daripada belajar ilmu. Berlangsunglah masa belajar beliau di kelas 6 sampai hampir 6 tahun, dan di tengah-tengah masa belajar itu beliau sering menggantikan tempat para guru-guru di dalam mengajar bilamana mereka berudzur untuk datang mengajar.
Dan daripada nasib baik bagi beliau yaitu pada akhir tahun ajaran tepatnya pada bulan Sya’ban tahun 1343 Hijriyyah ketika para pelajar yang lulus menerima ijazah kelulusan yang dibagikan langsung oleh Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor, beliau menerima ijazah dengan peringkat ke-satu dari seluruh pelajar yang lulus waktu itu, bersamaan dengan itu Al Habib Muhammad Al Muhdor menghadiahkan kepada beliau sebuah jam kantong yang bermerk “Sima”. Lalu Al Habib Muhammad Al Muhdor mengusap-usap kepala dan dada beliau sambil mendo’akan beliau ketika Al Habib Aqil bin Ahmad bin Aqil pengurus madrasah waktu itu memberitahukan bahwa Al Ustadz Muhammad tahun itu akan diangkat menjadi guru di Al Madrosatul Khoiriyyah. Setelah beliau menjadi guru di Madrosatul Khoiriyyah, disamping mencurahkan tenaga di dalam memberikan pelajaran pagi dan sore di madrasah beliau juga banyak sekali memberikan ceramah-ceramah di banyak tempat serta menterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia ceramah-ceramah para mubaligh Islam yang datang dari luar negeri seperti Ad Da’i As Syech Abdul Alim As Shiddiqi dari India dan yang selainnnya. Rohimahumullahu ta’ala.
Dan inilah diantara guru – guru beliau :
Di dalam tasawwuf dan tarikh ialah ayahanda beliau Al Habib Husein bin Ali Ba’abud, di dalam membaca dan menulis bahasa Arab As Syech Ali bin Ahmad Ba-bubay, di dalam Al Qur’anul karim As Syech Abdullah bin Muhammad Ba Mazru’, dalam bahasa Arab, Khot, Insya’, dan Hisab As Sayyid Abdurrohman binahsan bin Syahab, di dalam fiqih, tafsir, tasawwuf, nahwu, dan ilmu balaghoh Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad bil Faqih, di dalam fiqih dan tajwid Al Habib Hasan bin Abdullah Alkaf, di dalam nahwu dan hisab As Sayyid Ja’far bin Zein Aidid.
Selain guru-guru ini masih banyak lagi dari golongan para wali dan alim ulama yang beliau sering membaca kitab-kitab di hadapan mereka, dan kebanyakannya adalah kitab-kitab hadits, tasawwuf, dan kitab-kitab karangan para salaf Alawiyyin. Diantara para ulama tersebut adalah :
Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor dari Bondowoso, Al Habib Ali bin Abdurrohman Al Habsyi Kwitang Jakarta, Al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik, Al Habib Al Alamah Alwi bin Thohir Al Haddad Johor, Al Habib Thohir bin Ali Al Jufri, Al Habib Ahmad bin Tholibul Athos Pekalongan, Al Habib Abdurrohman bin Zein Ba’abud, dan Al Habib Zein bin Muhammad Ba’abud, rodhiallahuanhum.
Pada tahun 1348 Hijriyyah, tepatnya pada hari Kamis sore tanggal 22 bulan Robi’ust Tsani ayahanda beliau menikahkan beliau dengan As Syarifah Aisyah binti As Sayyid Husein bin Muhammad bil Faqih, walimatul aqad berlangsung di rumah ayahanda beliau, dan yang menjadi wali adalah saudara kandung As Syarifah Aisyah yaitu As Sayyid Syech bin Husein bil Faqih yang telah mewakilkan aqad kepada Qodhi Arob di Surabaya masa itu yaitu Al Habib Ahmad bin Hasan bin Smith. Sedangkan walimatul urs pada malam Jum’at 22 Robi’ust Tsani di rumah istri beliau di Nyamplungan gang 4 Surabaya. Allah SWT telah mengaruniai beliau pada pernikahan ini enam putra dan delapan putri.
Pada bulan Jum’adil Akhir tahun 1359 Hijriyyah bertepatan pada bulan Juli 1940 masehi, dengan kehendak ALLAH SWT beliau sekeluarga pindah dari Surabaya ke kota Lawang, dan dikota inilah beliau mendirikan madrasah dan pondok pesantren “Darun Nasyiien”, yang pembukaan resminya jatuh pada awal bulan Rojab 1359 Hijriyyah, bertepatan dengan 5 Agustus 1940 Masehi. Yang mana pondok tersebut mendapat perhatian oleh banyak orang dari Jawa dan luar Jawa, serta memberi hasil dan barokah, alhamdullillah.
Mula-mula tempat untuk madrasah adalah di jalan Talun timur pasar Lawang, yang sekarang berubah namanya menjadi jalan Pandowo, dan setelah beberapa bulan berpindah pula ayahanda beliau dari Surabaya ke Lawang dan tinggal bersama-sama beliau, yang mana menambahkan barokah bagi rumah dan pondok beliau. Dan pada waktu penjajahan Jepang sampai awal masa kemerdekaan berpindah-pindahlah beliau dari satu tempat ke tempat yang lain di daerah sekitar kota Lawang, seperti Karangsono, Simping, dan Bambangan yang ketika itu terjadi serangan penjajah Belanda atas kota Malang. Walhamdulillah pada masa-masa berubah-ubah pemerintahan, pelajaran tidak terputus kecuali pada waktu penjajahan Jepang sekitar 17 hari karena penjajah Jepang pada waktu itu memerintahkan untuk menutup madrasah-madrasah ketika mereka menduduki suatu daerah, lalu ketika kembalinya penjajahan Belanda yang kedua terpaksa beliau menutup madrasah demi keamanan selama 3 bulan saja. Dan semenjak 1 April 1951 beliau sekeluarga pindah ke jalan Pandowo yang beliau diami sampai akhir hayat beliau, yang tepat dibelakangnya terdapat pondok pesantren dengan bangunan yang cukup baik untuk para pelajar yang tinggal, dengan kamar-kamar dan musholla bernama “Baitur Rohmah”, serta kelas-kelas, dan yang telah mengurusi pembangunan serta mengarsiktekturinya adalah putra beliau Al Ustadz Ali bin Muhammad Ba’abud.
Banyak sekali para pengunjung daripada ulama dan orang-orang sholeh ke rumah serta ke pondok beliau, diantara mereka adalah Al Habib Ali bin Abdurrohman Al Habsyi Jakarta, Al Habib Zein bin Abdullah bin Muhsin Al Athos Bogor dan saudaranya Al Habib Husein, Al Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid Tanggul, Al Habib Alwi bin Ali Al Habsyi Solo, Al Habib Alwi bin Abdullah Al Habsyi Barabai Kalimanatan, Al Habib Husein bin Abdullah Al Hamid Tuban, Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad bil Faqih Malang, Al Habib Abdullah Umar Alaydrus Surabaya, Al Habib Ali bin Husein Al Athos, Al Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf Jeddah, Al Habib Salim bin Abdullah As Syathiri Tarim, As Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al Maliki Makkah, dan banyak lagi selain mereka yang hal itu semua adalah membuahkan keberkahan Insya ALLAH Ta’ala.
Dan setelah ayahanda beliau wafat, ALLAH SWT mengilhami beliau untuk mengadakan rouhah atau majlis ta’lim pada tiap hari Kamis sore yang ditutup dengan bacaan tahlil atas arwah ayah bunda beliau untuk memperingati mereka berdua serta dengan tujuan memberi manfaat kepada para santri beliau dan selain mereka daripada para pecinta ilmu dari dalam dan luar kota, maka ketika As Sayyid Al Arif billah Al Habib Muhammad bin Umar Alaydrus Surabaya mendengar tentang hal itu beliau sangat gembira seraya mendo’akan untuk Ustadz Muhammad dan majlisnya. Maka dengan rahmat Allah SWT rouhah tersebut telah berlangsung selama 36 tahun di masa hidup beliau dan telah memberi kesan yang sangat baik.
Pengajian rouhah tersebut adalah rouhah yang berbarokah dengan dalil sebagian mimpi-mimpi dari sebagian keluarga dan selain mereka, yaitu bahwa rouhah dan sebagian majlis-majlis yang lain dihadiri oleh An Nabi SAW dan arwah para salafus sholeh, dimana terdapat tanda-tanda yang menunjukkan tentang hal itu, walhamdulillah.
Pada hari Rabu pagi jam 10:20 tanggal 18 Dzulhijjah tahun 1413 Hijriyyah bertepatan dengan tanggal 9 Juni 1993 beliau pulang ke rahmatullah SWT, ayahanda dan guru kami tercinta Al Ustadz Muhammad bin Husein Ba’abud. Almarhum disembahyangkan di pondok pesantren beliau pada keesokan harinya yaitu hari Kamis dan diantar jenazahnya oleh banyak orang ke pemakaman Bambangan Lawang dan dimakamkan beliau disamping makam ayahanda beliau.
Inilah yang diwasiatkan oleh hamba yang faqir kepada rahmat ALLAH SWT Muhammad bin Husein Ba’abud sesuai dengan yang diwasiatkan oleh Al Habib Abdullah bin Husein bin Thohir kepada istri-istrinya dan dzuriyatnya laki-laki dan perempuan selama turun temurun, wasiat ini teruntuk mereka dan untuk siapa saja yang mendengarnya, yaitu :
* Hendaknya mereka menjalankan sunnah-sunnah nya atau perilaku atau perjalan penghulu daripada utusan ALLAH SWT, yaitu Sayyiduna Muhammad SAW, dan juga supaya mengikuti sunnah dan perjalanan para kholifah yang mendapat petunjuk al-khulafaur rosyidin, kesemuanya ini sesuai dengan firman ALLAH SWT dan berdasarkan sabda Rasulullah SAW .
Barangsiapa tidak mampu menjalankan semuanya itu maka setidak-tidaknya janganlah keluar atau menyimpang daripada jalan ataupun petunjuk para salafus sholeh yaitu para leluhur kita yang sholeh serta terbukti kewaliannya. Dan barangsiapa belum mendapat jua taufik hidayat untuk itu semua maka paling tidak hendaknya ia meneladani kepada saya, yaitu meneladani di dalam hal ibadahku juga kholwatku, dan di dalam menjauhkan diri dari kebanyakan orang bersamaan dengan perlakuanku yang baik terhadap anak kecil dan orang besar laki-laki dan perempuan jauh maupun dekat tanpa harus sering berkumpul atau banyak bergaul, dan tanpa harus saling tidak peduli ataupun saling benci-membenci.
* Hendaknya sangatlah berhati-hati di dalam bermusuhan dan berselisih ataupun berkelahi dengan siapa saja, di dalam apa saja dan bagaimanapun juga.
* Bagi yang telah mengalami saya diantara kalian maka janganlah tidak meneladani kepada jalanku yaitu di dalam hal-hal yang sifatnya terpuji, janganlah lebih sedikit dari itu.
* Dan aku wasiatkan kepada mereka semua untuk selalu memohonkan kasih sayang rahmat ALLAH atas diriku serta memohonkan ampun dengan membacakan istighfar untukku sesuai dengan kesanggupannya masing-masing pada setiap waktu dan lebih-lebih di dalam hari-hari As Syuro dan hari-hari di bulan Rojab dan di bulan Romadhon serta bulan Haji dan pada bulan dimana pada bulan dimana ALLAH SWT mentakdirkan akan wafatku, dan barangsiapa diluaskan oleh ALLAH atasnya dan dimudahkan atasnya untuk bershodaqoh maka hendaknya bershodaqoh untukku dengan apa-apa yang ringan atasnya sedikit atau pun banyak khususnya di dalam waktu-waktu yang lima ini. Dan aku mengizinkan bagi siapa saja yang hendak berhaji atau umroh atas diriku, dikerjakan oleh dirinya sendiri ataupun mengupahkan kepada orang lain sesungguhnya perbuatan itu dilipat gandakan oleh ALLAH SWT 10 kali lipat, ALLAH jua lah yang dapat menolong seseorang untuk berbuat kebajikan, semoga ALLAH SWT memberikan pertolongannya bagi diri kita sekalian untuk berbuat baik.
* Kemudian aku juga berpesan kepada kalian untuk mempererat tali silaturahmi yaitu ikatan kekeluargaan, karena sesungguhnya silaturahmi itu sangat memberi pengaruh terhadap keberkahan harta dan rezeki dan salah satu penyebab dipanjangkannya umur, silaturahmi itu menunjukkan keluhuran budi pekerti dan tanda-tanda seseorang mendapat kebaikan di hari kemudian. Maka hati-hatilah kalian daripada memutuskan tali persaudaraan, karena sesungguhnya perbuatan itu sangatlah keji juga siksanya sangatlah pedih, seseorang yang memutus silaturrahim itu terkutuk berdasarkan dalil Al Qur’an, orang yang memutus adalah pertanda orang yang lemah iman, orang yang memutus tidak akan mencium bau surga, orang yang memutus maka kesialannya menular kepada tetangga-tetangganya, maka sambunglah tali persaudaraan kalian wahai saudara-saudaraku karena sesungguhnya tali rahim itu bergantung pada salah satu tiangnya singgasana ALLAH yang Maha Pengasih.
* Dan saya berpesan pula kepada diri saya dan kepada orang-orang yang tersebut tadi agar supaya banyak beristikhoroh dan musyawarah di dalam segala urusan dan hendaknya selalu mengambil jalan yang hati-hati, walaupun pada hakekatnya berhati-hati itu tidak dapat meloloskan seseorang daripada ketentuan ALLAH dan takdir-NYA, akan tetapi menjalankan sebab-sebab tidaklah boleh ditinggalkan, justru oleh sebab itulah wasiat atau pesan-pesan dan nasehat-nasehat itu diperlukan dan dianjurkan, oleh karena hal itu semua adalah salah satu segi dari sebab-sebab di dalam mengajak orang kepada ALLAH dan mengajak untuk menuju kebahagiaan serta keselamatan di dunia dan akhirat.
Semoga ALLAH SWT mencurahkan kasih sayangnya terhadap orang-orang yang suka bernasehat dan membalas mereka dengan kebaikan yang banyak, dan semoga ALLAH Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkan segala apa yang mereka katakan.

Itulah sekilas tentang salah satu dari waliyullah. Hidupnya digunakan untuk mensyiarkan kebenaran Islam.
Semoga ALLAH memunculkan kembali para wali - wali-NYA yang dapat menuntun manusia menuju kebenaran jalan-NYA.
Amiin.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 19:49 0 KOMENTAR
Al-Habib Ali Bin Abdurahman Al-Habsyi
Silsilahnya adalah Habib Ali bin Abdurahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurahman bin Husein bin Abdurahman bin Hadi bin Ahmad ( Shohib Syi’ib ) Al-Habsyi. Beliau dilahirkan di Kwitang pada hari Minggu tanggal 20 Jumadil Akhir 1286 Hijriyyah bertepatan dengan tanggal 20 April 1870 M. Ayahnya, Habib Abdurahman Alhabsyi kelahiran Semarang kemudian pindah ke Jakarta dan menikah dengan Hajjah Salmah seorang puteri Betawi Asli yang berasal dari Jatinegara. Habib Abdurahman Alhabsyi wafat di Jakarta pada tahun 1296 H dan dikuburkan di Cikini, sedangkan Hajjah Salmah wafat tanggal 2 Rajab 1351 Hijriyyah, dikuburkan di Tanah Abang .
Setelah Habib Ali berumur 10 tahun ayahnya meninggal dunia, tidak lama kemudian Habib Ali dikirim belajar ke Hadramaut sesuai wasiat ayahandanya, Guru-gurunya di Hadramaut adalah :
1.Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi
2.Habib Ahman bin Hasan Al-Atthas
3.Habib Hasan bin Ahmad Alaydrus
4.Habib Zein bin Alwi Ba’bud
5.Syekh Hasan bin Awadh bin Mukhaddam
Selain itu Habib Ali menghadiri majelis ilmu Al-Habib Abdurahman bin Muhammad Al-Masyhur mufti Al-Diyar Al-Hadramiyah, Al-Habib Umar bin Idrus bin Alwi Alaydrus serta Al-Habib Alwi bin Abdurahman Al-Masyhur. Pada tahun 1300 Hijriyah Habib Ali menghadiri majelis Maulid yang diselenggarakan oleh Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Pada saat itu hadir pula Al-Habib Al-Quthub Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor beserta anak-anaknya.
Pada tahun 1303 Hijriyah, Habib Ali Pulang ke tanah air setelah bermukim selama 6 tahun. Ketika berada di Indonesia, umur beliau 16 tahun dan melanjutkan belajar kepada :
1.Habib Usman bin Abdullah bin Yahya
2.K.H.Abdul Hamid, Jatinegara
3.K.H.Mujtaba bin Ahmad, Jatinegara
4.Habib Muhammad bin Alwi Al-Shulaibiyah Alaydrus
5.Habib Salim bin Abdurahman Al-Jufri
6.Habib Husin bin Muchsin Al-Atthas
7.Habib Abdullah bin Muchsin Al-Atthas, Bogor
8.Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Atthas, Pekalongan
9.Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor, Bondowoso
10.Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi
11.Habib Ahmad bin Muchsin Al-Hadar, Bangil
Setelah usia mencapai 20 tahun Habib Ali menikah dengan Hababah Aisyah keluarga Al-Saqqaf dari Banjarmasin. Pada tahun 1311 Hijriyah, Habib Ali Berangkat Ke Mekah untuk menunaikan ibadah Haji serta menuntut ilmu kepada :
1.Syech Muhammad Said Babshil
2.Habib Umar bin Muhammad Syatha’
3.Musyayikh Umar bin Abi Bakar Bajunaid
4.Habib Abdullah bin Muhammad Sholih Al-Zawawi
5.Syekh Umar Hamdan Al-Mghribi
Di Kota Madinah Al-Munawwaroh beliau belajar kepada : Habib Ali bin Ali Alhabsyi, Habib Abdullah Jamalullail ( Syekh Al-Asaadah ) dan Syekh Sulaiman bin Muhammad Al-Azab, anak dari pengarang kitab Maulid Azab.
Harumnya nama Habib Ali menjadi pembicaraan ramai. Kemasyhuran habib Ali tersebut sampai dibuatkan syair oleh beberapa pujangga di antaranya : Habib Muhamnmad Al-Muhdor, Sayyid Ahmad Assaqaf, Syekh Fadhil Irfan, Soleh bin Ali Al-Hamid, Toha bin Abu Bakar Assaqaf dan Syekh Yusuf bin Ismail Al-Nabhani pun memasukkan nama Habib Ali dalam kitabnya yang bernama Jami’ Karamat Al-Auliya juz 2 halaman 362. Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi wafat tanggal 23 Oktober 1968, dimakamkan di Masjid Arriyadh yang dipimpinnya sejak ia masih muda, ribuan orang berbondong-bondong melakukan takziah ke kediamannya di Kwitang, Jakarta Pusat, yang sekaligus menjadi majelis ta’lim tempat ia mengajar.
Sumber dari Buku Menelusuri Silisilah Suci Bani Alawi–Idrus Alwi Almasyhur
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 19:45 0 KOMENTAR
Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan
Orator ulung ini rajin menyampaikan taushiah di sejumlah majelis taklimdi Indonesia. Dialah Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan, sang
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fakhriyah, Tangerang, Banten
Wajah dai yang satu ini tentu sudah banyak dikenal oleh kalangan habaib dan muhibbin yang ada di Indonesia. Usianya kini menginjak 30 tahun. Tapi reputasinya sebagai ulama dan mubalig sudah diakui oleh kaum muslimin di Indonesia. Tidak saja di Jakarta, tapi juga di banyak majelis-majelis haul dan maulid yang digelar di berbagai tempat; seperti Gresik, Surabaya, Solo, Pekalongan, Tegal, Semarang, Bandung,Palembang, Pontianak, Kalimantan, hampir berbagai daerah di negeri ini sudah dirambahinya.
Bakatnya sebagai dai memang bukan tidak saja karena dia adalah cucudari Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, "Singa Podium" dan seorang pejuang dakwah di Betawi pada tahun 1906 - 1969. Dai yang satu ini memang sedari kecil telah tertempa dalam lingkungan pendidikan yang sarat religius. Wajar, jika agamanya pun cukup mendalam. Wajah ulama muda yang saleh ini tampak bersih, tutur katanya halus, dengan gaya berceramahnya enak didengar dan mengalir penuh untaian kalam salaf serta kata-kata mutiara yang menyejukan para pendengarnya. Seperti kebanyakan habib, ia pun memelihara jenggot, dibiarkannya terjurai.
Dialah Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, putra Habib Novel bin Salim bin Jindan bin Syekh Abubakar, salah seorang ulama yang terkenal di Jakarta. Habib Jindan bin Novel juga dikenal sebagai penerjemah bahasa Arab ke bahasa Indonesia yang andal. "Ketika dia menerjemahkan taushiah gurunya, Habib Umar bin Hafidz, makna dan substansinya hampir sama persis dengan bahasa aslinya. Bahkan waktunya pun hampir sama dengan waktu yang digunakan oleh Habib Umar," tutur seorang habib diJakarta.
Lahir di Sukabumi, pada hari Rabu 10 Muharram 1398 atau 21 Desember 1977, sejak kecil ia selalu berada di lingkungan majlis taklim dan sarat dengan pendidikan ilmu-ilmu agama. "Waktu kecil saya sering diajak ke berbagai majelis taklim di
Jakarta oleh saya punya Abah, yakni Habib Novel bin Salim bin Jindan. Dari situ saya mendapat banyak manfaat, antara lain berkah dari beberapa ulama dan habaib yang termasyhur," kenang Bapak 5 anak (4 putri, 1 putri) ini kepada alKisah.
Bisa dimaklumi, sebab ayahandanya memang dikenal sebagai mubalig yangtermasyhur pula. Pengalaman masa kecil itu pula yang mendorongnya selalu memperdalam ilmu agama. Pada umur dua tahun, ia bersama keluarganya tinggal di Pasar Minggu bersebelahan dengan rumah keluarga Habib Salim bin Toha Al-Haddad (PasarMinggu).
Lepas itu, pada umur lima tahun ia juga pernah dititipkan untuk tinggal di rumah Habib Muhammad bin Husein Ba'bud dan putranya, yakni Habib Ali bin Muhammad
bin Husein Ba’abud, tepatnya di kompleks Pondok Pesantren Darun Nasyi’ien (Lawang, Malang). "Di Lawang, sehari-hari saya tidur di kamar Habib Muhammad Ba’bud. Selama disana dibilang mengaji, tidak juga. Tapi berkah dari tempat itu selama setahun saya tinggal, masih terasa sampai sekarang," ujarnya dengan senyum khasnya.
Menginjak umur 6 tahun ia ikut orangtuanya pindah ke Senen Bungur, pria berkacamata ini mengawali belajar di SD Islam Meranti, Kalibaru Timur (Bungur, Jakarta Pusat). Ia juga belajar diniyah pada sebuah Madrasah yang diasuh oleh Ustadzah Nur Baiti di Bungur.
Ia kemudian melanjutkan ke tingkat Tsanawiyah di Madrasah Jami’atul
Kheir, Jakarta hingga tingkat Aliyah, tapi tidak tamat. Selama di Jami'atul Kheir, banyak guru-guru yang mendidiknya seperti Habib Rizieq Shihab, Habib Ali bin Ahmad Assegaf, KH. Sabillar Rosyad, KH.Fachrurazi Ibrahim, Ustadz Syaikhon Al-Gadri, Ustadz Fuad bin Syaikhon Al-Gadri, dan lain-lain.
Sejak muda, sepulang sekolah ia selalu belajar pada Habaib dan Ulama di Jakarta,seperti di Madrasah Tsagofah Islamiyah yang diasuh oleh Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf dan putranya Ust AbuBakar Assegaf. Habib Jindan juga pernah belajar bahasa Arab di Kwitang (Senin, Jakpus) di tempat Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi dengan ustadz-ustadz setempat.
Selain itu pada sore nya ia juga sering mengikuti rauhah yang digelar oleh Majelis Taklim Habib Muhammad Al-Habsyi. Di majlis itu, banyak habaib dan ulama yang menyampaikan pelajaran-pelajaran agama seperti Habib Abdullah Syami’ Alattas, Habib Muhammad Al-Habsyi, Ustadz Hadi Assegaf, Habib Muhammad Mulakhela Ustadz Hadi Jawwas dan lain-lain.
Beruntung, karena sering berada di lingkungan Kwitang, sehingga ia banyak berjumpa para ulama-ulama dari mancanegara yang datang ke Kwitang, seperti Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Habib Ja’far Al-Mukhdor, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dan masih banyak lainnya.
Pada setiap hari Minggu pagi, ia selalu hadir di Kwitang bersama Abahnya, Habib Novel bin Salim bin Jindan yang juga selalu didaulat berceramah. Sekitar tahun 1993, ia bertemu pertama kali dengan Habib Umar Hafidz di Majlis Taklim Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang) saat pengajian Minggu pagi. Pertemuan kedua terjadi terjadi saat Habib Umar bin Salim Al-Hafidz berkunjung ke Jamiat Kheir. Saatitu yang mengantar rombongan Habib Umar adalah Habib Umar Mulakhela dan UstadzHadi Assegaf.
Uniknya, satu-satunya kelas yang dimasuki oleh Habib Umar adalah kelasnya, padahal di Jami’at Kheir saat itu ada belasan kelas. Begitu masuk kelas, Ustadz Hadi Assegaf dari depan kelas memperkenalkannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz. Saat itu, Ustadz Hadi menunjuknya sambil mengatakan kepada Habib Umar, kalau dirinya juga bermarga bin Syekh Abu Bakar bin Salim, sama klannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz.
Saat itulah Habib Umar tersenyum dengan khasnya sambil memandang Habib Jindan. Itulah perkenalan pertama Habib Jindan dengan Habib Umar Al-Hafidz di ruang kelas yang masih terkenangnya sampai sekarang.
Sejak itulah hatinya tergerak untuk belajar ke Hadramaut. Pernah suatu ketika ia akan berangkat ke Hadramaut, namun sayang, sang pembawa Habib Bagir bin Muhammad bin Salim Alattas (Kebon Nanas) meninggal. Pernah juga ia akan berangkat dengan salah satu saudaranya, tapi salah satu saudaranya sakit. Hingga akhirnya dalam keputusasaan tersebut, tiba-tiba Habib Abdul Qadir Al-Haddad (Al-Hawi, Condet) datang ke rumahnya mengabarkan kalau Habib Umar bin Hafidz menerimanya sebagai santri.
Lalu ia berangkat bersama rombongan pertama dari Indonesia yang jumlahnya 30 orang santri. Diantaranya yakni Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa, Habib Qureisy Baharun, Habib Shodiq bin Hasan Baharun, Habib Abdullah bin Hasan Al-Haddad, Habib Jafar bin Bagir Alattas dan lain-lain. Ia kemudian belajar agama kepada Habib Umar bin Hafidz di Tarim, Hadramaut. "Ketika itu Habib Umar belum mendirikan Pesantren Darul Musthafa. Yang ada hanya Ribath Tarim, kami tinggal di rumah Habib Umar, " tuturnya.
Baru dua minggu di Hadramaut, pecah perang antar saudara di Yaman berkecamuk. Memang, situasi perang tidak terasa di lingkungan Pondok, karena Habib Umar perang atau tidak perang, ia tetap mengajar murid-muridnya. Dampak perang saudara ini dirasakan oleh seluruh penduduk Yaman, dimana listrik mati, gas minim, bahan makanan langka. "Terpaksa kita masak dengan kayu bakar," katanya.
Baginya, Habib Umar bin Hafidz bukan sekadar guru, tapi juga sumber inspirasi. "Saya sangat mengagumi semangatnya dalam berdakwah dan mengajar. Dalam situasi apa pun, beliau selalu menekankan pentingnya berdakwah dan mengajar. Bahkan dalam situasi perang pun, tetap mengajar. Beliau memang tak kenal lelah," tambahnya.
Saat itu Darul Musthofa memang belum berdiri seperti sekarang, situasi yang serba terbatas. Walau pun situasi yang susah, itu sangat mengesankan baginya. Dahulu para santri tinggal di sebuah kontrakan yang sederhana di belakang kediaman Habib Umar. Sedangkan pelajaran taklim selain diasuh sendiri oleh Habib Umar, para santri juga belajar di berbagai majelis-majelis taklim yang biasa di gelar di Tarim, seperti di Rubath Tarim, Baitul Faqih, Madrasah Syeikh Ali, mengaji kitab Bukhari di Masjid Ba'alwi, Taklim di Zawiyah Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (Al-Hawi, Hadramaut), belajar Ihya di Zanbal di Gubah Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus, Zawiyah Mufti Tarim, yakni Syeikh Fadhal bin Abdurrahman Bafadhal dan lain-lain.
Selama mengaji dengan Habib Umar, ia sangat terkesan dengan salah satugurunya itu. "Beliau dalam mengajar tidak pernah marah. Saya tidak pernah mendengar Beliau mengomel atau memaki-maki kita. Kalau ada yang salah, ditegurnya baik-baik dan dikasih tahu. Selain itu, Habib Umar terkenal sangat istiqamah dalam hal apa pun," katanya.
Habib Jindan mengaku sangat beruntung bisa belajar dengan seorang alim dan orator ulung seperti Habib Umar. Memang Habib Umar mendidik santri-santrinya bisa berdakwah, para santri mendapat pendidikan khusus untuk memberikan taushiah dalam bahasa Arab tiap sehabis shalat Subuh masing-masing santri dua orang, walaupun hanya sekitar lima sampai sepuluh menit. Latihan kultum, itu juga menjadi saling menasehati antar santri. Setelah satu tahun menjadi santri ada program dakwah tiga hari sampai seminggu bagi yang mau dakwah berkeliling. Bahkan dirinya sudah mengajar untuk santri-santri senior pada akhir-akhir masa pendidikan.
Setelah selama kurang lebih 4 tahun, sekitar tahun 1998 ia pulang ke Indonseia bersama dengan rombongan Habib Umar yang mengantar sekaligus santri-santri asal Indoensia dan berkunjung ke rumah beberapa murid-muridnya. Perlu diketahui, angkatan pertama ini hampir 98% semua dari Indonesia, hanya dua - tiga orang dari santrisetempat. Untuk itulah, ia pulang seminggu terlebih dahulu, untuk mempersiapkanacara dan program kunjungan Habib Umar di Indonesia.
Saat pertama kali pulang, ia oleh sang Abah diperintahkan untuk berziarahdengan para Habaib sepuh yang ada di Jakarta, Bogor dan sekitarnya. Ada beberapa pendorong dan memberikan motivasi dirinya untuk berdakwah, seperti sang Ayahanda, Habib Novel bin Salim bin Jindan, Habib Hadi bin Ahmad Assegaf dan Habib Anis Al-Habsyi.
Menurutnya; masukan, didikan, motivasi oleh sang Abah memang ia rasakan. "Ikhlaslah dalam berdakwah. Yang penting, apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati," kata Habib Jindan menirukan Abahnya. Habib Novel bin Salim bin Jindan (alm) memang dikenal sebagai orator ulung sebagaimana abahnya yakni Habib Salim bin Jindan.Wajarlah bila Habib Novel ingin putra-putranya menjadi dai-dai yangtangguh.
"Kalau ceramah jangan terlalu panjang.Selagi orang lagi asyik, kamu berhenti. Jangan kalau orang sudah bosen, baru berhenti, nanti banyak audiens kapok mendengarnya. Lihat situasi dan keadaannya, sesuaikan dengan materi ceramahnya dan waktu ceramahnya. Lihat, kalau disitu ada beberapa penceramah, kamu harus batasi waktu berceramah dan bagi-bagi waktunya dengan yang lain". Sampai masalah akhlak dan sopan santun dengan semua orang diajarkan, itu kesan dan masukan dari Abahnya, Habib Novel bin Salim bin Jindan kepadanya.
Selain berceramah, ia bersama sang adik, Habib Ahmad bin Novel bin Salim Jindan dan adik-adiknya yang lain sekarang waktuya banyak dicurahkan untuk mengasuh pondok pesantren Al-Fakhriyyah yang terletak di Jln. Prof. Dr. Hamka, Kp. Gaga, RT 001 RW 04 No. 1 Larangan Selatan, Ciledug.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 19:42 0 KOMENTAR
Habib Muhammad bin Husein Ba'Abud

Pembuka Pesantren di Lawang
Habib Muhammad, begitu ia biasa disapa, dikenal sebagai guru para Habib di daerah Malang dan sekitarnya. Beliaulah yang yang mendirikan pesantren Darun Nasyiien pada tahun 1940.

Semua orang pasti mengenal Pesantren Darun Nasyiien yang didirikannya di Lawang, Malang. Pondok Pesantren ini adalah pesantren kaum habaib yang pertama di Indonesia. Kalaupun sudah banyak lembaga pendidikan para habib yang berdiri sebelumnya, biasanya hanya berbentuk madrasah, bukan pesantren.
Sudah tak terhitung lagi banyaknya alumnus Darun Nasyiien yang menjadi ulama di seluruh Indonesia. Rata-rata mereka selalu mengibarkan bendera Ahlussunnah Wal Jamaah ala Thariqah Alawiyin di tempat mereka berada.
Nama Habib Muhammad bin Husein bin Ali Ba’abud juga tak pernah hilang dari hati kaum muslimin kota Malang sampai saat ini. Masa Kecil di Surabaya Habib Muhammad bin Husein dilahirkan di daerah Ampel Masjid Surabaya. Tepatnya di sebuah rumah keluarga, sekitar 20 meter dari Masjid Ampel, pada malam Rabu 9 Dzulhijjah 1327 H.
Menurut cerita ayahandanya (Habib Husein), saat akan melahirkan, ibunda beliau (Syarifah Ni’mah) mengalami kesukaran hingga membuatnya pingsan. Habib Husein bergegas mendatangi rumah Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya.
Habib Abu Bakar lalu memberikan air untuk diminumkan pada istrinya. Tak lama sesudah diminumkannya air tersebut, dengan kekuasaan Allah, Syarifah Ni’mah melahirkan dengan selamat. Habib Abu Bakar berpesan untuk dilaksanakan aqiqah dengan dua ekor kambing, diiringi pesan agar tidak usah mengundang seseorang pada waktu walimah, kecuali sanak keluarga Syarifah Ni’mah.Acara walimah tersebut dihadiri Habib Abu Bakar. Beliau pulalah yang memberi nama Muhammad, disertai pembacaan do’a-do’a dan Fatihah.
Saat berumur 7 tahun, Habib Muhammad berkhitan. Setelah dikhitan, Habib Husein memasukkan putranya itu ke Madrasah al-Mu’allim Abdullah al-Maskati al-Kabir, sesuai dengan isyarat dari Habib Abu Bakar. Akan tetapi anaknya merasa tidak mendapat banyak dari madrasah tersebut. Tidak lama setelah belajar, Habib Husein memasukkannya ke Madrasah Al-Khairiyah, juga di kawasan Ampel.
Pelajaran di Madrasah Al-Khoiriyah waktu itu juga tidak seperti yang diharapkan, disebabkan tidak adanya kemampuan yang cukup dari para pengajarnya. Habib Muhammad pun merasa kurang mendapat pelajaran. Tapi setelah berada di kelas empat, terbukalah mata hatinya, terutama setelah datangnya para tenaga pengajar dari Tarim-Hadramaut.
Di antara para guru itu adalah Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dan Habib Hasan bin Abdulloh al-Kaf. Juga terdapat guru-guru lain yang mempunyai kemampuan cukup, seperti Habib Abdurrohman bin Nahsan bin Syahab, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor. Habib Muhammad merasakan futuh, barakah dan manfaat dari do’a-do’a Habib Muhammad al-Muhdlor di dalam majelis rouhah (pengajian)-nya.
Di tengah masa belajar itu beliau seringkali menggantikan para gurunya mengajar, bilamana mereka berudzur datang. Sampai akhirnya nasib baik itu datang padanya setelah menempuh pendidikan hampir enam tahun lamanya. Pada akhir tahun pendidikan, para pelajar yang lulus menerima ijazah kelulusan. Ijazah itu dibagikan langsung oleh Habib Muhammad al-Muhdlor.
Ternyata Habib Muhammad menempati peringkat pertama, dari seluruh pelajar yang lulus waktu itu. Bersamaan dengan itu, Habib Muhammad al-Muhdlor menghadiahkan sebuah jam kantong merk Sima kepadanya. Kebahagiaan semakin bertambah ketika Habib Muhammad al-Muhdlor mengusap-usap kepala dan dadanya sambil terus mendo’akannya.
Dalam waktu bersamaan, Habib Agil bin Ahmad bin Agil (pengurus madrasah) memberitahukan bahwa Habib Muhammad pada tahun itu akan diangkat menjadi guru di Madrasah Al-Khoiriyah, tempatnya belajar selama ini. Disamping mengajar pagi dan sore di Madrasah Al-Khoiriyah, Habib Muhammad juga banyak memberikan ceramah agama di berbagai tempat. Ia juga rajin menerjemahkan ceramah-ceramah para mubaligh Islam yang datang dari luar negeri, seperti Syeikh Abdul Alim ash-Shiddiqi dari India, dsb.
Adapun guru-gurunya yang lain di Madrasah Khairiyah adalah Habib Husein bin Ali Ba’abud, Habib Ali bin Ahmad Babgey, Syekh Abdullah bin Muhammad Ba-Mazru, Sayid Abdurrahman Binahsan bin Syihab, Habib Hasan bin Abdullah Al-Kaf, Sayid Jafar bin Zeid Aidid dan lain-lain.
Pada tahun 1348 H, tepatnya Kamis sore 22 Robi’utsani, ayahanda beliau menikahkannya dengan Syarifah Aisyah binti Sayid Husein bin Muhammad Bilfaqih. Bertindak sebagai wali nikah adalah saudara kandung istrinya, Saiyid Syeikh bin Husein Bilfaqih yang telah mewakilkan aqad kepada Qodli Arab di Surabaya masa itu, yaitu Habib Ahmad bin Hasan bin Smith. Walimatul ursy di rumah istrinya, Nyamplungan Gg IV Surabaya.
Pernikahannya dengan Syarifah Aisyah mengaruniainya enam putra dan delapan putri. Mereka adalah Syifa’, Muznah, Ali, Khodijah, Sidah, Hasyim, Fathimah, Abdulloh, Abdurrahman, Alwi, Maryam, Alwiyah, Nur dan Ibrahim.
Pada bulan Jumadil Akhir 1359 H bertepatan dengan Juli 1940, Habib Muhammad beserta keluarganya pindah ke Lawang, Malang. Di kota kecamatan inilah beliau mendirikan madrasah dan pondok pesantren Darun Nasyiien, yang pembukaan resminya jatuh pada bulan Rojab 1359 H (5 Agustus 1940 M). Pembukaan pondok pertama kali itupun mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat dan ulama tanah Jawa. Bahkan sebagian sengaja datang dari luar Jawa.
Setelah beberapa bulan setelah tinggal di Lawang, ayahanda dari Surabaya (Habib Husein) turut pindah ke Lawang dan tinggal bersamanya. Ketika penjajah Jepang datang, Habib Muhammad sempat berpindah-pindah tinggal. Mulai dari Karangploso, Simping, hingga Bambangan, yang kesemuanya masih di sekitar Lawang.
Kegiatan mengajarnya juga sempat berhenti sekitar 17 hari, karena Jepang pada waktu itu memerintahkan untuk menutup seluruh madrasah dan sekolah di seluruh daerah jajahannya. Ketika Belanda datang kembali untuk menjajah yang kedua kalinya, terpaksa madrasah ditutup lagi selama tiga bulan, mengingat keamanan yang dirasa membahayakan pada waktu itu.
Barulah sejak 1 April 1951, Habib Muhammad sekeluarga kembali ke Jl. Pandowo sampai akhir hayatnya. Tepatnya di rumah nomor 20, yang di belakangnya terdapat pondok pesantren, beserta kamar-kamar santri, musholla Baitur Rohmah dan ruang-ruang kelas yang cukup baik. Saat itu yang dipercaya sebagai panitia pembangunan sekaligus arsitekturnya adalah putra sulung beliau, Habib Ali bin Muhammad Ba’abud.
Banyak orang shalih yang telah berkunjung ke rumah dan Pondok Darun Nasyiien, diantara mereka adalah Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, Habib Salim bin Ahmad bin Jindan (Jakarta), Habib Zein bin Abdillah bin Muhsin Alattas (Bogor), Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul), Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi (Solo), Habib Alwi bin Abdillah Al-Habsyi (Kalimantan), Habib Husein bin Abdillah Al-Hamid (Tuban), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Probolinggo), Habib Abdullah bin Umar Alaydrus (Surabaya), Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (Jeddah), Habib Salim bin Abdillah Assyathiri (Tarim), Sayid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki (Mekkah) dan masih banyak lagi habaib serta ulama dari berbagai daerah untuk bersilaturahim.
Habib Muhammad berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu pukul 10.20 tanggal 18 Dzulhijjah 1413 h, bertepatan dengan 9 Juni 1993. Jenazah almarhum diantar oleh banyak orang ke pemakaman Bambangan, Lawang dan dimakamkan berdampingan dengan sang ayahanda dan kakak beliau. Rohimahullohu rohmatal abror. Wa askannahul jannata darul qoror. Tajri min tahtihal anhar. Aamiin ya Allohu ya Ghofuru ya Ghoffar.

DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 19:39 0 KOMENTAR
BA'ALAWI
Risalah kecil ini adalah usaha seorang insan kerdil untuk memberi sedikit maklumat mengenai Ba 'Alawi.lni ialah kerana ramai keturunan Ba 'Alawi dewasa ini yang mempunyai sedikit sekali, malah ada yang langsung tiada mempunyai pengetahuan, mengenai asal usul mereka. Saya amat berharap bahawa risalah yang cetek ini dapat menyingkap serba sedikit tentang asal usul Ba 'Alawi, serta menaruh harapan agar ia dapat mencetuskan minat lalu mendorong golongan Sadah daripada keturunan Ba 'Alawi untuk mengenali susur galur mereka secara lebih dekat lagi. Alangkah baiknya kalau risalah inidapat disebar luas bagi menemui seramai keturunan Alawi yang mungkin. Semoga usaha ini diberkati Allah swt Jaafar bin Abu Bakar AI 'Aydarus. Ba 'Alawi - Siapakah Mereka ? Ba'Alawi ialah gelaran yang diberi kepada mereka yang bersusur-galur daripada Alawi bin Ubaidullah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir Ahmad bin Isa Al-Muhajir, telah meninggalkan Basrah di Iraq bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah ke Hadhramaut di Yaman Selatan. Cucu Ahmad bin Isa yang bernama Alawi, merupakan orang pertama yang dilahirkan di Hadralmaut. Oleh itu anak-cucu Alawi digelar Ba 'Alawi, yang bermakna Keturunan Alawi. Panggilan Ba 'Alawi juga ialah bertujuan memisahkan kumpulan keluarga ini daripada cabang-cabang keluarga yang lain yang berketurunan daripada Nabi Muhammad s.a.w. Ba 'Alawi juga dikenali dengan kata-nama Saiyid (Sadah bagi bilangan lebih daripada seorang). Keluarga yang bermula di Hadhramaut ini, telah berkembang dan membiak, dan pada hari ini ramai di antara mereka menetap disegenap pelusuk Nusantara, India dan Afrika. Ahmad bin Isa Al-Muhajir Ilallah Dalam abad ke-10 Masehi, keadaan huru-hara mula menyelubungi dan menggugat empayar Abbasiyah yang berpusat di Iraq itu. Kerajaan tersebut kian bergolak menuju keambang keruntuhan. Kewibawaan Abbasiyah semakin terancam dengan berlakunya pemberontakan demi pemberontakan dan ini menjejaskan ketenteraman awam. Keadaan sebegini telah membawa padah kepada keturunan Nabi Muhammad s.a.w yang dikenali dengan gelaran Sadah itu. Pada umumnya ummt Islam menghormati serta menaruh perasaan kasih sayang terhadap Sadah. lni bukan semata-mata kerana mereka ini keturunan Nabi Muhammad s.a.w, tetapi juga kerana mereka melambang pekerti yang luhur, keilmuan yang tinggi dan wara' . Kedudukan yang istimewa dimata umat Islam ini telah menimbulkan perasaan cemburu dan syak wasangka terhadap Sadah dikalangan pemerintah. Mereka juga khuatir kalau-kalau Sadah akan menggugat dan merebut kuasa daripada kerajaan Abbasiyah. Dengan tercetusnya pemeberontakan demi pemberontakan terhadap pemerintah, kewibawaan Abbasiyah pun menjadi semakin tercabar dan lemah. Keadaan ini juga turut mengancam kedudukan golongan Sadah, kerana mereka sering dikaitkan dengan setiap kekacauan yang tercetus. Dari masa ke masa golongan Sadah menjadi sasaran pemerintah. Ramai diantara mereka yang ditangkap dan dibunuh berdasarkan apa saja alasan .Namun majoriti Sadah bersikap sabar dan menjauhkan diri dari kelompok yang menimbulkan kekacauan. Daripada pengalaman yang lalu golongan tersebut yakin bahawa penglibatan diri di dalam politik akan berakhir dengan kekecewaan. Ahmad bin Isa al-Muhajir meninggalkan Kota Basrah bersama seramai 70 orang, yang terdiri dari ah1i-ah1i keluarga dan pengikut-pengikut beliau. Pada mulanya kumpulan AlMuhajir ini pergi ke Madinatul Munawwarah dan tinggal di sana selama setahun. Pada tahun berikutnya setelah menunaikan fardhu Haji, Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan rombongan meninggalkan Kota Madinah menuju ke Yaman. Mereka singgah di Al Jubail di Lembah Dau'an, kemudian di Al-Hajrain, dan seterusnya menetap di suatu tempat ,yang benama Al Husaisah. Ahmad bin Isa Al Muhajir Ilallah wafat pada tahun 345.H/956 M. Permulaan di Hadhralmaut Ahmad bin Isa rnemilih Hadhramaut untuk berhijrah, rneskipun Hadhramaut rnerupakan suatu kawasan tandus dan kering kontang di Selatan Yaman. Kawasan tersebut pada zaman itu, dikatakan terputus daripada dunia luar. Tentunya banyak persoalan yang timbul tentang mengapa Ahmad bin Isa memilih kawasan sebegini untuk berhijrah. Pada zahimya, pemilihan kawasan tersebut mungkin didorong oleh hasrat beliau untuk hidup di dalam keadaan aman bersama keluarga dan pengikutnya, atau keazaman beliau untuk membina sekelompok masyarakat baru di suatu kawasan baru bersesesuaian dengan kehendak syiar Islam yang didokongi oleh golongan Sadah selama ini. Akan tetapi sebelum sampai ke Hadhramaut Ahmad bin Isa dan rornbongan terlebih dahulu berada di Madinah, tempat yang tenang dan aman lagi sesuai bagi tujuan beribadah dan membina ummah. Namun daripada Madinah beliau dan rombongan bertolak ke Al-Husaisah. Malah di Al-Husaisah Ahmad bin Isa telah pun membeli kebun buah-buahan yang luas. Akan tetapi pada akhirnya beliau memilih Hadhramaut sebagai tempat berhijrah. Sebagai seorang Imam Mujtahid mungkin keputusan yang dibuat beliau itu didorong oleh perkara yang diluar pengetahuan kita, Wallahualam. Penghijrahan Ahmad bin Isa A1 Muhajir ke Hadhramaut bukanlah bermakna berakhirnya ranjau dan rintangan. Di awa1 penghijrahan beliau, Alhmad bin Isa Al-Muhajir, bersua dengan ancaman daripada golongan Mazhab Ibhadiah yang mernpengaruhi kawasan tersebut. Namun setelah gagal untuk mencapai persefahaman dan perdamaian dengan pihak Ibhadiah, Ahmad bin Isa A1-Muhajir terpaksa mengangkat senjata menentang mereka. Berbanding dengan kaum Ibhadiah, bilangan pengikut Ahmad bin Isa Al-Muhajir adalah kecil. Akan tetapi semangat kental dan kecekalan, yang ditunjukkan oleh Al-Muhajir dalam rnenentang kaum Ibhadiah ini telah menarik perhatian dan simpati penduduk-penduduk Jubail dan Wadi Dau'an yang bertindak rnenyokong Al-Muhajir. Dengan sokongan penduduk-penduduk tersebut kaum Ibhadiah dapat di singkirkan dari bumi Hadramaut. Cara hidup yang dianjurkan oleh Ahmad bin Isa Al-Muhajir, iaitu kehidupan harian yang berdasarkan A1 Qur'an dan Sunnah itu, senang -diterima oleh masyarakat ternpatan. Lambat laun cara ini rnenjadi norma hidup di dalam rnasyarakat tempatan. Malah beberapa tokoh terkemuka di kalangan Ba' Alawi yang menjalani hidup sepertimana para sahabat di zaman Rasulullah s.a.w, mempunyai pengaruh yang positif ke atas masyarakat Hadhramaut. Tokoh-tokoh berkenaan lebih dikenali dengan panggilan Salaf. Walaupun persekitaran baru mereka masih tidak sunyi dengan keadaan huru-hara, masyarakat Ba' Alawi masih boleh menjalankan kehidupan yang aman tenteram. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang merupakan cara hidup yang lumrah bagi keturunan Rasulullah s.a.w daripada Hassan dan Hussain. Mereka sentiasa dihormati dan disanjung tinggi di seluruh pelusuk Dunia Islam, lebih-lebih lagi di Hadhramaut. Kehormatan yang diterima ini serba sedikit berpunca daripada amalan golongan Ba 'Alawi yang berjalan tanpa membawa sebarang senjata, sepertimana yang dianjurkan oleh datuk mereka, Ahmad bin Isa Al-Muhajir. Tambahan pula golongan ini dihormati dan disanjung oleh kerana mereka merupakan golongan yang berilmu lagi wara'. Apabila Ahmad bin Isa AI-Muhajir serta rombongan (seramai kurang lebih 70 orang ahli keluarga dan pengikut) meninggalkan Basrah , mereka membawa bersama mereka harta kekayaan yang banyak. Dengan harta ini mereka dapat memperolehi tanah yang luas yang digunakan untuk pertanian. Dan sewajarnyalah yang menjadi kegiatan utama golongan Ba 'Alawi di Hadhramaut ini ialah pertanian. Sementara itu mereka juga bebas untuk beribadah dan membina masyarakat berdasakan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah. Fasa Perkembangan Ba 'Alawi Perasaan golongan Ba' Alawi terhadap kampung halaman mereka di Basrah masih kuat dan menebal, walaupun mereka telah memilih untuk membina penghidupan baru di Hadramaut. Oleh itu tidak hairanlan sekiranya didapati ramai dikalangan Ba 'Alawi yang selalu berulang alik di antara Hadhramaut dan Basrah untuk menziarahi sanak saudara yang masih berada di Basrah. Hubungan diantara Ba 'Alawi dengan Basrah berterusan. Masa kini masih terdapat keturunan saudara AlMuhajir, iaitu Muhammad bin Isa di sekitar Basrah. Salah suatu ciri hidup golongan Ba ' Alawi ialah mereka ingin bebas bergerak dan tidak suka terkongkong di suatu daerah sahaja. Tambahan pula, di tempat seperti Hadhramaut peluang untuk mencari rezeki terlalu terhad. Ini menyebabkan individu mahupun kumpulan Ba 'Alawi sanggup berpindah memulakan hidup ditempat-tempat yang lain seperti Yaman, Syam (Syria), dan Iraq. Tambahan pula Hadhralmaut merupakan tempat yang tidak mempunyai pemerintahan yang stabil, dan oleh itu tidak sunyi daripada tercetusnya perbalahan dan pergaduhan di antara kabilah-kabilah yang menjadi penghuni tetap di kawasan tersebut. Sejarah perkembangan Ba 'Alawi, mengikut pandangan Sayid Ahmad bin Muhammad Assyathiri boleh dibahagikan kepada empat fasa, setiap fasa mempunyai cirinya yang tersendiri. Perkembangan ini adalah bergolak di sekitar beberapa tokoh Ba 'Alawi, serta juga pengalaman jatuh bangunnya mereka dalam menempuhi kehidupan yang sering berubah itu. Namun begitu, golongan Ba 'Alawi masih berpegang teguh kepada keperibadian mereka, dan perkara yang mempegaruhi kecekalan golongan ini ialah istiqamah kepada ajaran AlQur'an dan Sunnah. Fasa perkembangan Ba 'Alawi boleh dihuraikan seperti berikut: Fasa Pertama Fasa ini bermula dengan zaman Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan berakhir dengan Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali, iaitu jangka masa di antara abad ke-3 hingga abad ke-7 Hijrah. Pada zaman tersebut pemimpin dan tokoh-tokoh Ba 'Alawi dikenali dengan gelaran Imam. Tokoh-tokoh pada masa itu digelar dengan panggilan Imam Mujtahid, iaitu mereka yang tidak terikat dengan mana-mana mazhab. Tokoh-tokoh terkemuka pada masa itu ialah keturunan daripada Ubaidullah bin Ahmad bin Isa AlMuhajir, melalui 3 orang putera beliau, iaitu Bashri, Jadid dan Alawi. Namun begitu, keturunan Bashri dan Jadid tidak berhayat panjang. Mereka hanya dapat mempelopori dan mengembangkan penyebaran ilmu hinggalah ke tahun 620an H/1223M. Keturunan Bashri dan Jadid yang terkemuka ialah Imam Salim bin Bashri (wafat pada 604H/1208M) dan Imam Abu Hassan Ali bin Muhammad bin Jadid (wafat pada 620H/1223M). Tradisi pengajian Ilmu, bagaimanapun di teruskan oleh keturunan Alawi, dan yang lebih terkenal di antara mereka ialah Imam Muhammad bin Ali bin Alawi. Beliau lebih dikenali dengan gelaran Sahib Marbat (wafat pada 556H/1161M). Tradisi keilmuan, ^(08) <#08> ini juga diteruskan oleh dua orang putera Sahib Marbat, iaitu Imam Alwi dan Imam A1i, dan oleh putera Imam Ali, iaitu Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali, serta tokoh-tokoh yang datang kemudian daripada mereka. Fasa Ke-Dua Zaman yang dikenali sebagai fasa ke-dua ialah di antara abad ke-7 hingga abad ke-11 Hijrah. Pada zaman tersebut tokoh-tokoh Ba 'Alawi yang terkemuka disebut dengan nama As-Syaikh. Zaman ini bertepatan dengan era Al-Faqih Muqaddam Muhammad hingga ke zaman sebelum Habib Al-Qutub Abdullah bin A1awi Al-Haddad. Di antara ulama-ulama yang terkemuka di zaman ini ialah Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali (wafat pada 653H/1255M), As-Saqqaf (wafat 819H/1416M), Al-Mahdar (wafat 833H/1429M), Al-'Aidarus (wafat 865H/1460M), dan Zain Al-Abidin Al-'Aidarus (l041H/1631M). Pada ketika tersebut bilangan Ba 'Alawi sudah menjadi bertambah ramai dan mereka mulai dikenali dengan nama kabilah masing-masing seperti As-Saqqaf, Al-Mahdar, Al-'Aidarus, Al-Habisyi, Al-Junid, Jamalullail dan banyak lagi. Fasa Ke-Tiga Zaman yang dikenali sebagai fasa ke-tiga ialah di antara abad ke-11 dan abad ke-14 Hijrah. Pada zaman tersebut tokoh-tokoh Ba 'Alawi dikenali dengan panggjlan Al-Habib. Ulama-ulama yang terkemuka pada zaman ini ialah Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad (wafatI132H/1717M), Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi, Habib Hassan bin Salleh Al-Bahr, dan Habib Abdurrrahman Bilfagih (wafat 1163H/1749M) dan beberapa orang tokoh yang lain. Pada masa ini juga keturunan keluarga Ba 'Alawi terus membiak. Keadaan ini membawa kepada migrasi (perpindahan keluar) yang begitu pesat. Pada abad ke-11 dan ke-12 berlaku penghijrahan ke India , Timur Jauh (Far East), Afrika Timur dan Hijjaz, sementara di abad ke-13 berlaku pula penghijrahan ke Asia Tenggara (terutama ke Indonesia dan Malaysia). Kaum Ba' Alawi mewarisi semangat suka merantau. Mereka juga tidak gemar diri mereka terkongkong di suatu kawasan. Namun begitu Ba 'Alawi juga merupakan golongan yang senang menyesuaikan diri dengan penduduk tempatan dimana sahaja mereka merantau. Akan tetapi, seberapa jauhnya mereka daripada Hadhramaut, hubungan erat dengan kampung halaman induk masih dikekalkan. Mereka yang menjalinkan perhubungan melalui perkahwinan dengan penduduk tempatan dan masih menghantarkan anak-anak mereka ke Hadhramaut, terutama ke Tarim, untuk menuntut ilmu secara tradisi yang diasaskan oleh pelopor-pelopor Ba 'Alawi. Perubahan Yang Ketara Pada penghujung fasa ke-tiga didalam Sejarah Ba 'Alawi, perubahan ke arah kemunduran dikalangan Ba 'Alawi di seberang laut dapat dikesan. Walaupun tradisi pulang ke Hadhramaut untuk menziarahi keluarga masih diamalkan, ramai pula di antara mereka yang telah bermastautin di India dan Asia Tenggara, mula menampakkan proses asimilasi dengan masyarakat tempatan, iaitu menerima dan menyerap budaya dan tradisi persekitaran. Sementara golongan Ba 'Alawi pada mulanya menjauhkan diri daripada kegiatan politik melainkan perkara-perkara yang menyentuh kebajikan dan ketenteraman umum, mereka yang terkemudian mula mencebur diri dengan politik. Ada di antara golongan Ba 'Alawi yang mempunyai hubungan rapat dengan raja-raja dan penguasa tempatan, dan telah menggunakan pengaruh mereka. Pernah diceritakan bahawa tokoh- tokoh Al-Mahdar, Al-'Aidarus, Jamalullail dan A1Haddad, mempunyai hubungan yang intim dengan pihak istana, sehinggakan raja-raja. sentiasa merujuk kepada mereka untuk mendapat nasihat. Budi pekerti yang luhur, disiplin diri dan didikan yang menjadi tradisi dikalangan Ba 'Alawi adalah faktor utama meyebabkan mereka dihormati dan disanjungi, sementara ciri peribadi istimewa sebilangan mereka membolehkan mereka diterima sebagai pemimpin masyarakat tempatan. Ada pula dikalangan mereka yang berkahwin dengan ahli keluarga diraja, dan pada akhimya mereka diangkat menjadi raja, contohnya, Syahab di Siak dan Jamalulail di Perlis. Beberapa kesultanan juga diasaskan oleh tokoh- tokoh Ba 'Alawi. Sebagai contoh, Al-'Aidarus menubuhkan kerajaan di Surat (India), dan di Kubu (Kalimantan), Al-Qadri dan Bin Syaikh Abu Bakar di Kepulauan Comoros, A1Qadri di Pontianak (Kalimantan) dan Balfagih di Filipina. Fasa Ke-Empat Zaman yang dikenali dengan Fasa ke-empat ini ialah di antara abad ke-14 Hijrah hinggalah dewasa ini. Perubahan yang bermula dipenghujung Fasa ketiga menjadi semakin ketara di zaman ini. Dalam beberapa aspek hidup, golongan Ba 'Alawi telah menempuh keruntuhan dari segi pegangan moral dan etika yang diasaskan oleh pelopor-pelopor di Hadhramaut dahulu. Zaman ini bertepatan dengan kemunduran Dunia Islam keseluruhannya, akibat dilanda budaya Barat. Golongan muda Ba 'Alawi, terutama mereka yang bennastautin di tanah jajahan Inggeris dan Belanda mula meninggalkan pendidikan tradisional berasaskan Al-Qur'an dan Sunnah, dan memilih pendidikan Barat. Walaupun masih terdapat tokoh-tokoh Ulama Ba 'Alawi dikalangan mereka, namun bilangan mereka adalah terlalu sedikit berbanding dengan masyarakat Ba 'Alawi amnya. Keadaan sedemikian telah menghakiskan status Ba' Alawi keseluruhannya. Ba 'Alawi Masa Kini Keturunan Alawi bin Ubaidullah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir pada masa kini membiak dengan banyaknya. Mereka bemastautin di sebahagian besar pelusuk dunia. Mereka ialah keturunan kelompok-kelompok Ba 'Alawi yang keluar dari Hadhramaut. Mereka dikenali dengan berbagai gelaran seperti Syed atau Saiyid, seperti di Indonesia dan di Malaysia. Mereka juga dikenali dengan nama Habeeb seperti di India, Sidi, Syarif, Tuanku, Engku, Wan dan beberapa panggilan lagi. Namun begitu disebabkan beberapa faktor ramai pula keturunan Ba 'Alawi yang telah kehilangan identiti mereka. Kebanyakkan dari golongan ini menganggap mereka sebagai orang tempatan dengan mengamalkan budaya tempatan dan melupakan budaya datuk nenek mereka. Ramai pula keturunan Ba 'Alawi yang berakar umbi di tempat-tempat yang mereka tinggal kini, sejak datuk nenek mereka berhijrah seawal-awal abad ke-15 Masehi dahulu. Mereka tidak lagi mengenali asal-usul mereka, dan perhubungan mereka dengan negeri Ibunda telah begitu lama terputus. Walaupun ramai ahli keluarga Ba 'Alawi yang telah hilang identiti, namun ramai pula yang masih berpegang teguh dengan asal-usul mereka dan mengambil berat tentang silsilah keluarga. Mereka juga masih menjalin hubungan dengan saudara mara di Hadramaut. Golongan ini terdiri daripada anak cucu mereka yang keluar merantau dalam abad ke-18 dan ke-19. Ramai daripada mereka terutama anak cucu Ba 'Alawi yang berhijrah terkemudian dan tinggal di kawasan-kawasan berhampiran pelabuhan. Mereka masih berpegang teguh dengan beberapa tradisi Ba 'Alawi, dan ada yang masih fasih berbahasa Arab. Oleh itu, sayogianya kita bertemu dengan kelompok keturunan Ba 'Alawi yang masih berpegang dengan tradisi dan amalan datuk nenek mereka, maka kita akan bersua dengan amalan seperti membaca Maulid Diba'ii, Ratib Haddad, Ratib Al 'Attas dan lain-lain lagi. Sepekara yang menggembira dan menggalakkan ialah bahawa mereka daripada golongan ini giat menghidupkan kembali dan mengembang tradisi ini di kalangan keturunan Ba 'Alawi yang sudah jauh terpisah daripada kelompok asal. Ini dilakukan dengan menarik dan menggalakkan mereka menghadiri majlis Ta'lim atau Rohah, sekaligus mengukuhkan silaturrahim diantara mereka. Namun begitu masih ramai lagi daripada keturunan Ba 'Alawi yang hanyut di bawa arus kemodenan dan kejahilan, dan belum lagi terdedah kepada amalan murni Ba 'Alawi. Mereka ini amat perlu mendapat perhatian. Seorang ulama besar yang wafat di Jakarta, iaitu Habib Muhammad bin Abdurrahman Bin Syahab, pemah melahirkan harapan agar generasi-generasi yang datang kemudian dari keturunan 'Alawi akan memegang teguh kepada agama Islam, mejaga pusaka nenek-moyang, dan jangan sampai tenggelam kedalam peradaban Barat. Marilah kita sama-sama berdo'a agar Allah s.w.t memberi taufik dan hidayah semoga mereka yang terpisah ini akan jua balik ke pangkal jalan mengenali diri dan asa1 usul mereka, serta menghargai warisan mereka yang sebenarnya. Sesuai dengan hadith Rasulullah s.a.w mengenai pentingnya mempelajari tentang nasab, kita menaruh harapan yang mereka juga akan mengambil berat tentang nasab masing-masing.
0PENERANGAN
PENERANGAN 01 1. Ahmad bin Isa bin Muharnmad An-Naqib bin Ali 'Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Hussain bin Ali dan Saiyidatina Fatimah Azzaharah binti Saiyidina Muhammad saw. Kembali ke pembacaan
PENERANGAN 02 2. Ba 'Alawi juga dikenali dengan nama Bani Alawi. Kembali ke pembacaan
PENERANGAN 03 3. Al-Husaisah terletak diantara Saiwon dan Tarim tetapi dewasa ini tempat tersebut telah tertimbus dibawah timbunan padang pasir. Kembali ke pembacaan
PENERANGAN 04 4. Ibhadiah adalah pecahan daripada golongan kaum Khawarij di bawah pimpinan Abdullah bin Ibhad. Kumpulan ini telah beberapakali memberontak menentang Khalifah Umayyah. Pemberontakan yang terkenal ialah pemberontakan yang diketuai oleh Abdullah bin Yahaya pada tahun 129 Hijrah. Kaum Ibhadiah seterusnya meluaskan pengaruh mereka ke Oman, Yaman dan Hadhramaut. Kembali ke pembacaan
PENERANGAN 05 5. Panggilan Salaf, pada umumnya, adalah ditujukan kepada mereka yang hidup di dalam abad pertama hingga ke-3 Hijrah, atau lebih tepat lagi ditujukan kepada para sahabat Nabi saw., Tabi'in dan Tabi'it-tabiin. Walau bagaimana pun para ulama Hadhralmaut menggunakan panggilan Salaf ke atas ulama-ulama terawal mereka yang soleh. Kembali ke pembacaan
PENERANGAN 06 6. Sirah As-Salaf Min Bani 'Alawiy Al-Husainiyin, dicetak oleh Alam Ma'rifah, Jeddah 1405 Hijrah.
PENERANGAN 07 7. Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali ialah personaliti Sadah yang menumpukan khusus kepada ilmu Tasauf di dalam abad ke-13 Masehi. Beliaulah yang bertanggung- jawab mewajibkan golongan Sadah meninggalkan senjata dan memberi tumpuan sepenuhnya kepada agama dan akhlak. Setelah itu ciri utama yang mempengaruhi pemikiran dan cara hidup golongan Sadah ini ialah Ilmu Tasawuf. Penulis-penulis dari golongan Sadah banyak menumpukan karya mereka dalam bentuk puisi. sama ada berbentuk agama mahupun sekular, dan juga kepada sejarah keturunan (silsilah) - Wadi Hadhramaut and The Walled City of Shibam, karya Ronald Lewcock, dan dipetik daripada cetakan UNESCO 1986.
PENERANGAN 08 8. Dalam jangka masa inilah Ba 'Alawi menerima Mazhab Syafi'ie sebagai anutan dan merekalah yang seterusnya bertanggung-jawab menyebarkan ajaran Imam Syafi'ie ke negeri-negeri di pesisiran pantai Lautan Hindi.
PENERANGAN 09 9. Abdurrahman As-Saqqaf bin Muhammad Mawla Dawilah, yang lebih dikenali dengan gelaran As-Saqqaf (bermakna atap) oleh kerana keilmuan agama beliau begitu mendalam sehingga apabila dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain, 'alimnya umpama atap dengan lantai. As-Saqqaf adalah seorang hartawan akan tetapi kekayaan beliau tidak menghalang dirinya menjadi seorang yang wara'. Beliau membelanjakan sebahagian besar hartanya untuk tujuan agama. Beliau membina 10 buah masjid dan telah memperuntukkan waqaf bagi membiayai perjalanan masjid tesebut.
PENERANGAN 10 10. Umar Al-Mahdar bin Abdurrahman As-Saqqaf, ialah seorang ulama yang terkenal dengan sifat dermawan beliau. Rumah beliau sentiasa dipenuhi dengan tetamu-tetamu yang berkunjung untuk bertanya mengenai hal agama ataupun hal duniawi. Beliau juga dikenali sebagai seorang yang menanggung sara hidup beberapa keluarga yang susah. Beliau membina tiga buah masjid.
PENERANGAN 11 11. Abdullah bin Abi Bakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Saqqaf masyhur dengan gelaran Al-'Aidarus. Beliau baru menjangkau usia 10 tahun apabila ayah beliau meninggal dunia. Oleh itu beliau dipelihara oleh paman beliau iaituAl-Mahdar yang sekali gus menjadi guru beliau. Abdullah dididik oleh paman beliau didalam ilinu Syariat, Tasawuf dan Bahasa Arab. Semasa wafatnya Al-Mahdar Al-'Aidarus baru berusia 25 tahun. Jemaah Ba' Alawi sebulat suara bersetuju untuk melantik Imam Muhammad bin Hassan Jamalullail sebagai naqib baru menggantikan Al-Mahdar , akan tetapi Imam Muhammad Jamalullail menolak. Sebaliknya Imam Muhammad meminta Al' Aidarus dilantik sebagai naqib. Abdullah Al-'Aidarus adalah seorang ulama' berkaliber tinggi. Beliau bertanggungjawab menyebar luas ilmu dan dakwah, tekun mengisi waktu beliau dengan ibadah. Beliau juga menyalurkan hartanya untuk kepentingan umum. Di dalam buku Almasyra' Arrawiyfi Manaqib Assadah Al-kiram Bani Alawiy,beliau disebutkan bahawa, " dalam kedermawanannya bagaikan seorang amir, namun dalam da1am tawaddu' bagaikan seorang fakir ". Beliau sangat senang menampakkan nikmat Allah ke atas dirinya dengan mengenakan pakaian indah, kenderaan rang megah dan rumah kediaman yang mewah.
PENERANGAN 12 12. Ali Zain Al-Abidin bin Abdullah bin Syeikh Al-'Aidarus adalah seorang Imam yang terkenal dalam berbagai ilmu. Guru utamanya ialah ayahnya sendiri. Beliau bertindak sebagai murid dan pelayan ayahnya, dan tidak pernah berpisah dengan ayahnya selama ayahnya rnasih hidup. Setelah ayahnya wafat, Zain Al-Abidin menggantikan ayahnya sebagai naqjb. Beljau mencurahkan sepenuh tenaga dan pemikiran untuk kepentingan umum dan Ba 'Alawi khususnya. Beliau dihormati oleh Sultan-sultan di Yaman, dan dalam menjalankan urusan pentadbiran, mereka merujuk kepada beliau sebelum membuat apa-apa keputusan. Ini menyebabkan Zain Al-Abidin mempunyai ramai musuh. Akan tetapi kebijaksanaan beliau dalam mengendalikan musuh-musuh tersebut dapat menawan hatI mereka, yang pada akhirnya musuh bertukar menjadi sahabat. Selain daripada mempunyai pengetahuan dan kewibawaan yang tinggi di dalam ilmu Syari'at, Tasawuf dan Bahasa Arab, beliau juga mempunyai pengetahuan dan kemahiran yang mendalam dalam bidang pertanian yang diajarkan kepada ramai. Diakhir hayatnya, beliau juga terkenal sebagai seorang tabib yang berwibawa.
PENERANGAN 13 13. Dalam tahun 1930-an adalah dianggarkan bahawa sekurang-kurangnya 13,000 orang daripada keturunan Ba 'Alawi berada di Hyderabad, India. Ramai di antara mereka menjadi anggota dan pegawai tentera Nizam Hyderabad (Nizam's Arabian Regiment). Sumber dipetik daripada buku "Hadramaut -Some of Its Mysteries Unveiled oleh D. Van Der Meulen dan H. Von Wissmann.
PENERANGAN 14 14. Muhanunad bin Ahmad As-Syathiri, didalam buku beliau, Sirah As-Salaf Min Bani Alawiy AI- Hussainiyin, untuk membuktikan perkara ini, telah meriwayatkan bahawa Sultan Badr bin Thuwairiq pernah menzahirkan hasrat baginda untuk turun daripada takhta dan menyerahkan kuasa dan pemerintahan kepada Al-lmam Hussain bin Syaikh Abu Bakar bin Salim (wafat lO44H/1635M). Akan tetapi Imam Hussain secara bijaksana menolak dan meyakinkan baginda supaya terus memerintah, serta berjanji memberi segala bantuan dan nasihat kepada baginda.
PENERANGAN 15 15. Lihat Soal Jawab Agama Islam oleh Prof Dr. Hamka. penerbitan Pustaka Melayu Baru, Kuala Lumpur. 1978. m.s 58
PENERANGAN 16 16. Dari Abu Hurairah r.a .katanya bersabda Rasulullah s.a.w : "Pelajarilah olehmu tentang nasab-nasab kamu agar dapat terjalin dengannya tali persaudaraan kamu. Sesungguhnya menjalin tali persaudaraan itu akan membawa kecintaan terhadap keluarga, menambah harta, dan memanjangkan umur". Diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya. Tarmizi dan Al-Hakim.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 19:34 0 KOMENTAR
Al Imam Muhammad bin Ali Shahib Al Hauthoh
Yang pertama kali mendapat gelar Aidid ialah waliyyullah Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Faqih bin Abdurrahman bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbat bin Ali Kholi Qasam…………Rasulullah Muhammad SAW.
Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh ini adalah generasi ke 23 dari Rasulullah SAW.
Gelar yang disandangnya karena beliau adalah orang yang pertama tinggal dilembah Aidid yang tidak berpenduduk disebut “ Wadi Aidid “, yaitu lembah yang terletak di daerah pegunungan sebelah barat daya kota Tarim, Hadramaut (Yaman) dan mendirikan sebuah Masjid untuk tempat beribadah dan beruzlah (mengasingkan diri) dari keramaian.
Penduduk disekitar lembah tersebut mengangkat Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh sebagai Penguasa Lembah Aidid dengan gelar Muhammad Maula Aidid . Maula berarti Penguasa.
Al-Imam Muhammad Maula Aidid pernah ditanya oleh beberapa orang “Wahai Imam mengapa engkau mendirikan sebuah Masjid yang juga dipakai untuk shalat Jum’at, sedangkan di lembah ini tak ada penghuninya ? “. Lalu beliau menjawab “ nanti akan datang suatu zaman dimana zaman tersebut banyak sekali Umat yang datang kelembah ini, datang dan bertabaruk.
Alhabib Umar bin Muhammad Bin Hafidz pada kesempatan ziarah di Zambal, menceritakan ucapan Al-Imam Muhammad Maula Aidid tersebut dihadapan murid-muridnya, kemudian ia berkata didepan maqam Al-Imam Muhammad Maula Aidid “ Wahai Imam kami, semua yang hadir dihadapanmu ini menjadi saksi akan ucapanmu ini “.
Al-Imam Muhammad Maula Aidid dilahirkan di kota Tarim sekitar tahun 754 Hijriyyah, istrinya bernama Syarifah binti Hasan bin Alfaqih Ahmad seorang yang sholehah dan zuhud. Dikarunia 6 orang anak lelaki, yaitu Ahmad Al-Akbar, Abdurahman, Abdullah, Ali, Alwi dan Alfaqih Ahmad. Dari keenam orang anaknya hanya tiga orang yang melanjutkan keturunannya, yaitu Abdullah, Abdurrahman dan Ali.
Abdullah dan Abdurrahman mendapat gelar Bafaqih yang kemudian menjadi leluhur “Bafaqih”. Diberi gelar Bafaqih karena Beliau alim dalam ilmu fiqih sebagaimana ayahnya dikenal masyarakat sebagai seorang ahli ilmu fiqih. Sedangkan anaknya yang lain yang bernama Ali gelarnya tetap Aidid yang kemudian menjadi leluhur “ Aidid “.
Al-Imam Muhammad Maula Aidid mempunyai enam 6 orang, yaitu :
1. Ahmad Al-Akbar, keturunannya terputus, beliau sangat mencintai ilmu pengetahuan, mendalami ilmu pengobatan dan ilmu analisis. Lahir dan wafat di Tarim. Wafat tahun 862 H. bersamaan tahun wafat dengan ayahnya.
2. Abdurrahman Bafaqih, mempunyai 5 orang anak lelaki, 3 diantaranya meneruskan keturunannya, yaitu :
Ahmad
Zein
Atthayib
Abdurrahman Bafaqih wafat di Tarim tahun 884 H.
3. Abdullah Al-A’yan An-Nassakh Bafaqih mempunyai tiga orang anak lelaki :
Alwi (tidak punya keturunan)
Husein (keturunan di Qamar), mempunyai seorang anak yang bernama Sulaiman yang lahir di Tarim dan wafat di Al-Mahoo tahun 1009 H. Sulaiman ini mempunyai anak Husin, Husin mempunyai anak Abubakar. Al-Habib Abubakar ini menjadi Sultan di kepulauan Komoro di Afrika Utara.
Ahmad, mempunyai dua orang anak lelak
a. Sulaiman
b. Ali, mempunyai dua orang anak lelaki :
- Abdurrahman
- Muhammad, lahir di Tarim Kemudian Hijrah dan menetap di Kenur (India), kemudian pindah ke Heiderabat (India)
dan wafat disana. Al-Habib Muhammad mempunyai 7 orang anak :
- Ahmad (tidak diketahui)
- Umar, wafat di India.
- Abdullah, wafat di Khuraibah.
- Husin Lahir dan wafat di tarim tahun 1040 H.
- Abubakar lahir di Tarim dan wafat di Qoidon tahun 1053 H.
- Ali wafat di Khuraibah.
Abdullah Bafaqih wafat selang beberapa tahun wafatnya Abdurrahman Bafaqih dalam perjalanan dari kota Makah Al-Mukarramah ke kota Madinah Al-Munawwarah yang dimakamkan disekitar antara kedua kota suci tersebut.
4. Ali Aidid wafat tahun 919 H, mempunyai tiga orang anak lelaki :
Muhammad Al-Mahjub, wafat tahun 973 H.
Abdullah.
Abdurrahman wafat tahun 976 H.
5. Alwi Bafaqih, keturunannya terputus pada generasi ke 7 tahun 1123 H.
6. Alfaqih Ahmad (tidak punya keturunan)
Waliyullah Muhammad Maula Aidid seorang Imam besar pada zamannya dan hafal Al-Qur’an sejak usia muda. Guru-Guru beliau :
1. Syech Muhammad bin Hakam Baqusyair, di Qasam
2. Al-Faqih Abdullah bin Fadhal Bolohaj
3. Al-Muqaddam Al-Tsani Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula Dawilah. Beliau belajar kepadanya 20 tahun.
4. Al-Imam Muhammad bin Hasan Jamalullail
5. Syekh Abdurrahman bin Muhammad Al-Khatib
6. Anak-anak dari Al-Imam Abdurrahman Assegaf
7. Al-Imam Muhammad Maula Dawilah (berdasarkan kitab Al-Ghurror)
Murid-muridnya :
1. Abdullah Alaydrus bin Abubakar Assakran
2. Ali bin Abubakar Assakran
3. Muhammad bin Ahmad Bafadhaj
4. Muhammad bin Ahmad Bajarash
5. Umar bin Abdurrahman Shahib Al-Hamra
6. Muhammad bin Ali bin Alwi Al-Khirid (Shahib kitab Al-Ghurror)
7. Anak-anaknya.
Dalam Kitab Al-Ghurror halaman 358 Diceritakan oleh Alfaqih Ali bin Abdurahman Al-Khatib :
Aku bermaksud mendatangi Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid dari rumahnya ke Wadi, tidak aku temukan beliau disana. Maka ketika aku tengah berada di Wadi tersebut, tiba-tiba aku mendengar suara gemericik air di selah bukit, padahal tidak ada awan mendung ataupun hujan. Maka aku berniat mendekat untuk menjawab rasa penasaranku terhadap bunyi tadi yang datangnya dari Wadi. Seketika aku melihat Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid sedang duduk dan air yang muncrat dari celah-celah bukit mendatanginya. Lalu Muhammad bin Ali Shohib Aidid menyuruh untuk aku duduk. Lalu aku mengambil tempat untuk minum air tersebut. Setelah itu aku mandi dan berwudlu . Selesai itu kami berdua meninggalkan Wadi . Setelah sampai dirumah , keluargaku bertanya : “ Siapa yang telah menggosokkan Ja’faron ditubuhmu ? “. Aku menjawab tidak ada yang menggosokkan Ja’faron ketubuhku. Keluargaku berkata : “Ja’faron itu tercium dari badan dan bajumu !”. Maka aku menjawab beberapa saat yang lalu aku mandi dan mencuci bajuku bersama Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid. Saat itu juga aku bersihkan harum ja’faron itu dengan air dan tanah, tetapi harumnya tidak bisa hilang hingga waktu yang lama.
Dalam Kisah Al-Masra Al-Rawi Jilid I hal 399 diceritakan
Bahwa Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid banyak membaca Al-Qur’an disetiap waktu terutama surat Al-Ikhlas. Beliau adalah orang yang zuhud . Beliau memandang dunia hanya sebagai bayangan yang cepat berlalu. Banyak fakir miskin dan tamu yang datang kepadanya dengan berbagai keperluan, dan beliau selalu memenuhinya. Ahklaknya lebih lembut dari tiupan angin. Beliau dikuburkan di pemakaman Jambal disisi kakeknya Muhammad bin Abdurrahman bin Alwi.
Menurut kisah Syarh al-Ainiyah hal.206
Tertulis bahwa Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid mendawamkan bacaan surat Al-ikhlas antara shalat Maghrib dan Isya sebanyak 3000 kali.
Waliyyullah Muhammad Maula Aidid wafat di kota Tarim pada tahun 862 Hijriyyah. Dimakamkan di Pemakaman Jambal disisi kakeknya Muhammad bin Abdurrahman bin Alwi.
Ayah beliau Ali Shahib Al-Hauthoh, wafat tahun 830 Hijriyyah Gelar Shahib Al-Hauthoh yang disandangnya karena beliau tinggal di Hauthoh yang terletak sebelah barat kota Tarim, Hadramaut.
Diantara silsilah yang melalui Al-Imam Abdurrahman bin Alwi (Ammil Faqih) antara lain :
1. Bin Semith 5.Al-Qoroh 9.Al-Hudaili
2. Baabud Magfun 6.Aidid 10.Basuroh
3. Ba Hasyim 7.Al-Haddad 11.Bafaqih
4. Al-Baiti 8.Bafaraj 12.BinThahir
Penyusun : Alwi Husein Aidid.
Sumber dari : Habib Idrus Alwi Almasyhur, Habib Alwi Almasyhur dan Habib Zein Alwi bin Taufik Aidid.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 19:32 0 KOMENTAR
Al-Habib Ali Bin Ahmad Bin Zein Aidid
Disebelah utara Jakarta terdapat gugusan kepulauan yang terdiri dari 108 pulau kecil, disebut Kepulauan Seribu. Satu diantaranya adalah Pulau Panggang, sekitar 60 km disebelah utara kota Jakarta. Pulau seluas 0,9 hektare itu bisa dicapai dalam waktu kurang lebih tiga jam dengan perahu motor dari pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.
Disanalah Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid, yang juga dikenal sebagai Wali keramat Pulua Panggang. Ia adalah ulama dan muballigh asal Hadramaut yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulang Panggang dan sekitarnya. Pada abad ke-18 ia bertandang ke Jawa untuk berda’wah bersama dengan empat kawannya :
1. Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-athas, Kramat Empang Bogor.
2. Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Bondowoso, Surabaya.
3. Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Ampel, Surabaya.
4. Al-Habib Salim Al-Athas, Malaysia.
Al-Maghfurlah Habib Ali ke Batavia, sementara keempat kawannya masing-masing menyebar ke kota-kota dan negeri diatas. Al-Maghfurlah berda’wah dari Pulau Seribu sampai dengan Wilayah Pulau Sumatera yaitu Palembang.
Di Batavia , Almaghfurlah Habib Ali bermukim di Kebon Jeruk dan menikah dengan Syarifah setempat, Syarifah Zahroh binti Syarif Muchsin bin Ja’far Al-Habsyi. Dari Perkawinannya itu dikaruniai seorang putera bernama Hasyim bin Ali Aidid.
Suata hari Almaghfurlah mendengar kabar, disebelah utara Jakarta ada sebuah pulau yang rawan perampokan dan jauh dari da’wah Islam, yaitu Pulau Panggang. Beberapa waktu kemudian ia memutuskan untuk mengunjungi pulau tersebut. Ketika Al-Maghfurlah sampai di Pasar Ikan hendak menyeberang ternyata tidak ada perahu. Maka ia pun bertafakur dan berdo’a kepada Allah SWT, tak lama kemudian muncullah kurang lebih seribu ekor ikan lumba-lumba menghampirinya. Ia lalu menggelar sajadah di atas punggung lumba-lumba tersebut, kemudian ikan lumba-lumba mengiring beliau menuju Pulang Panggang. Demikianlah salah satu karomah Almaghfurlah Habib Ali, menurut cerita dari Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-athas kepada salah satu muridnya Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir Alhaddad bahwa setiap Habib Ali hendak berda’wah beliau berdiri ditepi pantai Pasar Ikan dengan mengangkat tangan sambil bermunajat kepada Allah SWT, maka datang ikan lumba-lumba kurang lebih seribu ekor mengiring beliau disamping kanan, kiri, depan, belakang beliau dan mengantar sampai ketempat tujuan untuk berda’wah.
Sosoknya sangat sederhana, cinta kebersamaan, mencintai fakir miskin dan anak yatim. Bisa dimaklumi jika da’wahnya mudah diterima oleh warga Pulau Panggang dan sekitarnya. Ia mengajar dan berda’wah sampai kepelosok pulau. Bahkan sampai ke Palembang, Singapura dan Malaka.
Karomah lainnya, suatu malam, usai berda’wah di Keramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, ia pulang ke Pulau Panggang. Di tengah laut, perahunya dihadang gerombolan perompak. Tapi, dengan tenang Almaghfurlah Habib Ali melemparkan sepotong kayu kecil ke tengah laut. Ajaib, kayu itu berubah menjadi karang, dan perahu-perahu perompak itu tersangkut di karang. Maka, berkat pertolongan Allah SWT itu, Almaghfurlah Habib Ali dan rombongan selamat sampai di rumahnya di Pulau Panggang.
Suatu hari, warga Pulau Panggang diangkut ke Batavia dengan sebuah kapal Belanda, konon untuk dieksekusi. Beberapa perahu kecil berisi penduduk ditarik dengan rantai besi ke arah kapal Belanda yang membuang sauh jauh dari pantai. Mendengar kabar itu, Almaghfurlah Habib Ali menangis, lantas berdo’a agar seluruh penduduk Pulau Panggang diselamatkan . Do’anya dikabulkan oleh Allah SWT. Rantai besi yang digunakan untuk menarik perahu berisi penduduk itu tiba-tiba putus, sehingga Belanda urung membawa penduduk ke Batavia.
Suatu malam, ia mendapat isyarat sebentar lagi ia akan wafat. Ketika itu sebenarnya ia ingin ke Palembang, namun dibatalkan. Dan kepada santrinya ia menyatakan, “ saya tidak jadi ke Palembang.” Benar apa yang ia katakan, keesokan harinya, 20 Zulkaidah 1312 H./1892 M. ia wafat, dan dimakamkan di sebuah kawasan di ujung timur Pulau Panggang.
Sesungguhnya, Jenazah almarhum akan dibawa ke Batavia untuk diketemukan Istri dan anaknya serta dimakamkan disana. Namun, ketika jenazah sudah berada di atas perahu yang sudah berlayar beberapa saat, tiba-tiba tiang layar perahu patah dan perahu terbawa arus kembali ke Pulau Panggang. Hal ini terjadi berturut-turut sampai tiga kali. Akhirnya, penduduk kampung memaknai peristiwa itu sebagai kehendak almarhum di makamkan di Pulau tersebut. Keesokan harinya setelah Almaghfurlah Habib Ali dimakamkan, beberapa orang dari penduduk Pulau Panggang memberi khabar kepada istrinya Syarifah Zahroh binti Syarif Muchsin bin Ja’far Al-Habsyi, istrinya menjawab “ Yah, saya sudah tahu, Habib Ali tadi telah datang memberi kabar kepada saya tentang meninggalnya dia dan dimakamkan di Pulau Panggang “.
Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid adalah seorang ulama yang langka, yang berani merintis da’wah di kawasan terpencil, dan berhasil. Demikianlah sekilas dari riwayat Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 19:09 0 KOMENTAR
Habib Ali Bungur Gang Bulu
Radio dan pers Indonesia sejak tanggal 16 dan 17 Februari 1976, terus mengumandangkan berita duka cita atas berpulangnya ke Rahmatullah Ulama Besar Indonesia, Habib Ali bin Husen Al-Athas.
Dalam usia 88 tahun, almarhum wafat pada tanggal 16-2-1976 jam 06.10 pagi. Kontan berbagai penerbitan memberitakan headlines, dan beberapa harian antara lain: Merdeka, Berita Buana, Kompas, Pos Kota, Pelita, Kantor Berita ANTARA secara nasional memberikan pemberitaan ditempat terhormat. Sementara itu radio-radio Asy-Syafi’iyyah, At-Tahyriah serta Cendrawasih setiap 15 menit memberikan kabar dukacita ini diselingi pengajian-pengajian Al-Quran.
Kantor Berita Antara mewartakan pada tanggal 16-2-1976, bahwa ribuan pengikut Almarhum yang mendengar berita wafatnya Habib Ali bin Husin mendatangai kediamannya untuk memberikan penghormatan terakhir. Sedangkan upacara penguburan tanggal 17 Februari 1976, di Kramat Jati, Cililitan, ratusan ribu rakyat mengantarkan ulama besat itu ketempat peristirahatannya yang terakhir. Upacara penguburan dipimpin resmi oleh ketua DPR/MPR Dr.Idham Khalid, serta dihadiri oleh puluhan ulama dan pemimpin Rakyat serta pejabat negara dai Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura. Pembacaan talqin menurut harian “Pelita” dibacakan oleh ulama Jawa Tengah, Habib Ali bin Ahmad Al-Attas.
Sedikit tentang Almarhum
Habib Ali bin Husin Al-Attas lebih dikenal sebagai Habib Ali Cikini ini, karena almarhum lama sekali menetap di Cikini dikampung bersama-sama rakyat jelata. Setiap orang yang mengenal Habib Ali Cikini ini, pasti ia akan selalu berkata, hidupnya sederhana, tawadhu’, tidak pernah menyakiti sesama manusia, teguh memegang prinsip, menolak pengkultusan manusia, berani membela kebenaran, luas dalam pemikiran, mendalam dibidang ilmu pengetahuan, tidak membeda-bedakan kaya dan miskin, khushu ibadahnya, mendorong terbentuknya nasion Indonesia yang bersatu dan utuh serta homogeen, tidak segan-segan mengkoreksi pembesar dan selalu memberi petunjuk-petunjuk kepada yang dianggap perlu. Tepat ulassan Radio ‘Asy-Syafiiyah’ yang mengatakan: telah berpulanglah ke Rahmatullah seorang Ulama Besar, seorang Warasatul Anbiayang mempunyai sifat-sifat dan sikap ke-agungan.
Almarhum Habib Ali bin Husin Al-Attas semasa hidupnya tak pernah berhenti memberikan pengajaran kepada Muslimin. Berjubah dan serban serta selempang hijau (radi). Habib Ali Cikini selalu naik beca atau kendaraan umum, karena sikap beliau yang ingin berdiri diatas kaki sendiri. Sering diantara murid-muridnya memaksa beliau untuk menaiki mobilnya karena beca telah sukar dan melihat imir Habib tadi sudah lanjut. Haji Abu Bakar Aceh, anggota MPR, secara tepat menyatakan bahwa Almarhum Habib Ali bin Husin Al-Attas telah memanifescasikan sikap hidup keluarga Ahlel Bait, yakni menunjukkan sikap ke-rakyatan, tidak berlebihan dan dicintai Rakyat semuanya.
Memang setelah kami lihat rumah kediamannya di Bungur, Jakarta, melelehkan air mata saya. Saya melihat jenazah Almarhum sedang dibaringkan dibawah langit-langit (plafond) yang serba bocor. Perabot rumah tangga hanyalah bale-bale dan beberapa permadani yang tergelar untuk tamu para tamu. Seraya mendengarkan pengajian dan pembacaan Al-Qur’an, ribuan Rakyat satu persatu mendatangi Almarhum, membacakan Fatihah, Surat Yasin serta Tahlil. Saya memandang jenazah Almarhum, melihat keadaan sekelilingnya, melihat rumah kecil serta terbayangkanlah kebesaran ulama Islam ini, dimana beliau tidak tertarik pada tarikan-tarikan duniawi tidak terpengaruh oleh semaraknya kebendaan, tidak terseret arusnya kemegahan, karena beliau melanjutkan sikap Imam Ali bin Abi Thalib a.s yang meletakkan dunia ditangan dan bukan meletakkan dihati. Terbayang pada saya betapa hebatnya Habib Ali bin Husin yang tak pernah menadah tangannya pada orang-orang kaya harta, sebab Almarhum adalah kaya hati yang tak mau meletakkan tangannya dibawah, kecuali hanya pada mendoa pada Allah SWT.
Anti Penjajah
Penjajah adalah jahat, kafir dan wajib diperangi, demikian Habib Ali bin Husin Al-Athas selalu menganjurkan pada pengikutnya dalam menghadapi penjajahan Belanda.
Dalam memberikan ulasan-ulasan keagamaan, almarhum selalu mengobarkan semangat anti penjajah dn membawakan ayat-ayat Al-Quran serta hadits Nabi saw. Yang menganjurkan perang melawan penjajahan. Demikian pula seikap terhadap komunis Habib Ali selalu gigih. Disaat kuatnya PKI, beliau selalu bilang bahwa PKI dan Komunis akan lenyap dari bumi Indonesia dan rakyat selalu melawan kekuatan atheis. Ini berkah perjuangan para leluhur, ulama-ulama, dn par wali yang jasadnya bertebaran diseluruh Nusantara” demikian kata-kata almarhum selama hidupnya sebelum pra G30S/PKI. Maka tepatlah kata-kata ketua Organisasi Islam Internasional, KH. Ahmad Syaikhu pada pidato ta’ziah dikediaman almarhum pada tanggal 16 Februari 1972 beliau berkata :
“Habib Ali bin Husen Al-Athas selalu berada bersama-sama kita dan memberikan inspirasi disaat-saat kritis”
Kehilangan Pelita
KH. Dr. Idham Khalid secara resmi atas nama Rakyat Indonesia menyataka dukacita atas wafatnnya Habib Ali bin Husin Al-Athas. Ketua DPR/MPR itu berkata : “Meninggalnya Habib Ali bin Husen Al-Athas bagi umat islam merupakan kehilangan Pelita yang sanggup menerangi kepulauan Nusantara”. Kita telah kehilangan seorang yang besar dan yang berpengetahuan luas. Selama 56 tahun Habib Ali bin Husen tak pernah meninggalkan perjuangannya dan tak pernah menonjol-nonjolkan diri bahwa ia seorang yang pandai. Saya sering kali ditegur akan kesalahan-kesalahan saya dan almarhum memberi jalan keluar serta nasehat-nasehat. “Demikian sambutan ketua DPR/MPR yang mengharapkan agar para murid-murid dari almarhum Habib Ali bin Husin terus melanjutkan dan mengamalkan petunjuk-petunjuk almarhum.
Ulama Besar dari Jawa Timur, Habib Abdullah Bilfagih, menyatakan bahwa almarhum Habib Ali bin Husin adalah pemimipin rohani Islam yang sangat mempunyai wibawa kuat dan secara luas ditaati Muslimin, memperaktekkan azaz-azaz Islam. ,,Ulama Besar dari Mekah, Sayyid Hasan Fad’aq, menulis kepada saya, “demikian Habib Abdullah bilfagih”, dimana dinyatakan bahwa Habib Ali bin Husin Al-Athas adalah Qutub, besar pada zamannya, diseluruh Indonesia. Beliau selalu tekun membaca Al-Qur’an, berani menegur pembesar-pembesar yang mendatanginya dan selalu mengajarkannya agar jurang antara pemimpin rakyat dihilangkan, Rakyat mesti dicintai, dan inilah sebabnya maka Rakyat mencintai Habib Ali bin Husin Al-Athas.”
Ulama Besar Jawa Timur, Habib Muhdar Al-Muhdar, putra dari ulama besar almarhum Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdar dari Bondowoso, Jawa Tinur, yang mempunyai jutaan pengikut, terutama dikalangan Madura berkata:
“Meninggalnya almarhum Habib Ali bin Husin Al-Athas, adalah kehilangan besar bagi Indonesia. Perjuangan almarhum yang berlandaskan kerakyatan, kesederhanaan serta mempraktekkan norma-norma Islam dalam kehidupan sehari-hari selalu menjadi tauladan baik bagi ummat. Almarhum tak pernah muram apabila dihadapkan pada malapetaka, tetapi tawakkal pada Alah SWT. Uang, harta dan kekayaan tak pernah mengiurkan almarhum, itulah sebabnya, mengapa almarhum hidup dalam keadaan lebih daripada sederhana. Almarum disamping merupakan pimpinan rohani Islam adalah juga pemimpin dari jutaan Rakyat. Almarhum selalu menghibur dan menjadikan Rakyat optimis, karena Islam mengajarkan bahwa mahkluk yang paling dicintai Allah SWT, adalah dia yang dicintai Rakyatnya.”
Ulama besar Jawa Timur itu, Habib Muhdar Al-Muhdar selanjutnya menyatakan bahwa mempraktekkan petunjuk-petunjuk Habib Ali bin Husin almarhum adalah membebaskan Rakyat dari penderitaan, dengan Islam mengajak Ummat dari kegelapan pada cahaya nur yang terang dari taraf kemiskinan kepada taraf keadilan dan kemakmuran. Menambah Habib Muhdar Al-muhdar :
“ Habib Ali bin Husin benar-benar mempraktekan sikap seorang Muslim. Beliau sebagai pemimpin Islam hidup lebih dari sederhana atau setengah melarat, tetapi mengajurkan pengikutnya dan Rakyat hidup serba cukup.”
Ulama Muhammadiyah, H Abu bakar Aceh menambahkan:
"Apabila mencintai Habib Ali bin Husin, maka pengikutnya harus melanjutkan perjuangannya. Bagi saya, beliau adalah guru saya, kecintaan saya dan saya banyak sekali berhubungan dengan beliau.”
PERS
Tulis ,,,Antara” (16-2-1976) :
,,Almarhum Habib Ali bin Husin Al-Athas adalah guru dari beberapa lembaga Ilmiah, Majlis Ta’lim dan perguruan-perguruan Agama. Almarhum adalah ahli dalam bidang fiqih, falsafah, tassauuf, dan perbandingan mazhab. Selam hidupnya almarhum telah mengabdikandiri untuk perjuangan agama,bukan saja di Indonesia, tetapi juga di Malaysia dan Singapura. Murid-murid almarhum tersebar dinusantara, a.l. ketua DPR/MPR Dr. Idham Khalid. K.H. Abdullah Syafii, ketua dari perguruan tinggi “Asy-Syafiiyah”, KHS Muhammad Al-Habsy ketua dari Islamic Center Indonesia, K.H. Tohir Rohili ketua dari ,,Attahiriyah”.
Harian ,,Merdeka “pada tanggal 17 feb 1976 menulis :
,,Ulama Besar Indonesia telah berpulang ke Rahmatullah, Habib Ali bin Husin.”
Harian Pelita (18-2-1976) menulis :
,,Sejak senin yang lalu ummat Islam tercekam rasa duka dengan wafatnya seorang Ulama Besar, mahaguru kaum Muslimin Indonesia, Habib Ali bin Huasin Al-Athas.”
Harapan.
Almarhum Habib Ali bin Husin Al-Athas Ulama Besar Indonesia telah berpulang ke Rahmatullah. Beliau telah menunaikan mission-nya, tugasnya, telah mengamalkan dan mewakafkan dirinya untuk perjuangan Islam. Kini kita ditinggalkan, berkewajiban meneruskan perjuangan almarhum, meninggikan Syiar-syiar Islam, meluaskan pengetahuan Islam sebagaimana almarhum juga, sehingga dibidang fiqih almarhum menguasai fiqih-fiqih Syafii, Ja’fari, Maliki, Hanafi dan Hambali. Dengan memperdalam ilmu dan mempraktekan amal. Kita akan berbuat semuanya yang diridhai Allah SWT.
Ummat Islam Indonesia menaruh kepercayaan dan harapan agar cucu dari almarhum Habib Ali bin Husin, yaitu Habib Muhammad bin Husin bin Saleh meneruskan garis perjuangan almarhum. Bersama Ummat Islam Indonesia, maka dipercayakan kepada Habib Muhammad bin Husin Al-Athas tugas yang Mulia melanjutkan kepemimpinan, untuk meninggikan Syiar Islam, yang di-Ridhoi Allah SWT serta diberkahi Rasulullah SAW serta Ahlil-Bait-Nya (As
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 19:06 0 KOMENTAR
Habib Abu Bakar as Segaf
Sebuah perjalanan religius seorang kekasih Allah hingga maqom Shiddiqiyyah Kubro
Beliau adalah Al-Imam al-Quthbul Fard al-Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Umar bin Abu Bakar bin Al-Habib Umar bin Segaf as-Segaf (seorang imam di lembah Al-Ahqof). Garis keturunan beliau yang suci ini terus bersambung kepada ulama dari sesamanya hingga bermuara kepada pemuka orang-orang terdahulu, sekarang dan yang akan datang, seorang kekasih nan mulia Nabi Muhammad S.A.W. Beliau terlahir di kampung Besuki (salah satu wilayah di kawasan Jawa Timur) tahun 1285 H. Ayahanda beliau ra. wafat di kota Gresik, sementara beliau masih berumur kanak-kanak.
Sungguh al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf tumbuh besar dalam asuhan dan penjagaan yang sempurna. Cahaya kebaikan dan kewalian telah tampak dan terpancar dari kerut-kerut wajahnya, sampai-sampai beliau R.a di usianya ke-3 tahun mampu mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada dirinya. Semua itu tak lain karena power (kekuatan) dan kejernihan rohani beliau, serta kesiapannya untuk menerima curahan anugerah dan Fath (pembuka tabir hati) darinya.
Pada tahun 1293 H, atas permintaan nenek beliau yang sholehah Fatimah binti Abdullah (Ibunda ayah beliau), beliau merantau ditemani oleh al-Mukaram Muhammad Bazamul ke Hadramaut meninggalkan tanah kelahirannya Jawa. Di kala al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf akan sampai di kota Sewun, beliau di sambut di perbatasan kota oleh paman sekaligus guru beliau al-Allamah Abdullah bin Umar berikut para kerabat. Dan yang pertama kali dilantunkan oleh sang paman bait qosidah al-Habib al-Arifbillah Syeh bin Umar bin Segaf seorang yang paling alim di kala itu dan menjadi kebanggaan pada jamannya. Dan ketika telah sampai beliau dicium dan dipeluk oleh pamannya. Tak elak menahan kegembiraan atas kedatangan sang keponakan dan melihat raut wajahnya yang memancarkan cahaya kewalian dan kebaikan berderailah air mata kebahagiaan sang paman membasahi pipinya.
Hati para kaum arifin memiliki ketajaman pandang
Mampu melihat apa yang tak kuasa dilihat oleh pemandang.
Sungguh perhatian dan didikan sang paman telah membuahkan hasil yang baik pada diri sang keponakan. Beliau belajar kepada sang paman al-Habib Abdullah bin Umar ilmu fiqh dan tasawuf, sang paman pun suka membangunkannya pada akhir malam ketika beliau masih berusia kanak-kanak guna menunaikan shalat tahajjud bersama-sama, al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mempunyai hubungan yang sangat kuat dalam menimba ilmu dari para ulama dan pemuka kota Hadramaut. Sungguh mereka (para ulama) telah mencurahkan perhatiannya pada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf. Maka beliau ra. Banyak menerima dan memparoleh ijazah dari mereka. Diantara para ulama terkemuka Hadramaut yang mencurahkan perhatiannya kepada beliau, adalah al-Imam al-Arifbillah al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, (seorang guru yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf).
Sungguh Habib Ali telah menaruh perhatiannya kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf semenjak beliau masih berdomisili di Jawa sebelum meninggalkannya menuju Hadramaut.
Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata kepada salah seorang murid seniornya "Perhatikanlah! Mereka bertiga adalah para wali, nama, haliyah, dan maqom (kedudukan) mereka sama. Yang pertama adalah penuntunku nanti di alam barzakh, beliau adalah Quthbul Mala al-Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Aidrus, yang kedua, aku melihatnya ketika engkau masih kecil beliau adalah al-Habib al-Ghoust Abu Bakar bin Abdullah al-Atthos, dan yang ketiga engkau akan melihat sendiri nanti di akhir dari umurmu".
Maka tatkala memasuki tahun terakhir dari umurnya, ia bermimpi melihat Rosulullah SAW sebanyak lima kali berturut-turut selama lima malam, sementara setiap kali dalam mimpi Beliau SAW mengatakan kepadanya (orang yang bermimpi) " Lihatlah di sampingmu, ada cucuku yang sholeh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf"! Sebelumnya orang yang bermimpi tersebut tidak mengenal al-Habib Abu Bakar Assegaf kecuali setelah dikenalkan oleh Baginda Rosul al-Musthofa SAW didalam mimpinya. Lantas ia teringat akan ucapan al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi dimana beliau pernah berkata "Mereka bertiga adalah para wali, nama dan kedudukan mereka sama". Setelah itu ia (orang yang bermimpi) menceritakan mimpinya kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf dan tidak lama kemudian ia meninggal dunia.
Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mendapat perhatian khusus dan pengawasan yang istimewa dari gurunya al Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi sampai-sampai Habib Ali sendiri yang meminangkan beliu dan sekaligus menikahkannya. Selanjutnya (diantara para masyayikhnya) adalah al Allamah al Habib Abdullah bin Umar Assegaf sebagai syaikhut tarbiyah, al Imam al Quthb al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi sebagai syaikhut taslik, juga al Mukasyif al Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Quthban sebagai syaikhul fath. Guru yang terakhir ini sering memberi berita gembira kepada beliau "Engkau adalah pewaris haliyah kakekmu al Habib Umar bin Segaf". Sekian banyak para ulama para wali dan para kaum sholihin Hadramaut baik itu yang berasal dari Sewun, Tarim dan lain-lain yang menjadi guru al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, seperti al Habib Muhammad bin Ali Assegaf, al Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, al Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas, al Habib Abdurrahman al-Masyhur, juga putera beliau al Habib Ali bin Abdurrahman al-Masyhur, dan juga al Habib Syekh bin Idrus al-Idrus dan masih banyak lagi guru beliau yang lainnya.
Pada tahun 1302 H, ditemani oleh al Habib Alwi bin Segaf Assegaf al Habib Abu Bakar Assegaf pulang ketanah kelahirannya (Jawa) tepatnya di kampung Besuki. Selanjutnya pada tahun 1305 H, ketika itu beliau berumur 20 tahun beliau pindah ke kota Gresik sambil terus menimba ilmu dan meminta ijazah dari para ulama yang menjadi sinar penerang negeri pertiwi Indonesia, sebut saja al Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas, al Habib Abdullah bin Ali al-Haddad, al Habib Ahmad bin Abdullah al-Atthas, al Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya, al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi,al Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdlar, dan lain sebagainya.
Kemudian pada tahun 1321 H, tepatnya pada hari jum'at ketika sang khatib berdiri diatas mimbar beliau r.a mendapat ilham dari Allah SWT bergeming dalam hatinya untuk mengasingkan diri dari manusia semuanya. Terbukalah hati beliau untuk melakukannya, seketika setelah bergeming beliau keluar dari masjid jami' menuju rumah kediamannya. Beliau al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ber-uzlah atau khalwat (mengasingkan diri) dari manusia selama lima belas tahun bersimpuh dihadapan Ilahi Rabbi. Dan tatkala tiba saat Allah mengizinkan beliau untuk keluar dari khalwatnya, guru beliau al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi mendatanginya dan memberi isyarat kepada beliau untuk mengakhiri masa khalwatnya, al Habib Muhammad al-Habsyi berkata "selama tiga hari kami bertawajjuh dan memohon kepada Allah agar Abu Bakar bin Muhammad Assegaf keluar dari khalwatnya", lantas beliau menggandeng al Habib Abu Bakar Assegaf dan mengeluarkannya dari khalwatnya. Kemudian masih ditemani al Habib Muhammad al-Habsyi beliau r.a menziarahi al Habib Alawi bin Muhammad Hasyim, sehabis itu meluncur ke kota Surabaya menuju ke kediaman al Habib Abdullah bin Umar Assegaf. Sambil menunjuk kepada al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi memproklamirkan kepada para hadirin "Ini al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf termasuk murtiara berharga dari simpanan keluarga Ba 'Alawi, kami membukanya agar bisa menularkan manfaat bagi seluruh manusia".
Setelah itu beliau membuka majlis ta'lim dirumahnya, beliau menjadi pengayom bagi mereka yang berziarah juga sebagai sentral (tempat rujukan) bagi semua golongan diseluruh penjuru, siapa pun yang mempunyai maksud kepada beliau dengan dasar husnudz dzan niscaya ia akan meraih keinginannya dalam waktu yang relatif singkat. Di rumah beliau sendiri, al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf telah menghatamkan kitab Ihya' Ulumuddin lebih dari 40 kali. Pada setiap kali hatam beliau selalu menghidangkan jamuan yang istimewa. al Habib Abu Bakar Assegaf betul-betul memiliki ghirah (antusias) yang besar dalam menapaki aktivitas dan akhlaq para aslaf (pendahulunya), terbukti dengan dibacanya dalam majlis beliau sejarah dan kitab-kitab buah karya para aslafnya.
Adapun maqom (kedudukan) al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, beliau telah mencapai tingkat Shiddiqiyah Kubro. Hal itu telah diakui dan mendapat legitimasi dari mereka yang hidup sezaman dengan beliau. Berikut ini beberapa komentar dari mereka.
al Imam al Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar berkata,
"Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil. Sungguh al Akh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah mutiara keluarga Segaf yang terus menggelinding (maqomnya) bahkan membumbung tinggi menyusul maqom-maqom para aslafnya".
Al Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad berkata,
"Sesungguhnya al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang Quthb al Ghaust juga sebagai tempat turunnya pandangan (rahmat) Allah SWT".
Al Arif billah al Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi pernah berkata di rumah al Habib Abu Bakar Assegaf dikala beliau membubuhkan tali ukhuwah antara beliau dengan al Habib Abu Bakar Assegaf, pertemuan yang diwarnai dengan derai air mata. Habib Ali berkata kepada para hadirin ketika itu,
"Lihatlah kepada saudaraku fillah Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf. Lihatlah ia..! Maka melihat kepadanya termasuk ibadah"
Al Habib Husein bin Muhammad al-Haddad berkata,
"Sesungguhnya al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah. Beliau adalah penguasa saat ini, belia telah berada pada Maqom as Syuhud yang mampu menyaksikan (mengetahui) hakekat dari segala sesuatu. Beliau berhak untuk dikatakan "Dia hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya (sebagai nikmat)".
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 19:04 0 KOMENTAR
Sayyidina Usamah bin Zed
BERHATI LEMBUT, BERJIWA KSATRIA
Ketika pada tahun ke-tujuh sebelum Hijriyah beliau lahir dari ibu yang bernama Ummu Aiman yang mana si ibu dulunya pernah menjadi pembantu dan pengasuh Rasulullah di masa kecil. Ketika mendengar kabar tersebut betapa bahagianya Rasulullah dengan tampak dalam wajah beliau yang berseri-seri. Hal itu disebabkan oleh dua hal, yang pertama bahwa Ummu Aiman dulunya adalah pengasuh Rasulullah ketika meninggalnya Sayyidah Aminah. Bahkan Rasulullah pernah berkata tentang Ummu Aiman, "Dia adalah ibuku setelah ibuku (Aminah) dan dia termasuk dari keluargaku".
Maka dari itulah Rasullah sangat mencintainya, yang kedua bahwa ayah beliau, Zaid, adalah teman akrab Rasulullah sekaligus tempat tukar pendapat dalam suatu masalah. Begitu pula para sahabat pada waktu itu juga senang dan gembira ketika mendengar kelahiran Usamah bin Zaid seakan-akan tidaklah mereka bergembira seperti pada waktu itu, karena semua yang menyenangkan Rasulullah juga membuat senang kepada para sahabat.
Pada waktu itu Usamah sejajar dengan Hasan bin Ali dari segi umurnya, akan tetapi mereka berdua berbeda dalam bentuk fisiknya, Hasan bin Ali berperawakan putih, tampan seperti kakeknya Rasulullah dan Usamah berkulit hitam menyerupai ibunya yang berasal dari Habasyah. Akan tetapi Rasulullah tidak memandang hal itu semua dan tidak membedakan di antara keduanya dalam membagi kesayangan. Pernah pada suatu hari Rasulullah meletakkan Usamah di pahanya dan Hasan bin Ali di salah satu pahanya yang lain, kemudian Rasulullah memeluk keduanya di dada beliau yang suci seraya berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya". Termasuk bukti lain cinta Rasulullah kepadanya, pernah suatu ketika Usamah jatuh dan kepalanya luka terkena daun pintu hingga mengalirlah darah di kepalanya banyak sekali. Kemudian Nabi menyuruh Aisyah untuk menghilangkan darahnya akan tetapi beliau enggan disebabkan Aisyah tidak tega terhadapnya, dan Rasulullah bangun melakukan sendirian dengan mengusap darah yang mengalir di kepala usamah dengan penuh rasa kasih sayang.
Tatkala Usamah menginjak masa dewasa tampak dalam dirinya kemulyaan perangainya dan besar wibawanya di mata para sahabat, dilain itu beliau termasuk orang yang sangat cerdas, wara' juga pemberani yang mana keberanian beliau tidak dimiliki oleh sahabat-sahabat yang lain.
Pada waktu perang Uhud Usamah bersama-sama beberapa pemuda menghadap Rasulullah untuk diperbolehkan mengikuti jihad, dan Rasulullah memilih diantara mereka yang sudah memenuhi kriteria dalam jihad fisabilillah dan menolak yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut, dan Usamah termasuk orang yang ditolak Rasulullah karena dia masih sangat kecil sekali untuk mengikuti peperangan, maka kembalilah Usamah dengan deraian air mata yang membasahi di kedua pipinya.
Pada perang Khandaq sekali lagi Usamah bersama beberapa pemuda dari sahabat meminta supaya diizinkan untuk mengikuti perang tersebut dan akhirnya Rasulullah menyetujuinya sedangkan pada saat itu Usamah masih berumur lima belas tahun.
Di saat di mana orang muslim hampir mengalami kekalahan di medan Hunain, Usamah tetap tegar di medan perang bersama beberapa para sahabat di antaranya Abbas dan Abi Sofyan untuk menemani Rasulullah dalam melawan kaum kafir yang mana akhirnya kaum muslimin dapat mengalahkan orang-orang kafir dengan pertolongan Allah SWT.
Begitu pula dalam perang Mu'tah Usamah ikut serta di dalamnya, di bawah pimpinan ayahnya sendiri Zaid bin Haritsah, Usamah dengan beraninya menghadapi orang-orang Romawi yang terkenal akan kehebatan dalam peperangan, meski beliau masih berumur di bawah delapan belas tahun, di waktu itu juga ayah yang beliau sayangi meninggal sebagai syahid. Akan tetapi semangat Usamah tidak luntur sama sekali sekalipun ayahnya meninggal di hadapan kedua matanya. Usamah berperang dengan gagah berani di bawah pimpinan Khalid bin Walid yang akhirnya Allah memberikan kemenangan yang gemilang atas orang Romawi.
Di tahun sebelas Hijriyah Rasulullah memerintah para sahabat untuk menyiapkan bala tentara untuk memerangi orang-orang Romawi, dan termasuk serta Usamah, sedangkan umur beliau belum genap dua puluh tahun, tatkala bala tentara akan berangkat menuju medan perang, Rasulullah mengalami sakit keras dan berhentilah para rombongan untuk menunggu akan keadaan Rasulullah. Berkatalah Usamah saat kejadian pada saat itu, "Tatkala sakit Rasulullah bertambah parah, aku bersama beberapa sahabat menghadap Rasulullah. Kemudian aku masuk kepada beliau. Aku mendapati beliau diam tidak berbicara sama sekali. Hal itu disebabkan sangat parahnya penyakit Rasulullah. Tiba-tiba Rasulullah mengangkat tangannya ke langit kemudian meletakkannya di dadaku, aku mengetahui bahwa beliau mendoakanku. "
Tatkala Rasulullah wafat telah disepakati bahwa tongkat estafet kepimpinan untuk menggantikan Rasulullah pada saat itu yaitu Abu bakar, dan beliau meneruskan jejak Rasulullah untuk mengirim bala tentara ke Romawi di bawah pimpinan Usamah, akan tetapi sebagian dari kaum Ansar meminta kepada Umar bin Khattab untuk mengusulkan kepada Abu bakar bahwa dalam memimpin pasukan dibutuhkan orang yang lebih tua dari Usamah, akan tetapi tatkala Abu bakar mendengar usulan Umar tersebut beliau marah dengan memegang jenggot Umar seraya berkata, "Rasulullah memerintahnya (Usamah) dan engkau memerintahkan aku untuk meninggalkannya. Demi Allah tidak akan kulakukan hal itu". Ketika mendengar perkataan Abu Bakar itu melunaklah hati Umar begitu pula para sahabat lainnya.
Berlalulah para rombongan perang di bawah pimpinan Usamah bin Zaid dengan didampingi Khalifatur rasulillah Abu-bakar. Pada saat itu Usamah duduk di kendaraan dan Abu-bakar yang nota benanya sebagai khalifah berjalan dibawahnya. Melihat pemandangan yang janggal tersebut Usamah pun berkata, ”Wahai khalifatur rasulillah, demi Allah, naiklah atau aku akan turun". Maka Abu bakar pun manjawab, ”Demi Allah, jangan kamu turun, dan demi Allah aku tidak naik kendaraan. Sama sekali aku tidak mengotori kedua kakiku dalam sabilillah sekalipun sesaat saja". Kemudian dibalas oleh Usamah dengan jawaban yang penuh makna, "Aku menitipkan kepada Allah agamamu, amanatmu juga penghujung amalmu dan aku berwasiat kepadamu untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah." Berlalulah rombongan Usamah bin Zaid dan mereka pun melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah dan mereka pun berhasil menguasai beberapa daerah di Palestina juga menghancurkan kewibawaan Negara Romawi yang pada waktu itu ditakuti oleh lawan-lawan perang. Kemudian Usamah kembali dengan posisi duduk di tempat di mana ayahnya dulu meninggal sebagai syuhada dan barang-barang rampasan perang pun berhasil dia bawa pulang.
Melihat keberanian Usamah tersebut, sahabat Umar memberikan kepadanya sebuah pemberian yang banyak sekali bahkan bagian yang beliau berikan kepada anaknya tidak sebanding dengan apa yang diberikan kepada Usamah. Sampai-sampai Abdulullah bin Umar mengadu kepada ayahnya, "Wahai ayahku, engkau berikan kepada Usamah empat ribu dinar, dan yang engkau berikan kepadaku tiga ribu dinar, tidaklah aku ini anakmu yang selayaknya engkau berikan lebih banyak daripada dia?" Maka Umar menjawab, "Sesungguhnya Ayahnya (Zaid) sangat dicintai Rasulullah daripada ayahmu ini dan dia (Usamah) sangat dicintai Rasulullah daripada kamu". Mendengar jawaban tersebut ridholah hati Abdullah bin Umar terhadap pemberian yang diberikan oleh ayahnya. Bahkan setiap bertemu dengan Usamah, Umar bin Khattab menyambutnya dengan ucapan, "Selamat datang pemimpinku".
Itulah cuplikan dari kisah seorang pemuda yang berani dalam membela agama Allah tanpa mempedulikan sesuatu yang mengancam jiwanya, dari sinilah kita sebagai pemuda penerus bangsa dan agama alangkah patutlah meniru sosok seorang sahabat yang pemberani Usamah bin Zaid.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 19:02 0 KOMENTAR
Sayyid Alwi bin Salim Al Iydrus
LAUTAN HIKMAH SANG ARIF YANG MERAKYAT
Al 'Allamah Al Wari' Al Habib Salim bin Ahmad Al 'Aydrus lahir di kota Malang Jawa Timur dari pasangan Habib Salim bin Ahmad dengan Hababah Fathimah. Tak heran jika kelak Hb.Alwi menjadi ulama' besar yang syarat dengan kharisma. Disamping berkah kewara'-an kedua orang tuanya, beliau sendiri, juga karena memang ibunda beliau pernah mendapat bisyaroh (kabar gembira) di kala mengandungnya.
Sejak kecil Hb. Alwi telah menunjukan kecintaan dan kepeduliannya terhadap ilmu. Menuntut ilmu beliau geluti tanpa mengenal lelah. "Tiada Hari Tanpa Belajar", demikianlah mungkin motto beliau semasa muda. Kapan dan di manapun beliau senantiasa belajar. Begitu urgen ilmu di mata Hb. Alwi, hingga akhir hayatpun beliau senantiasa setia merangkulnya.
Habib Alwi lebih banyak belajar kepada Al 'Allamah Al Quthb Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih. Seorang ulama terkemuka yang mendapatkan sanjungan dari salah seorang maha gurunya Al Habib Alwi bin Abdulloh bin Syihab, _"Wabilfagiihi fil fighi kal adzro'i, wa fittashowwufi wal adabi muttasi'i". Marga bilfagih (Hb. Abdul Qodir) dalam bidang fiqih bagai Imam Adzro'i, Dan dalam ilmu tasawuf serta kesusastraan bak lautan yang tak bertepi.
Habib Alwi adalah figur yang akrab dengan akhlaqul karimah. Apabila bertemu dengan muslim, beliau senantiasa menebar salam lebih dahulu. Dengan siapapun beliau selalu berkomunikasi dengan tutur kata yang halus dan sopan, bahkan sering kali tutur katanya membuat hati yang mendengarkan menjadi tenang. Sikap yang lemah lembut dan rendah hati senantiasa menghiasi hari-harinya. Tidak berlebihan jika beliau disebut sebagai Bapak anak yatim, kasih sayang dan kepedulian kepada mereka sangat kental dengan pribadi Hb. Alwi.
Keluhuran akhlaq dan keluasan ilmunya mampu melunakkan hati semua orang, kafir sekalipun. Suatu saat ada seorang non-muslim keturunan Tionghoa bertandang di kediaman beliau guna mendiskusikan ajaran agama islam. Dengan ramah dan senang hati Hb. Alwi menemuinya dan mengajaknya berkomunikasi dengan tutur kata dan akhlaq yang luhur. Mendengarkan penjelasan dan petuah-petuahnya orang tersebut tercengang dan terkesima. Seketika ia memantapkan hati menyatakan diri memeluk agama islam.
Dalam urusan mengajar dan berdakwah Hb. Alwi senantiasa berada di barisan terdepan. Sakit, hujan ataupun sedikitnya yang hadir dalam majlis beliau, semuanya tak mengurangi sedikitpun semangat bahkan keikhlasannya dalam mengajar dan berdakwah. Suatu ketika Habib 'Alwi mengajar di desa Gondanglegi Malang. Dalam perjalanan menuju desa tersebut hujan turun sangat lebat. Melihat kondisi demikian, salah seorang murid beliau yang menyertainya ketika itu mengusulkan agar majlis tersebut ditunda. Namun tidak demikian dengan Habib Alwi, karena beban dan tanggung jawab sebagai pengemban risalah nabawiyah, beliau tetap konsisten. Ironisnya, ketika sampai di tempat, ternyata yang hadir saat itu hanya segelintir manusia. Meskipun demikian Hb. Alwi tak patah semangat.
Bagi Hb. Alwi, apalah artinya semangat jika tanpa disertai keikhlasan. Pernah Habib Alwi diundang ceramah di wilayah Sukorejo. Beliau berangkat tidak dijemput dengan mobil mewah layaknya para muballigh lainnya. Tapi beliau hanya dijemput oleh salah seorang utusan panitia. Nanum, dengan landasan ikhlas yang tinggi dan ditopang semangat juang yang gigih, beliau berangkat ke Sukorejo hanya dengan mengendarai oplet, demi misi syiar islam.
Kesederhanaan memang tersirat dalam diri Habib Alwi. Memang untuk urusan mengajar beliau bukan tipe ulama yang perhitungan. Di mana dan kapanpun selagi tidak ada udzur syar'i. Siapapun orangnya yang meminta sampai harus naik apa, beliau bersedia hadir. Tidak jarang beliau diundang oleh orang miskin, di pelosok desa yang penuh rintangan, naik dokar sekalipun Habib Alwi menyanggupinya.
Hampir setiap sore terutama hari kamis Hb. Alwi memberikan pengajian di masjid Jami' Malang. Takmir masjid tidak menyediakan mobil jemputan untuk Hb. Alwi. Untuk itu beliau rela pulang pergi dari rumah ke masjid dengan naik becak.
Da'wah Hb.Alwi melegenda ke segenap lapisan masyarakat. Mereka mengenal sosok Hb. Alwi sebagai ulama' yang memiliki kepribadian yang santun dan bersahaja. Maka tak heran jika beliau memiliki pengaruh kuat yang membuahkan hasil perubahan dan peningkatan. Keberaniannya dalam menyatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil mampu menembus dinding baja ruang kerja para pejabat pemerintah. Ketika ada di antara mereka yang bertindak semau gue tanpa mengindahkan syariat agama islam, beliau tidak segan-segan menegurnya.
Demi misi dakwah, Habib Alwi sanggup merelakan segalanya. Dalam hidupnya beliau tidak ingin merepotkan siapapun. Lebih-lebih ketika berdakwah di pedesaan, beliau membawa makanan sendiri dan dibagi-bagikan kepada hadirin. Hampir setiap hari, dalam pengajian yang beliau gelar di kediamannya, Hb. Alwi menjamu para santrinya. Belum lagi ketika beliau mengadakan pengajian secara mendadak, maka beliau tidak segan-segan untuk merogoh koceknya sendiri demi langgengnya dakwah islamiyah. Begitu ramah dan supelnya Hb. Alwi, sehingga tukang becak atau pengemis sekalipun tidak merasa sungkan bertamu kepada beliau. Lebih heran lagi, Hb. Alwi tidak pernah membeda-bedakan tamunya, ini pejabat, ini tukang becak dan sebagainya. Beliau menghormati semua tamunya dengan pelayanan yang proporsional. Sebagai tuan rumah beliau tidak segan-segan mengeluarkan sendiri hidangan untuk tamunya.
Suatu ketika ada seorang pengemis bertamu kepada Hb. Alwi. Kala itu beliau sedang istirahat siang sementara beberapa santrinya berjaga-jaga di serambi rumah beliau. Rupanya sang pengemis tersebut bersikeras ingin bertemu sang Habib sekalipun para santri tidak mengizinkannya. Namun akhirnya pun sang pengemis angkat kaki dari rumah Hb. Alwi membawa kekecewaan yang mendalam. Rupanya Hb.Alwi mengetahuinya. "Tadi ada tamu pengemis ya?", tanya Hb.Alwi kepada santrinya. "Iya Bib, tapi habib sedang istirahat", jawab salah seorang santrinya. "Kenapa tidak membangunkan saya? Iya kalau yang datang tadi pengemis betulan, kalau ternyata Nabiyulloh Khidir as?", tegas Hb. Alwi.
Maka berkat akhlaqul karimah, sabar, ikhlas istiqomah serta berbagai mujahadah yang beliau telateni salama ini, semasa hidup Hb. Alwi sudah menerima bisyaroh dari Al Imam Syafi'i ra berupa dua jaminan dari beliau. Yang pertama di dunia dan yang kedua untuk yang kedua (akherat). Bahkan semasa hidupnya pula Hb. Alwi pernah bertemu dengan datuknya Rosululloh SAW secara yaqodzoh (terjaga/bangun) sebanyak 35 kali.
Habib Alwi meninggal pada tahun 1995 M dan dimakamkan di pemakaman Kasin Malang di sebelah utara kubah maha gurunya Al 'Arif billah Al Quthb Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 19:00 0 KOMENTAR
Sayyid Alwi bin Salim Al Iydrus
MUTIARA BERSINAR DARI BANI ALAWY
Beliau mempunyai garis keturunan suci yang terus bersambung dan bermuara pada penghulu manusia generasi dahulu dan sekarang hingga akhir nanti, al-Habibul A'dhom Muhammad SAW. Beliau adalah putra dari pasangan al-Habib Husein bin Abdullah Assegaf dan Syarifah Syifa binti Abdul Qodir al-Bahr yang dilahirkan di kota Seiwun, Hadramaut pada tahun 1309 H.
Salah satu maha guru beliau adalah Alhabib al-Quthb Abu Bakar bin Muhammad bin Umar Assegaf Gresik. Banyak dari kitab-kitab salaf yang beliau pelajari dari Habib Abu Bakar Assegaf terutama kitab karangan al-Imam Ghozali Ihya Ulumuddin. Tidak hanya sekedar belajar, Habib Abu Bakar Assegaf Gresik juga mengijazahkan dan memberi titah kepada beliau Habib Abu Bakar bin Husein untuk membaca sekaligus mengajarkannya setiap hari di kediamannya sendiri. Tercatat di kediamannya sediri, beliau telah mengkhatamkan kitab Ihya sebanyak 40 kali. Tiap t a hunnya beliau membuat jamuan yang istimewa dalam rangka acara khataman kitab Ihya tersebut. Beliau r.a adalah figur yang berakhlak mulia. Terbukti bahwa beliau adalah sosok yang luwes dalam bergaul. Beliau menatap setiap orang dengan tatapan yang berseri-seri, baik itu kecil atau besar, tua atau muda beliau tatap dengan muka manis penuh penghormatan. Beliau r.a juga senang berkumpul dan mencintai para fakir miskin dengan membantu memenuhi keperluan mereka, khususnya kaum janda dan anak-anak yatim. Meski p un demikian beliau belum pernah merasa kurang hartanya karena beliau bagi-bagikan, sebaliknya beliau mendapat balasan harta dan jasa dari orang-orang kaya pecinta kebajikan. Sungguh beliau r.a mencurahkan segenap umurnya untuk membantu kaum fakir miskin, orang-orang yang kesusahan, menjamu para tamu, mendamaikan 2 belah pihak yang saling berseteru dan mencarikan jodoh para gadis muslimat. Habib Abu Bakar bin Husein Assegaf selalu dan senantiasa memberikan motivasi untuk menapaki jejak para aslafunas sholihin, meniru dan berhias diri dengan akhlakul karimah. Bahkan beliau senantiasa mengingatkan akan mutiara kalam Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad (shohibur ratib):
"Berpegang tegunglah pada Al-Qur an da n ikutilah sunnah Rasul, dan ikutilah jejak para aslaf niscaya Allah akan memberimu hidayah."
Selain itu beliau juga mengingatkan akan pesan Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi (shohibul maulid) di kala berpesan pada putra-putranya:
"Diantara yang bisa membuat hatiku senang adalah dengan berpegang teguhnya kalian dengan thoriqoh para datuk, keluarga dan leluhurku."
Legitimasi beliau di mata kaum sholihin pada zamannya tidak perlu diragukan lagi. Alhabib Al- Arifbillah Habib Husein bin Muhammad al-Haddad Tegal berkata.
"Kepada seorang habib yang bersinar, yang telah masuk padanya huruf jar hingga ia menjadi _majrur (tertarik ke hadirat Allah) dan mabrur (baik) dan akan menjadi terpuji penghujungnya pada hari kebangkitan dan pengumpulan. Seorang yang indah dan ayah nya-Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Semoga Allah menjaganya sebagaimana memelihara kitab sucinya yang mulia._
Dalam surat beliau yang lain, beliau berkata:
"Segala puji bagi Allah zat yang maha berkehendak. Maka barangsiapa yang dikehendaki mendapat kebaikan pasti Ia akan menggunakannya pada jalan kebaikan. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah keharibaan pemimpin dan kekasih kita Muhammad SAW yang telah mengajak kita pada segala kebajikan, beserta para sahabat dan kerabatnya serta kepada seorang anak yang telah diberkahi dan mendapat pertolongan Alhabib Abu Bakar bin Husein Assegaf, yang telah dijadikan oleh Allah sebagai tempat penampakan segala kebajikan, dan semoga dilimpahkan bagi beliau salam yang melimpah."
Salamun Qoulan Min Rabbir Rahiim
Pada akhir hayatnya beliau sekitar lima belas menit sebelumnya, beliau meminta putranya Habib Husein bin Abu Bakar Assegaf untuk membacakan bait qosidah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad:
"Tiada satupun makhluk di muka bumi ini, melainkan ia membutuhkan keutamaan dari Tuhannya yang Maha Satu dan Esa."
Sampai akhir qasidah ini beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir untuk menghadap Sang Kholik yang Maha Suci.
Beliau wafat pada hari Senin 27 Muharram 1384 H waktu subuh dan dikebumikan di Bangil pada hari Selasa waktu dhuha. Sepeninggal beliau ditemukan beberapa bait syair di bawah bantalnya yang artinya,
"Aku telah menjadi tamu Allah di alam baka dan bagi dzat yang mulia pasti akan memuliakan tamunya. Para penguasa dapat memberi maaf bagi orang yang mengunjungi istananya, lalu bagaimanakah dengan orang yang berkunjung ke hadirat Tuhannya yang Maha Rahman."
Selamat jalan wahai kekasih Allah, sejarah telah mengabadikan namamu dengan tinta emas. Semoga kita dapat meneladani akhlak dan kebaikannya, amin.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 18:57 0 KOMENTAR
Habib Abu Bakar bin Husein Assegaf
MUTIARA BERSINAR DARI BANI ALAWY
Beliau mempunyai garis keturunan suci yang terus bersambung dan bermuara pada penghulu manusia generasi dahulu dan sekarang hingga akhir nanti, al-Habibul A'dhom Muhammad SAW. Beliau adalah putra dari pasangan al-Habib Husein bin Abdullah Assegaf dan Syarifah Syifa binti Abdul Qodir al-Bahr yang dilahirkan di kota Seiwun, Hadramaut pada tahun 1309 H.
Salah satu maha guru beliau adalah Alhabib al-Quthb Abu Bakar bin Muhammad bin Umar Assegaf Gresik. Banyak dari kitab-kitab salaf yang beliau pelajari dari Habib Abu Bakar Assegaf terutama kitab karangan al-Imam Ghozali Ihya Ulumuddin. Tidak hanya sekedar belajar, Habib Abu Bakar Assegaf Gresik juga mengijazahkan dan memberi titah kepada beliau Habib Abu Bakar bin Husein untuk membaca sekaligus mengajarkannya setiap hari di kediamannya sendiri. Tercatat di kediamannya sediri, beliau telah mengkhatamkan kitab Ihya sebanyak 40 kali. Tiap t a hunnya beliau membuat jamuan yang istimewa dalam rangka acara khataman kitab Ihya tersebut. Beliau r.a adalah figur yang berakhlak mulia. Terbukti bahwa beliau adalah sosok yang luwes dalam bergaul. Beliau menatap setiap orang dengan tatapan yang berseri-seri, baik itu kecil atau besar, tua atau muda beliau tatap dengan muka manis penuh penghormatan. Beliau r.a juga senang berkumpul dan mencintai para fakir miskin dengan membantu memenuhi keperluan mereka, khususnya kaum janda dan anak-anak yatim. Meski p un demikian beliau belum pernah merasa kurang hartanya karena beliau bagi-bagikan, sebaliknya beliau mendapat balasan harta dan jasa dari orang-orang kaya pecinta kebajikan. Sungguh beliau r.a mencurahkan segenap umurnya untuk membantu kaum fakir miskin, orang-orang yang kesusahan, menjamu para tamu, mendamaikan 2 belah pihak yang saling berseteru dan mencarikan jodoh para gadis muslimat. Habib Abu Bakar bin Husein Assegaf selalu dan senantiasa memberikan motivasi untuk menapaki jejak para aslafunas sholihin, meniru dan berhias diri dengan akhlakul karimah. Bahkan beliau senantiasa mengingatkan akan mutiara kalam Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad (shohibur ratib):
"Berpegang tegunglah pada Al-Qur an da n ikutilah sunnah Rasul, dan ikutilah jejak para aslaf niscaya Allah akan memberimu hidayah."
Selain itu beliau juga mengingatkan akan pesan Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi (shohibul maulid) di kala berpesan pada putra-putranya:
"Diantara yang bisa membuat hatiku senang adalah dengan berpegang teguhnya kalian dengan thoriqoh para datuk, keluarga dan leluhurku."
Legitimasi beliau di mata kaum sholihin pada zamannya tidak perlu diragukan lagi. Alhabib Al- Arifbillah Habib Husein bin Muhammad al-Haddad Tegal berkata.
"Kepada seorang habib yang bersinar, yang telah masuk padanya huruf jar hingga ia menjadi _majrur (tertarik ke hadirat Allah) dan mabrur (baik) dan akan menjadi terpuji penghujungnya pada hari kebangkitan dan pengumpulan. Seorang yang indah dan ayah nya-Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Semoga Allah menjaganya sebagaimana memelihara kitab sucinya yang mulia._
Dalam surat beliau yang lain, beliau berkata:
"Segala puji bagi Allah zat yang maha berkehendak. Maka barangsiapa yang dikehendaki mendapat kebaikan pasti Ia akan menggunakannya pada jalan kebaikan. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah keharibaan pemimpin dan kekasih kita Muhammad SAW yang telah mengajak kita pada segala kebajikan, beserta para sahabat dan kerabatnya serta kepada seorang anak yang telah diberkahi dan mendapat pertolongan Alhabib Abu Bakar bin Husein Assegaf, yang telah dijadikan oleh Allah sebagai tempat penampakan segala kebajikan, dan semoga dilimpahkan bagi beliau salam yang melimpah."
Salamun Qoulan Min Rabbir Rahiim
Pada akhir hayatnya beliau sekitar lima belas menit sebelumnya, beliau meminta putranya Habib Husein bin Abu Bakar Assegaf untuk membacakan bait qosidah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad:
"Tiada satupun makhluk di muka bumi ini, melainkan ia membutuhkan keutamaan dari Tuhannya yang Maha Satu dan Esa."
Sampai akhir qasidah ini beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir untuk menghadap Sang Kholik yang Maha Suci.
Beliau wafat pada hari Senin 27 Muharram 1384 H waktu subuh dan dikebumikan di Bangil pada hari Selasa waktu dhuha. Sepeninggal beliau ditemukan beberapa bait syair di bawah bantalnya yang artinya,
"Aku telah menjadi tamu Allah di alam baka dan bagi dzat yang mulia pasti akan memuliakan tamunya. Para penguasa dapat memberi maaf bagi orang yang mengunjungi istananya, lalu bagaimanakah dengan orang yang berkunjung ke hadirat Tuhannya yang Maha Rahman."
Selamat jalan wahai kekasih Allah, sejarah telah mengabadikan namamu dengan tinta emas. Semoga kita dapat meneladani akhlak dan kebaikannya, amin.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 18:55 0 KOMENTAR
Habib Muhammad bin Husein al Aydrus
PEWARIS RAHASIA IMAM ALI ZAINAL ABIDIN
Al-Habib Muhammad bin Husein al-Aydrus lahir di kota Tarim Hadramaut. Kewalian dan sir beliau tidak begitu tampak di kalangan orang awam. Namun di kalangan kaum 'arifin billah derajat dan karomah beliau sudah bukan hal yang asing lagi, karena memang beliau sendiri lebih sering bermuamalah dan berinteraksi dengan mereka.
Sejak kecil habib Muhammad dididik dan diasuh secara langsung oleh ayah beliau sendiri al-'Arifbillah Habib Husein bin Zainal Abidin al-Aydrus. Setelah usianya dianggap cukup matang oleh ayahnya, beliau al-Habib Muhammad dengan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT merantau ke Singapura.
أَََلَمْ َتكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فتَََهَاجَرُوْا فِيْهَا
Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? (Q.S an-Nisa':97)
Setelah merantau ke Singapura, beliau pindah ke Palembang, Sumatera Selatan. Di kota ini beliau menikah dan dikaruniai seorang putri. Dari Palembang, beliau melanjutkan perantauannya ke Pekalongan, Jawa Tengah, sebuah kota yang menjadi saksi bisu pertemuan beliau untuk pertama kalinya dengan al-Imam Quthb al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf, Gresik. Di Pekalongan jugalah beliau seringkali mendampingi Habib Ahmad bin Tholib al-Atthos.
Dari Pekalongan beliau pidah ke Surabaya tempat Habib Musthafa al-Aydrus yang tidak lain adalah pamannya tinggal. Seorang penyair, al-Hariri pernah mengatakan:
وَحُبِّ البِلَادَ فَأَيُّهَا أَرْضَاكَ فَاخْتَرْهُ وَطَنْ
Cintailah negeri-negeri mana saja yang menyenangkan bagimu dan jadikanlah (negeri itu) tempat tinggalmu
Akhirnya beliau memutuskan untuk tinggal bersama pamannya di Surabaya, yang waktu itu terkenal di kalangan masyarakat Hadramaut sebagai tempat berkumpulnya para auliaillah. Di antaranya adalah Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdor, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya dan masih banyak lagi para habaib yang mengharumkan nama kota Surabaya waktu itu. Selama menetap di Surabaya pun Habib Muhammad al-Aydrus masih suka berziarah, terutama ke kota Tuban dan Kudus selama 1-2 bulan.
Dikatakan bahwa para sayyid dari keluarga Zainal Abidin (keluarga ayah Habib Muhammad) adalah para sayyid dari Bani 'Alawy yang terpilih dan terbaik karena mereka mewarisi asrar (rahasia-rahasia). Mulai dari ayah, kakek sampai kakek-kakek buyut beliau tampak jelas bahwa mereka mempunyai maqam di sisi Allah SWT. Mereka adalah pakar-pakar ilmu tashawuf dan adab yang telah menyelami ilmu ma'rifatullah, sehingga patut bagi kita untuk menjadikan beliau-beliau sebagai figur teladan.
Diriwayatkan dari sebuah kitab manaqib keluarga al-Habib Zainal Abidin mempunyai beberapa karangan yang kandungan isinya mampu memenuhi 10 gudang kitab-kitab ilmu ma'qul/manqul sekaligus ilmu-ilmu furu' (cabang) maupun ushul (inti) yang ditulis berdasarkan dalil-dalil jelas yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh para pakar dan ahli (para ashlafuna ash-sholihin).
Habib Muhammad al-Aydrus adalah tipe orang yang pendiam, sedikit makan dan tidur. Setiap orang yang berziarah kepada beliau pasti merasa nyaman dan senang karena memandang wajah beliau yang ceria dengan pancaran nur (cahaya). Setiap waktu beliau gunakan untuk selalu berdzikir dan bersholawat kepada datuk beliau Rasulullah SAW. Beliau juga gemar memenuhi undangan kaum fakir miskin. Setiap pembicaraan yang keluar dari mulut beliau selalu bernilai kebenaran-kebenaran sekalipun pahit akibatnya. Tak seorangpun dari kaum muslimin yang beliau khianati, apalagi dianiaya.
Setiap hari jam 10 pagi hingga dzuhur beliau selalu menyempatkan untuk openhouse menjamu para tamu yang datang dari segala penjuru kota, bahkan ada sebagian dari mancanegara. Sedangkan waktu antara maghrib sampai isya' beliau pergunakan untuk menelaah kitab-kitab yang menceritakan perjalanan kaum salaf. Setiap malam Jum'at beliau mengadakan pembacaan Burdah bersama para jamaahnya.
Beliau al-Habib Muhammad al-Aydrus adalah pewaris karateristik Imam Ali Zainal Abidin yang haliyah-nya agung dan sangat mulia. Beliau juga memiliki maqam tinggi yang jarang diwariskan kepada generasi-generasi penerusnya. Dalam hal ini al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad telah menyifati mereka dalam untaian syairnya:
ثبتوا على قـدم النبى والصحب # والتـابعين لهم فسل وتتبع
ومضو على قصد السبيل الى العلى# قدما على قدم بجد أوزع
_Mereka tetap dalam jejak Nabi dan sahabat-sahabatnya
Juga para tabi'in. Maka tanyakan kepadanya dan ikutilah jejaknya_
_Mereka menelusuri jalan menuju kemulyaan dan ketinggian
Setapak demi setapak (mereka telusuri) dengan kegigihan dan kesungguhan_
Diantara mujahadah beliau r.a, selama 7 tahun berpuasa dan tidak berbuka kecuali hanya dengan 7 butir kurma. Pernah juga beliau selama 1 tahun tidak makan kecuali 5 mud saja. Beliau pernah berkata, "Di masa permulaan aku gemar menelaah kitab-kitab tasawuf. Aku juga senantiasa menguji nafsuku ini dengan meniru perjuangan mereka (kaum salaf) yang tersurat dalam kitab-kitab itu".
(Diadaptasi dari naskah karangan Habib Syekh Musawa Surabaya)
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 18:52 0 KOMENTAR
SYECH MUHAMMAD ABDUL MALIK BIN ILYAS

Beliau adalah sosok ulama yang cukup di segani di kebumen propinsi jawa tengah,
Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah. Sanad thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah telah ia peroleh secara langsung dari ayah beliau yakni Syaikh Muhammad Ilyas, sedangkan sanad Thariqah Asy-Sadziliyah diperolehnya dari As-Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki (Mekkah).

Dalam hidupnya, Syaikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca Al-Qur’an dan Shalawat. Beliau tak kurang membaca shalwat sebanyak 16.000 kali dalam setiap harinya dan sekali menghatamkan Al-Qur’an. Adapun shalawat yang diamalkan adalah shalawat Nabi Khidir AS atau lebih sering disebut shalawat rahmat, yakni “Shallallah ‘ala Muhammad.” Dan itu adalah shalawat yang sering beliau ijazahkan kepada para tamu dan murid beliau. Adapun shalawat-shalawat yang lain, seperti shalawat Al-Fatih, Al-Anwar dan lain-lain.

Beliau juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai kepribadian yang sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian dari akhlaq yang melekat pada diri beliau. Sehingga amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.

Beliau disamping dikenal memiliki hubungan yang baik dengan para ulama besar umumnya, Syaikh Abdul Malik mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ulama dan habaib yang dianggap oleh banyak orang telah mencapai derajat waliyullah, seperti Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bilfaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Probolinggo), KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Hamid bin Yahya (Sokaraja, Banyumas) dan lain-lain.

Diceritakan, saat Habib Soleh Tanggul pergi ke Pekalongan untuk menghadiri sebuah haul. Selesai acara haul, Habib Soleh berkata kepada para jamaah,”Apakah kalian tahu, siapakah gerangan orang yang akan datang kemari? Dia adalah salah seorang pembesar kaum ‘arifin di tanah Jawa.” Tidak lama kemudian datanglah Syaik Abdul Malik dan jamaah pun terkejut melihatnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Kraksaan, Probolinggo) bahwa ketika Syaikh Abdul Malik berkunjung ke rumahnya bersama rombongan, Habib Husein berkata, ”Aku harus di pintu karena aku mau menyambut salah satu pembesar Wali Allah.”

Asy-Syaikh Abdul Malik lahir di Kedung Paruk, Purwokerto, pada hari Jum’at 3 Rajab 1294 H (1881). Nama kecilnya adalah Muhammad Ash’ad sedang nama Abdul Malik diperoleh dari ayahnya, KH Muhammad Ilyas ketika ia menunaikan ibadah haji bersamanya. Sejak kecil Asy-Syaikh Abdul Malik telah memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya yang ada di Sokaraja, Banyumas terutama dengan KH Muhammad Affandi.

Setelah belajar Al-Qur’an dengan ayahnya, Asy-Syaikh kemudian mendalami kembali Al-Qur’an kepada KH Abu Bakar bin H Yahya Ngasinan (Kebasen, Banyumas). Pada tahun 1312 H, ketika Syaikh Abdul Malik sudah menginjak usia dewasa, oleh sang ayah, ia dikirim ke Mekkah untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai disiplin ilmu agama diantaranya ilmu Al-Qur’an, tafsir, Ulumul Qur’an, Hadits, Fiqh, Tasawuf dan lain-lain. Asy-Syaikh belajar di Tanah suci dalam waktu yang cukup lama, kurang lebih selama limabelas tahun.

Dalam ilmu Al-Qur’an, khususnya ilmu Tafsir dan Ulumul Qur’an, ia berguru kepada Sayid Umar Asy-Syatha’ dan Sayid Muhammad Syatha’ (putra penulis kitab I’anatuth Thalibin hasyiyah Fathul Mu’in). Dalam ilmu hadits, ia berguru Sayid Tha bin Yahya Al-Magribi (ulama Hadramaut yang tinggal di Mekkah), Sayid Alwi bin Shalih bin Aqil bin Yahya, Sayid Muhsin Al-Musawwa, Asy-Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tirmisi. Dalam bidang ilmu syariah dan thariqah alawiyah ia berguru pada Habib Ahmad Fad’aq, Habib Aththas Abu Bakar Al-Attas, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya), Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Bogor), Kyai Soleh Darat (Semarang).

Sementara itu, guru-gurunya di Madinah adalah Sayid Ahmad bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas bin Muhammad Amin Raidwan, Sayid Abbas Al Maliki Al-Hasani (kakek Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al-Hasani), Sayid Ahmad An-Nahrawi Al Makki, Sayid Ali Ridha.

Setelah sekian tahun menimba ilmu di Tanah Suci, sekitar tahun 1327 H, Asy-Syaikh Abdul Malik pulang ke kampung halaman untuk berkhidmat kepada keduaorang tuanya yang saat itu sudah sepuh (berusia lanjut). Kemudian pada tahun 1333 H, sang ayah, Asy Syaikh Muhammad Ilyas berpulang ke Rahmatullah.

Sesudah sang ayah wafat, Asy-Syaikh Abdul Malik kemudian mengembara ke berbagai daerah di Pulau Jawa guna menambah wawasan dan pengetahuan dengan berjalan kaki. Ia pulang ke rumah tepat pada hari ke- 100 dari hari wafat sang ayah, dan saat itu umur Asy Syaikh berusia tiga puluh tahun.

Sepulang dari pengembaraan, Asy-Syaikh tidak tinggal lagi di Sokaraja, tetapi menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Perlu diketahui, Asy-Syaikh Abdul Malik sering sekali membawa jemaah haji Indonesia asal Banyumas dengan menjadi pembimbing dan syaikh. Mereka bekerjasama dengan Asy-Syaikh Mathar Mekkah, dan aktivitas itu dilakukan dalam rentang waktu yang cukup lama.

Sehingga wajarlah kalau selama menetap di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu-ilmu agama dengan para ulama dan syaikh yang ada di sana. Berkat keluasan dan kedalaman ilmunya, Syaikh Abdul Malik pernah memperoleh dua anugrah yakni pernah diangkat menjadi Wakil Mufti Madzab Syafi’i di Mekkah dan juga diberi kesempatan untuk mengajar. Pemerintah Saudi sendiri sempat memberikan hadiah berupa sebuah rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes. Anugrah yang sangat agung ini diberikan oleh Pemerintah Saudi hanya kepada para ulama yang telah memperoleh gelar Al-‘Allamah.

Syaikh Ma’shum (Lasem, Rembang) setiap berkunjung ke Purwokerto, seringkali menyempatkan diri singgah di rumah Asy-Syaikh Abdul Malik dan mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik secara tabarrukan (meminta barakah) kepada Asy-Syaikh Abdul Malik. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Khalil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas) yang merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, mereka kerap sekali belajar ilmu Al-Qur’an kepada Syaikh Abdul Malik.

Kehidupan Syaikh Abdul Malik sangat sederhana, di samping itu ia juga sangat santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahiem kepada murid-muridnya yang miskin. Baik mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, dukuhwaluh, Bojong dan lain-lain.

Hampir setiap hari Selasa pagi, dengan kendaraan sepeda, naik becak atau dokar, Syaikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan (Forum silaturrahiem para pengikut Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Kedung paruk yang diadakan setiap hari Selasa dan diisi dengan pengajian dan tawajjuhan).

Murid-murid dari Syaikh Abdul Malik diantaranya KH Abdul Qadir, Kiai Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah sekarang), KH Sahlan (Pekalongan), Drs Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma’shum (Purwokerto) dan lain-lain.

Sebagaimana diungkapkan oleh murid beliau, yakni Habib Luthfi bin Yahya, Syaikh Abdul Malik tidak pernah menulis satu karya pun. “Karya-karya Al-Alamah Syaikh Abdul Malik adalah karya-karya yang dapat berjalan, yakni murid-murid beliau, baik dari kalangan kyai, ulama maupun shalihin.”

Diantara warisan beliau yang sampai sekarang masih menjadi amalan yang dibaca bagi para pengikut thariqah adalah buku kumpulan shalawat yang beliau himpun sendiri, yaitu Al-Miftah al-Maqashid li-ahli at-Tauhid fi ash-Shalah ‘ala babillah al-Hamid al-majid Sayyidina Muhammad al-Fatih li-jami’i asy-Syada’id.”

Shalawat ini diperolehnya di Madinah dari Sayyid Ahmad bin Muhammad Ridhwani Al-Madani. Konon, shalawat ini memiliki manfaat yang sangat banyak, diantaranya bila dibaca, maka pahalanya sama seperti membaca kitab Dala’ilu al-Khairat sebanyak seratus sepuluh kali, dapat digunakan untuk menolak bencana dan dijauhkan dari siksa neraka.

Syaikh Abdul Malik wafat pada hari Kamis, 2 Jumadil Akhir 1400 H (17 April 1980) dan dimakamkan keesokan harinya lepas shalat Ashar di belakang masjid Baha’ul Haq wa Dhiya’uddin, Kedung Paruk Purwokerto.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 18:43 0 KOMENTAR
Habib Abdul Qodir Bil Faqih
Ayahanda beliau

Habib Abdullah (kiri) dan ayahanda beliau habib Abdul Qodir Bil Faqih (tengah)
Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy
Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.
Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”
Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.
Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.
Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.
Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.
Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”
Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.
Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.
Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.
Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.
Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.
Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.
Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.
Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”… Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 18:13 0 KOMENTAR
Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bil Faqih
HABIB ABDULLOH BIL FAQIH


Habib Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih al-’Alawi adalah ulama yang masyhur alim dalam ilmu hadits. Beliau menggantikan ayahandanya Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih sebagai penerus mengasuh dan memimpin pesantren yang diasaskan ayahandanya tersebut pada 12 Rabi`ul Awwal 1364 / 12 Februari 1945 di Kota Malang, Jawa Timur. Pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pesantren ini telah melahirkan ramai ulama yang kemudiannya bertebaran di segenap pelusuk Nusantara. Sebahagiannya telah menurut jejak langkah guru mereka dengan membuka pesantren-pesantren demi menyiarkan dakwah dan ilmu, antaranya ialah Habib Ahmad al-Habsyi (PP ar-Riyadh, Palembang), Habib Muhammad Ba’Abud (PP Darun Nasyi-in, Lawang), Kiyai Haji ‘Alawi Muhammad (PP at-Taroqy, Sampang, Madura) dan ramai lagi.
Bak Pinang Dibelah Dua
Bapak dan anak sama-sama ulama besar, sama-sama ahli hadits, sama-sama pendidik ulung dan bijak. Merekalah Habib Abdul Qadir dan Habib Abdullah.
Masyarakat Malang dan sekitarnya mengenal dua tokoh ulama yang sama-sama kharismatik, sama-sama ahli hadits, sama-sama pendidik yang bijaksana. Mereka adalah bapak dan anak: Habib Abdul Qadir Bilfagih dan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih. Begitu besar keinginan sang ayah untuk “mencetak” anaknya menjadi ulama besar dan ahli hadist – mewarisi ilmunya.
Ketika menunaikan ibadah haji, Habib Abdul Qadir Bilfagih berziarah ke makam Rasulullah SAW di kompleks Masjid Nabawi, Madinah. Di sana ia memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dikaruniai putra yang kelak tumbuh sebagai ulama besar, dan menjadi seorang ahli hadits.
Beberapa bulan kemudian, doa itu dikabulkan oleh Allah SWT. Pada 12 Rabiul Awal 1355 H/1935 M, lahirlah seorang putra buah pernikahan Habib Abdul Qadir dengan Syarifah Ummi Hani binti Abdillah bin Agil, yang kemudian diberi nama Abdullah.
Sesuai dengan doa yang dipanjatkan di makam Rasulullah SAW, Habib Abdul Qadir pun mencurahkan perhatian sepenuhnya untuk mendidik putra tunggalnya itu. Pendidikan langsung ayahanda ini tidak sia-sia. Ketika masih berusia tujuh tahun, Habib Abdullah sudah hafal Al-Quran.
Hal itu tentu saja tidak terjadi secara kebetulan. Semua itu berkat kerja sama yang seimbang antara ayah yang bertindak sebagai guru dan anak sebagai murid. Sang guru mengerahkan segala daya upaya untuk membimbing dan mendidik sang putra, sementara sang anak mengimbanginya dengan semangat belajar yang tinggi, ulet, tekun, dan rajin.
Menjelang dewasa, Habib Abdullah menempuh pendidikan di Lembaga Pendidikan At-Taroqi, dari madrasah ibtidaiyah hingga tsanawiyah di Malang, kemudian melanjutkan ke madrasah aliyah di Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah li Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah. Semua lembaga pendidikan itu berada di bawah asuhan ayahandanya sendiri.
Sebagai murid, semangat belajarnya sangat tinggi. Dengan tekun ia menelaah berbagai kitab sambil duduk. Gara-gara terlalu kuat belajar, ia pernah jatuh sakit. Meski begitu ia tetap saja belajar. Barangkali karena ingin agar putranya mewarisi ilmu yang dimilikinya, Habib Abdul Qadir pun berusaha keras mendidik Habib Abdullah sebagai ahli hadits.
Maka wajarlah jika dalam usia relatif muda, Habib Abdullah telah hafal dua kitab hadits shahih, yakni Shahihul Bukhari dan Shahihul Muslim, lengkap dengan isnad dan silsilahnya. Tak ketinggalan kitab-kitab Ummahatus Sitt (kitab induk hadits), seperti Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzy, Musnad Syafi’i, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal; Muwatha’ karya Imam Malik; An-Nawadirul Ushul karya Imam Hakim At-Turmudzy; Al-Ma’ajim ats-Tsalats karya Abul Qasim At-Thabrany, dan lain-lain.
Tidak hanya menghafal hadits, Habib Abdullah juga memperdalam ilmu musthalah hadist, yaitu ilmu yang mempelajari hal ikhwal hadits berikut perawinya, seperti Rijalul Hadits, yaitu ilmu tentang para perawi hadits. Ia juga menguasai Ilmu Jahr Ta’dil (kriteria hadits yang diterima) dengan mempelajari kitab-kitab Taqribut Tahzib karya Ibnu Hajar Al-Asqallany, Mizanut Ta’dil karya Al-Hafidz adz-Dzahaby.

Empat Madzhab
Selain dikenal sebagai ahli hadits, Habib Abdullah juga memperdalam tasawuf dan fiqih, juga langsung dari ayahandanya. Dalam ilmu fiqih ia mempelajari kitab fiqih empat madzhab (Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali), termasuk kitab-kitab fiqih lain, seperti Fatawa Ibnu Hajar, Fatawa Ramli, dan Al-Muhadzdzab Imam Nawawi.
Setelah ayahandanya mangkat pada 19 November 1962 (21 Jumadil Akhir 1382 H), otomatis Habib Abdullah menggantikannya, baik sebagai pengasuh pondok peantren, muballigh, maupun pengajar. Selain menjabat direktur Lembaga Pesantren Darul Hadits Malang, ia juga memegang beberapa jabatan penting, baik di pemerintahan maupun lembaga keagamaan, seperti penasihat menteri koordinator kesejahteraan rakyat, mufti Lajnah Ifta Syari’i, dan pengajar kuliah tafsir dan hadits di IAIN dan IKIP Malang. Ia juga sempat menggondol titel doktor dan profesor.
Sebagaimana ayahandanya, Habib Abdullah juga dikenal sebagai pendidik ulung. Mereka bak pinang dibelah dua, sama-sama sebagai pendidik, sama-sama menjadi suri tedalan bagi para santri, dan sama-sama tokoh kharismatik yang bijak. Seperti ayahandanya, Habib Abdullah juga penuh perhatian dan kasih sayang, dan sangat dekat dengan para santri.
Sebagai guru, ia sangat memperhatikan pendidikan santri-santrinya. Hampir setiap malam, sebelum menunaikan shalat Tahajjud, ia selalu mengontrol para santri yang sedang tidur. Jika menemukan selimut santrinya tersingkap, ia selalu membetulkannya tanpa sepengetahuan si santri. Jika ada santri yang sakit, ia segera memberikan obat. Dan jika sakitnya serius, ia akan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya ke dokter.
Seperti halnya ulama besar atau wali, pribadi Habib Abdullah mulia dan kharismatik, disiplin dalam menyikapi masalah hukum dan agama. Tanpa tawar-menawar, sikapnya selalu tegas: yang haq tetap dikatakannya haq, yang bathil tetap dikatakannya bathil.
Sikap konsisten untuk mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar itu tidak saja ditunjukkan kepada umat, tapi juga kepada pemerintah. Pada setiap kesempatan hari besar Islam atau hari besar nasional, Habib Abdullah selalu melancarkan saran dan kritik membangun – baik melalui pidato maupun tulisan.
Habib Abdullah juga dikenal sebagai penulis artikel yang produktif. Media cetak yang sering memuat tulisannya, antara lain, harian Merdeka, Surabaya Pos, Pelita, Bhirawa, Karya Dharma, Berita Buana, Berita Yudha. Ia juga menulis di beberapa media luar negeri, seperti Al-Liwa’ul Islamy (Mesir), Al-Manhaj (Arab Saudi), At-Tadhammun (Mesir), Rabithathul Alam al-Islamy (Makkah), Al-Arabi (Makkah), Al-Madinatul Munawarah (Madinah).
Habib Abdullah wafat pada hari Sabtu 24 Jumadil Awal 1411 H (30 November 1991) dalam usia 56 tahun. Ribuan orang melepas kepergiannya memenuhi panggilan Allah SWT. Setelah dishalatkan di Masjid Jami’ Malang, jenazahnya dimakamkan berdampingan dengan makam ayahandanya di pemakaman Kasin, Malang, Jawa Timur.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 18:05 0 KOMENTAR
Sayyidah Nafisah
Sayyidah Nafisah adalah putri Hasan al-Anwar bin Zaid bin Hasan bin Ali dan Sayyidah Fathimah az-Zahra', putri Rasululullah Saw. Sayyidah Nafisah dilahirkan di Mekah al-Mukarramah, 11 Rabiul awal 145 H. Pada tahun 150 H, Hasan menjabat sebagai Gubernur Madinah dan ia membawa Sayyidah Nafisah yang baru berusia lima tahun ke Madinah. Di sana Sayyidah Nafisah menghafal Al-Qur'an, mempelajari tafsirnya dan senantiasa menziarahi makam datuknya, Rasulullah Saw. Sayyidah Nafisah terkenal zuhud, berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk bertahajud dan beribadah kepada Allah SWT. Sayyidah Nafisah mulai umur enam tahun selalu menunaikan salat fardu dengan teratur bersama kedua orang tuanya di Masjid Nabawi. Sayyidah Nafisah menikah dengan putra pamannya, Ishaq al-Mu'tamin. Pernikahan itu berlangsung pada tanggal 5 Rajab 161 H. Umur Sayyidah Nafisah ketika itu 16 tahun. Ia dikaruniai seorang putra bernama al-Qasim dan seorang putri bernama Ummu Kultsum. Sayyidah Nafisah menunaikan ibadah haji sebanyak tiga puluh kali, sebagian besar ia lakukan dengan berjalan kaki. Hal tersebut dilakukan karena meneladani datuknya, Imam Husain yang pernah mengatakan, "Sesungguhnya aku malu kepada Tuhanku jika aku menjumpai-Nya di rumah-Nya dengan tidak berjalan kaki." Riwayat-riwayat tentang Sayyidah Nafisah kebanyakan dinisbahkan kepada putri saudaranya, Zainab binti Yahya al-Mutawwaj, yang selalu menyertai dan menemaninya sepanjang hidupnya, serta tidak mau menikah karena ingin selalu melayani dan menyenangkannya. Zainab binti Yahya, saat berbicara tentang Sayyidah Nafisah, mengatakan, "Bibiku hafal Al Qur'an dan menafsirkannya, ia membaca Al Qur'an dengan menangis sambil berdo’a, 'Tuhanku, Mudahkanlah untukku berziarah ke tempat Nabi lbrahim as." Sayyidah Nafisah tahu bahwa Nabi Ibrahim adalah datuk para nabi, jadi datuk dari ayahnya juga, Muhammad Saw. Dan Rasulullah Saw mengatakan, "Akulah yang dimaksud dalam do’a Ibrahim as ketika berdo’a, “Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul di antara mereka yang akan membacakan ayat-ayat Mu kepada mereka dan akan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka serta akan membersihkan mereka; sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah: 129)
Hijrah ke Mesir
Ketika Sayyidah Nafisah menziarahi makam Nabi Ibrahim as, ia ingin menangis. Lalu ia duduk dengan khusyuk membaca Al-Qur'an surat Ibrahim: 35-37. Hari Penyambutan di Kota al-Arisy Ketika Sayyidah Nafisah datang ke Mesir, usianya 48 tahun. Ia tiba pada hari Sabtu, 26 Ramadan 193 H. Sewaktu orang-orang Mesir mengetahui kabar kedatangannya, mereka pun berangkat untuk menyambutnya di kota al-Arisy, lalu bersama-sama dengannya memasuki Mesir. Sayyidah Nafisah ditampung oleh seorang pedagang besar Mesir yang bernama Jamaluddin 'Abdullah al Jashshash, di rumah ini Sayyidah Nafisah tinggal selama beberapa bulan. Penduduk Mesir dari berbagai pelosok negeri berdatangan ke tempatnya untuk mengunjungi dan mengambil berkah darinya. Nafisah khawatir, hal itu akan menyulitkan pemilik rumah. la pun meminta izin untuk pindah ke rumah yang lain. la kemudian memilih sebuah rumah yang khusus untuknya di sebuah kampung di belakang Mesjid Syajarah ad-Durr di jalan al-Khalifah. Kampung itu sekarang dikenal dengan nama al-Hasaniyyah. Penduduk Mesir yang telah mengetahui rumah baru yang ditempati oleh Sayyidah Nafisah, segera mendatanginya. Nafisah merasa dengan banyaknya orang yang mengunjunginya, benar-benar menyulitkannya untuk beribadah. Ia berpikir untuk meninggalkan Mesir dan kembali ke Madinah. Orang-orang mengetahui rencana Nafisah untuk meninggalkan Mesir. Mereka segera kepenguasa Mesir, as-Sirri bin al-Hakam, dan memintanya agar meminta Sayyidah Nafisah untuk tetap tinggal di Mesir. As-Sirri bin al-Hakam kemudian mendatangi Sayyidah Nafisah. Kepada as-Sirri, Sayyidah Nafisah berkata, Dulu, saya memang ingin tinggal di tempat kalian, tetapi aku ini seorang wanita yang lemah. Orang-orang yang mengunjungiku sangat banyak, sehingga menyulitkanku untuk melaksanakan wirid dan mengumpulkan bekal untuk akhiratku. Lagi pula, rumah ini sempit untuk orang sebanyak itu. Selain itu, aku sangat rindu untuk pergi ke raudhah datukku, Rasulullah Saw." Maka as-Sirri menanggapinya, "Wahai putri Rasulullah, aku jamin bahwa apa yang engkau keluhkan ini akan dihilangkan. Sedangkan mengenai masalah sempitnya rumah ini, maka aku memiliki sebuah rumah yang luas di Darb as-Siba' Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku memberikan itu kepadamu. Aku harap engkau mau menerimanya dan tidak membuatku malu dengan menolaknya." Setelah lama terdiam, Sayyidah Nafisah berkata, 'Ya, saya menerimanya." Kemudian ia Mengatakan, Wahai Sirri, apa yang dapat aku perbuat terhadap jumlah orang yang banyak dan rombongan yang terus berdatangan? “Engkau dapat membuat kesepakatan dengan mereka bahwa waktu untuk pengunjung adalah dua hari dalam seminggu. Sedangkan hari-hari lain dapat engkau pergunakan untuk ibadahmu, jadikanlah hari Rabu dan Sabtu untuk mereka," kata as-Sirri lagi. Sayyidah Nafisah menerima tawaran itu. Ia pun pindah ke rumah yang telah diberikan untuknya dan mengkhususkan waktu untuk kunjungan pada hari Rabu dan Sabtu setiap minggu.
Seorang Guru bagi para ulama Sufi, Fuqoha dan Muhadistin.
Perjumpaan Imam Syafi’i Ra dengan Sayyidah Nafisah Di rumah ini, Sayyidah Nafisah dikunjungi oleh banyak fuqaha, tokoh-tokoh tasawuf, dan orang-orang saleh. Di antara mereka adalah Imam Syafi’i, Imam 'Utsman bin Sa’id al-Mishri, Dzun Nun al-Mishri, Al Mishri as-Samarqandi, Imam Abubakar al-Adfawi dan banyak ulama lain. Imam Syafi’i datang ke Mesir pada tahun 198 H, lima tahun setelah kedatangan Sayyidah Nafisah. Imam syafi’i tinggal di Mesir lebih dari empat tahun. Di sana ia mengarang kitab-kitabnya. Namanya menjadi terkenal karena orang-orang menerima dan mencintainya, dan tersebarlah mazhabnya di tengah-tengah mereka. Di Mesir ia menyusun pendapat mazhabnya yang baru (qaul jadid), yang disusunnya karena adanya perubahan kondisi dan kebiasaan. Hal itu dimuat dalam kitabnya al-Umm. Ketika Imam Syafi’i datang ke Mesir, ia telah menjalin hubungan dengan Sayyidah Nafisah. Hubungan keduanya diikat oleh keinginan untuk berkhidmat kepada akidah Islam. Imam Syafi’i biasa mengunjungi Sayyidah Nafisah bersama beberapa orang muridnya ketika berangkat menuju halaqah-halaqah pelajarannya di sebuah masjid di Fusthath, yaitu Mesjid 'Amr bin al-'Ash. Imam Syafi’i biasa melakukan salat Tarawih dengan Sayyidah Nafisah di mesjid Sayyidah Nafisah. Walaupun Imam Syafi'i memiliki kedudukan yang agung, tetapi jika ia pergi ke tempat Sayyidah Nafisah, ia meminta do’a kepada Nafisah dan mengharap berkahnya. Imam Syafi'i juga mendengarkan hadist darinya. Bila sakit, Imam Syafi’i mengutus muridnya sebagai penggantinya. Utusan itu menyampaikan salam Imam Syafi'i dan berkata kepada Sayyidah Nafisah, "Sesungguhnya putra pamanmu, Syafi'i, sedang sakit dan meminta doa kepadamu." Sayyidah Nafisah lalu mengangkat tangannya ke langit dan mendoakan kesembuhan untuknya. Maka ketika utusan itu kembali, Imam Syafi’i telah sembuh. Suatu hari, Imam Syafi’i menderita sakit. Seperti biasanya, ia mengirim utusan untuk memintakan doa dari Sayyidah Nafisah baginya. Tetapi kali ini Sayidah Nafisah berkata kepada utusan itu, "Allah membaguskan perjumpaan-Nya dengannya dan memberinya nikmat dapat memandang wajah-Nya yang mulia." Ketika utusan itu kembali dan mengabarkan apa yang dikatakan Sayyidah Nafisah, Imam Syafi’i tahu bahwa saat perjumpaan dengan Tuhannya telah dekat. Imam Syafi’i berwasiat agar Sayyidah Nafisah mau menyalatkan jenazahnya bila ia wafat. Ketika Imam Syafi’i wafat pada akhir Rajab tahun 204 H, Sayyidah Nafisah melaksanakan wasiatnya. Jenazah Imam Syafi’i dibawa dari rumahnya di kota Fusthath ke rumah Sayyidah Nafisah, dan di situ ia menyalatkannya. Yang menjadi Imam adalah Abu Ya'qub al Buwaithi, salah seorang sahabat Imam Syafi’i.
Kepergian Seorang Waliyah
Sayyidah Nafisah terkenal sebagai seorang yang zuhud, dan suka beribadah sepanjang hayatnya. Zainab, kemenakan Sayyidah Nafisah, pernah ditanya, "Bagaimana kekuatan bibimu?" Ia menjawab, Ia makan sekali dalam tiga hari. Ia memiliki keranjang yang digantungkan di depan musalanya. Setiap kali ia meminta sesuatu untuk dimakannya, ia dapatkan di keranjang itu. Ia tidak mau mengambil sesuatu selain milik suaminya dan apa yang dikaruniakan Tuhan kepadanya." Salah seorang penguasa pernah memberikan seratus ribu dirham kepadanya dengan mengatakan, "Ambillah harta ini sebagai tanda syukur saya kepada Allah karena saya telah bertobat". Nafisah mengambil uang itu kemudian membagi-bagikannya kepada fakir miskin, orang jompo dan orang yang membutuhkannya sampai habis. Menggali Kuburnya dengan tangannya sendiri Ketika Sayyidah Nafisah merasa ajalnya telah dekat, ia mulai menggali kuburnya sendiri. Kubur itu berada di dalam rumahnya. Ia turun ke dalamnya untuk memperbanyak ibadah dan mengingat akhirat. Al-Allamah al-Ajhuri mengatakan, Nafisah mengkhatamkan Al-Qur'an di dalam kubur yang telah digalinya sebanyak enam ribu kali dan menghadiahkan pahalanya untuk kaum Muslimin yang telah wafat. Ketika sakit, ia menulis surat kepada suaminya, Ishaq al Mu'tamin, yang sedang berada di Madinah dan memintanya datang. Suaminya pun datang bersama kedua anak mereka, al-Qasim dan Ummu Kultsum. Pada pertengahan pertama bulan Ramadan 208 H, sakitnya bertambah parah, sedangkan ia dalam keadaan berpuasa. Orang-orang menyarankannya untuk berbuka demi menjaga kekuatan dan mengatasi sakit yang dideritanya. Ia pun menjawab, "Sungguh aneh! Selama tiga puluh tahun aku meminta kepada Allah agar Ia mewafatkan aku dalam keadaan berpuasa. Maka bagaimana mungkin aku berbuka sekarang? Aku berlindung kepada Allah. Hal itu tidak boleh terjadi selamanya". Kemudian ia membaca surah al-An'am. Ketika sampai pada ayat, "Untuk mereka itu kampung keselamatan (surga) di sisi Tuhan mereka. Dia penolong mereka berkat amalan yang mereka perbuat," (QS. al-An'am: 127) Nafisah lalu mengucapkan kalimat syahadat, dan naiklah rohnya keharibaan Tuhannya Yang Maha Tinggi, berjumpa dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Sebelumnya Nafisah berwasiat kepada suaminya untuk memindahkan jasadnya yang suci dalam peti ke Madinah untuk dimakamkan di sana bersama keluarganya di Baqi'. Namun, penduduk Mesir menentangnya dan menginginkan agar ia dimakamkan di kubur yang telah digalinya dengan tangannya sendiri. Penduduk Mesir mengumpulkan harta yang banyak, lalu menyerahkannya kepada suami Sayyidah Nafisah seraya meminta agar jenazahnya tetap berada di Mesir. Namun suaminya enggan menerima permintaan itu. Malam itu pun mereka lewati dalam keadaan menderita, padahal mereka orang-orang terkemuka. Mereka tinggalkan harta mereka di tempat Sayyidah Nafisah. Ketika pagi, mereka mendatanginya lagi. Akhirnya suami Sayyidah Nafisah memenuhi pemintaan mereka untuk memakamkan istrinya di tempat mereka, namun ia mengembalikan harta mereka. Mereka bertanya kepadanya tentang hal itu. Ia menjawab, "Aku melihat Rasulullah Saw dalam mimpi. Beliau berkata kepadaku, Wahai Ishaq, kembalikan kepada mereka harta mereka dan makamkanlah ia di tempat mereka."

Keramat Sayidah Nafisah
Keramat Sayyidah Nafisah Keramat-keramat yang dinisbahkan kepada Sayyidah Nafisah baik waktu hidup atau sesudah wafatnya sangat banyak. Di antara keramatnya yang terjadi ketika masih hidup, adalah yang berhubungan dengan kesembuhan seorang gadis Yahudi dari penyakit lumpuh. Diceritakan bahwa ketika Sayyidah Nafisah datang ke Mesir, ia tinggal bertetangga, dengan satu keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak gadis yang lumpuh. Pada suatu hari, ibu si gadis ingin pergi untuk suatu keperluan. Maka ia tinggalkan anaknya di tempat Sayyidah Nafisah. Ia meletakkan anaknya pada salah satu tiang dari rumah Sayyidah Nafisah. Ketika Sayyidah Nafisah berwudlu, air wudlunya jatuh ke tempat gadis Yahudi yang lumpuh itu. Tiba-tiba Allah memberikan ilham kepada gadis Yahudi itu agar mengambil air wudlu tersebut sedikit dengan tangannya dan membasuh kedua kakinya dengan air itu. Maka dengan izin Allah, anak itu dapat berdiri dan lumpuhnya hilang. Saat itu terjadi, Sayyidah Nafisah sudah sibuk dengan salatnya. Ketika anak itu tahu ibunya telah kembali dari pasar, ia pun mendatanginya dengan berlari dan mengisahkan apa yang telah terjadi. Maka menangislah si ibu karena sangat gembiranya, lalu berkata, "Tidak ragu lagi, agama Sayyidah Nafisah yang mulia itu sungguh-sungguh agama yang benar!" Kemudian ia masuk ke tempat Sayyidah Nafisah untuk menciumnya. Lalu ia mengucapkan kalimat syahadat dengan ikhlas karena Allah. Kemudian datang ayah si gadis yang bernama Ayub Abu as-Saraya, yang merupakan seorang tokoh Yahudi. Ketika ia melihat anak gadisnya telah sembuh, dan mengetahui sebab sembuhnya maka ia mengangkat tangannya ke langit dan berkata, "Maha Suci Engkau yang memberikan petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki dan menyesatkan orang yang Engkau kehendaki. Demi Allah, inilah agama yang benar". Kemudian ia menuju rumah Sayyidah Nafisah dan meminta izin untuk masuk. Sayyidah Nafisah mengizinkanya. Ayah si gadis itu berbicara, kepadanya dari balik tirai. Ia berterima kasih kepada Sayyidah Nafisah dan menyatakan masuk Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat. Kisah itu kemudian menjadi sebab masuk Islamnya sekelompok Yahudi yang lain yang tinggal bertetangga dengannya. Diriwayatkan oleh al-Azhari dalam kitab al-Kawakib as-Sayyarah: Ada seorang wanita tua yang memiliki empat anak gadis. Mereka dari minggu ke minggu makan dari hasil tenunan wanita itu. Sepanjang waktu ia membawa tenunan yang dihasilkannya ke pasar untuk dijualnya; setengah hasilnya digunakannya membeli bahan untuk ditenun sedangkan setengah sisanya digunakan untuk biaya makan minum mereka. Suatu ketika, wanita itu membawa tenunannya yang ditutupi kain yang sudah lusuh berwarna merah ke pasar sebagaimana biasanya. Tiba-tiba seekor burung merusaknya dan menyambar kain itu beserta isinya yang merupakan hasil usahanya selama seminggu. Menyadari musibah yang menimpanya, wanita itu pun jatuh pingsan. Ketika sadar, ia duduk sambil menangis. Ia berpikir bagaimana akan memberi makan anak-anak yatimnya. Orang-orang kemudian memberikan petunjuk kepadanya agar menemui Sayyidah Nafisah. Ia pun pergi ke tempat Sayyidah Nafisah dan menceritakan kejadian yang menimpa dirinya seraya meminta doa kepadanya. Sayyidah Nafisah lalu berdoa, "Wahai Allah, wahai Yang Maha Tinggi dan Maha Memiliki, gantikanlah untuk hamba-Mu ini apa yang telah rusak. Karena, mereka adalah makhluk-Mu dan tanggungan-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu." Kemudian ia berkata kepada wanita tua itu, "Duduklah, sesungguhnva Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu." Maka duduklah wanita itu menantikan kelapangan atas musibahnya, sementara hatinya terus menangisi anak-anaknya yang masih kecil. Tidak berapa lama kemudian, datanglah sekelompok orang menemui Sayyidah Nafisah. Kemudian mereka berkata kepadanya, "Kami mengalami kejadian yang aneh." Berceritalah mereka kepadanya tentang apa yang mereka alami. Mereka sedang mengadakan perjalanan di laut ketika tiba-tiba terjadi kebocoran dan perahu itu nyaris tenggelam. Tiba-tiba datang seekor burung yang menempelkan kain merah berisi tenunan di lobang itu sehingga lobang tersebut tersumbat dengan izin Allah. Sebagai tanda syukur kepada Allah, mereka memberikan lima ratus dinar kepada Sayyidah Nafisah. Maka menangislah Sayyidah Nafisah, seraya mengatakan, Tuhanku, Penolongku, alangkah kasih dan sayangnya Engkau kepada hamba-hamba-Mu!" Sayyidah Nafisah segera mendatangi wanita tua tadi dan bertanya kepadanya berapa ia menjual tenunannya. "Dua puluh dirham," jawabnya. Sayyidah Nafisah memberinya lima ratus dinar. Wanita itu mengambil uang tersebut, lalu pulang ke rumahnya. Kepada putri-putrinya, ia menceritakan kejadian yang ia alami. Mereka semua datang menemui Sayyidah Nafisah serta mengambil berkah darinya seraya menawarkan diri untuk menjadi pelayannya. Keramat-keramatnya Setelah Wafat Kerarnat-keramat Sayyidah Nafisah setelah wafat juga banyak. Di antaranya, pada tahun 638 H, beberapa pencuri menyelinap ke mesjidnya dan mencuri enam belas lampu dari perak. Salah seorang pencuri itu dapat diketahui, lalu dihukum dengan diikat pada pohon. Hukuman itu dilaksanakan di depan mesjid agar menjadi pelajaran bagi yang lain. Pada tahun 1940, seseorang yang tinggal di daerah itu bersembunyi di mesjid itu pada malam hari. Ia mencuri syal dari Kasymir yang ada di makam itu. Namun, ia tidak menemukan jalan keluar dari mesjid itu dan tetap terkurung di sana sampai pelayan mesjid datang di waktu subuh dan menangkapnya. Allahu Akbar. Allahu Akbar.

DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 17:54 0 KOMENTAR
Habib Abdullah
Habib Abdullah Dan Masjid Keramat Empang Bogor
Kawasan Empang Kota Bogor Selatan, pada setiap tahunnya selalu dibanjiri para penziarah yang datang dari berbagai pelosok tanah air, bahkan mancanegara. Empang menjadi terkenal karena di lokasi itu berdiri Masjid Keramat Annur yang lokasinya tepat di Jalan Lolongok.
Di Kompleks Masjid Annur itulah, Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas dimakamkan, bersama dengan makam anak-anaknya yaitu Al Habib Mukhsin Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Zen Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Husen Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Athas, Sarifah Nur Binti Abdullah Al Athas, dan makam murid kesayangannya yaitu Al Habib Habib Alwi Bin Muhammad Bin Tohir.
Para penziarah datang ke Masjid Keramat setiap bulan Maulid, Rajab, dan menjelang akhir bulan Suci Ramadhan. (Likuran-red) Apalagi setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus digelar haul Al Habib Abdullah Bin Muhsin Al Athas, para penziarah datang dari berbagai tanah air dan Mancanagera antara lain Singapura, Malaysia, dan dari berbagai belahan Negara Timur Tengah.
Pada setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, bertepatan dengan Haul (temu tahun-red) Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas, warga Empang selalu menyambutnya dengan berbagai kegiatan. Hampir semua rumah penduduk di sekitar Masjid Keramat di hias, seperti halnya akan melakukan hajatan. Apa yang dilakukan warga untuk menghormati para tamu yang datang ke Empang untuk berziarah ke makam Habib Abdullah Bin Muhsin Al Athos. Karena sesuai dengan wasiat Al Habib Abdullah harus membuka pintu kepada para tamunya. Puluhan bahkan ratusan ekor Kambing di potong untuk menjamu para tamu maupun para penziarah. Makanan khas yang menjadi hidangannya adalah nasi kebuli (Nasi dicampur dengan daging kambing).
Dalam Manakibnya disebutkan bahwa Al Habib Abduillah Bin Mukhsin Al Athas adalah seorang Waliyullah yang telah mencapai kedudukan mulia dekat dengan Allah SWT. Beliau termasuk salah satu Waliyullah yang tiada terhitung jasa-jasanya dalam sejarah pengembangan Islam dan kaum muslimin di Indonesia. Beliau seorang ulama Murobi dan panutan para ahli tasauf sehingga menjadi suri tauladan yang baik bagi semua kelompok manusia maupun jin.
Al Habib Abdullah Bin Mukhsin. Bin Muhammad. Bin Abdullah. Bin Muhammad. Bin Mukhsin. Bin Husen. Bin Syeh Al Kutub, Al Habib Umar Bin Abdurrohman Al Athas adalah seorang tokoh rohani yang dikenal luas oleh semua kalangan umum maupun khusus. Beliau adalah Ahli kasaf dan ahli Ilmu Agama yang sulit ditandingi keluawasan Ilmunya, jumlah amal ibadahnya, kemulyaan maupun budi pekertinya.
Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas beliau asli dari Yaman Selatan dilahirkan di desa hawrat salah satu desa di Al Kasar, Kampung kharaidhoh, Khadramaut pada hari Selasa 20 Jumadi Awal 1275 hijriah. Sejak kecil beliau mendapatkan pendidikan rohani dan perhatian khusus dari Ayahnya. Beliau mepelajari Al Quran dimasa kecilnya dari Mualim Syeh Umar Bin Faraj Bin Sabah. Dalam Usia 17 tahun beliau sudah hafal Al Quran. Kemudian beliau oleh Ayahnya diserahkan kepada ulama terkemuka di masanya. Beliau dapat menimba berbagai cabang ilmu Islam dan Keimanan. Diantara guru–guru beliau, salah satunya adalah Assyayid Al Habib Al Qutbi Abu Bakar Bin Abdullah Al Athas, dari guru yang satu itu beliau sempat menimba Ilmu – Ilmu rohani dan tasauf, Beliau mendapatkan doa khusus dari Al Habib Abu Bakar Al Athas, sehingga beliau berhasil meraih derajat kewalian yang patut. Diantaranya guru rohani beliau yang patut dibanggakan adalah yang mulya Al Habib Sholih Bin Abdullah Al Athas penduduk Wadi amad.
Habib Abdullah pernah membaca Al Fatihah dihadapan Habib Sholeh dan Habib Sholeh menalkinkan Al Fatihah kepadanya Al Arif Billahi Al Habib Ahmad Bin Muhammad Al Habsi. ketika melihat Al Habib Abdullah Bin Mukhsin yang waktu itu masih kecil beliu berkata sungguh anak kecil ini kelak akan menjadi orang mulya kedudukannya.
Al Habib Abdullah Bin Mukhsin pernah belajar Kitab risalah karangan Al Habib Ahmad Bin Zen Al Habsi kepada Al Habib Abdullah Bin Alwi Alaydrus sering menemui Imam Al Abror Al Habib Ahmad Bin Muhammad Al Muhdhor. Selain itu beliau juga sempat mengunjungi beberapa Waliyulllah yang tingal di hadramaut seperti Al Habib Ahmad Bin Abdullah Al Bari seorang tokoh sunah dan asar. Dan Syeh Muhammad Bin Abdullah Basudan. Beliau menetap di kediaman Syeh Muhammad basudan selama beberapa waktu guna memperdalam Agama.
Pada tahun 1282 Hijriah, Habib Abdulllah Bin Mukhsin menunaikan Ibadah haji yang pertama kalinya. Selama di tanah suci beliau bertemu dan berdialog dengan ulama–ulama Islam terkemuka. Kemudian, seusai menjalankan ibadah haji, beliau pulang ke Negrinya dengan membawa sejumlah keberkahan. Beliau juga mengunjungi Kota Tarim untuk memetik manfaat dari wali–wali yang terkenal. Setelah dirasa cukup maka beliau meninggalkan Kota Tarim dengan membawa sejumlah berkah yang tidak ternilai harganya. Beliau juga mengunjungi beberapa Desa dan beberapa Kota di Hadramaut untuk mengunjungi para Wali dan tokoh–tokoh Agama dan Tasauf baik dari keluarga Al Alwi maupun dari keluarga lain.
Pada tahun 1283 H, Beliau melakukan ibadah haji yang kedua. Sepulangnya dari Ibadah haji, beliau berkeliling ke berbagai peloksok dunia untuk mencari karunia Allah SWT dan sumber penghidupan yang merupakan tugas mulya bagi seorang yang berjiwa mulya. Dengan izin Allah SWT, perjalanan mengantarkan beliau sampai ke Indonesia. beliau bertemu dengan sejumlah Waliyullah dari keluarga Al Alwi antara lain Al Habib Ahmad Bin Muhammad Bin Hamzah Al Athas.
Sejak pertemuanya dengan Habib Ahmad beliau mendapatkan Marifat. Dan, Habib Abdullah Bin Mukhsin diawal kedatangannya ke Jawa memilih Pekalongan sebagai Kota tempat kediamannya. Guru beliau Habib Ahmad Bin Muhammad Al Athas banyak memberi perhatian kepada beliau sehinga setiap kalinya gurunya menunjungi Kota Pekalongan beliau tidak mau bermalam kecuali di rumah Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athos. Dalam setiap pertemuan Habib Ahmad selalu memberi pengarahan rohani kepada Habib Abdullah Bin Mukhsin sehingga hubungan antara kedua Habib itu terjalin amat erat. Dari Habib Ahmad beliau banyak mendapat manfaat rohani yang sulit untuk dibicarakan didalam tulisan yang serba singkat ini.
Dalam perjalan hidupnya Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas pernah dimasukan kedalam penjara oleh Pemerintah Belanda, mungkin pengalaman ini telah digariskan Allah. Sebab, Allah ingin memberi beliau kedudukan tinggi dan dekat dengannya. Nasib buruk ini pernah juga dialami oleh Nabi Yusuf AS yang sempat mendekam dalam penjara selama beberapa tahun. Namun, setelah keluar dari penjara ia diberi kedudukan tinggi oleh penguasa Mashor yang telah memenjarakannya.
Karomah dan Kekeramatan Habib Abdullah
Selama di penjara ke keramatan Habib Abdullah Bin Mukhsin semakin tampak sehingga semakin banyak orang yang datang berkunjung kerpenjaraan tersebut. Tentu saja hal itu mengherankan para pembesar penjara dan penjaganya. Sampai mereka pun ikut mendapatkan berkah dan manfaat dari kebesaran Habib Abdullah dipenjara, Setiap permohonan dan hajat yang pengunjung sampaikan kepada Habib Abdullah Bin Mukhsin selalu dikabulkan Allah SWT, para penjaga merasa kewalahan menghadapi para pengunjung yang mendatangi beliau Mereka lalu mengusulkan kepada kepala penjara agar segera membebaskan beliau. Namun, ketika usulan dirawarkan kepada Habib Abdullah beliau menolak dan lebih suka menungu sampai selesainya masa hukuman. Pada suatu malam pintu penjara tiba–tiba terbuka dan datanglah kepada beliau kakek beliau Al Habib Umar Bin Abdurrohman Al Athas seraya berkata, Jika kau ingin keluar dari penjara keluarlah sekarang, tetapi jika engkau mau bersabar maka bersabarlah.
Beliau ternyata memilih untuk bersabar dalam penjara, pada malam itu juga Sayyidina Al Faqih Al Muqodam dan Syeh Abdul Qodir Zaelani serta beberapa tokoh wali mendatangi beliau. Pada kesempatan itu Sayyidina Al Faqih Al Muqodam memberikan sebuah kopiah. Ternyata dipagi harinya Kopiah tersebut masih tetap berada di kepala Al Habib Abdullah Padahal, beliau bertemu dengan Al Faqih Al Muqodam didalam impian. Para pengujung terus berdatangan kepenjara sehingga berubahlah penjaraan itu menjadi rumah yang selalu dituju, Beliau pun mendapatkan berbagai kekeratan yang luar biasa mengingatkan kembali hal yang dimiliki para salaf yang besar seperti Assukran dan syeh Umar Muhdor
Diantara Karomah yang beliau peroleh adalah sebagaimana yang disebutkan Al Habib Muhammad Bin Idrus Al Habsyi bahwa Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ketika mendapatkan anugrah dari Allah SWT, beliau tenggelam penuh dengan kebesaran Allah, hilang dengan segala hubungan alam dunia dan sergala isinya. Al Habib Muhammad Idrus Al Habsyi juga menuturkan, ketika aku mengujunginya Habib Abdullah Bin Mukghsin Al Athos dalam penjara aku lihat penampilannya amat berwibawa dan beliau terlihat dilapisi oleh pancaran Illahi. Sewaktu beliau melihat aku beliau mengucapkan bait –bait syair Habib Abdullah Al Hadad yang awal baitnya adalah sbb: Wahaii yang mengunjungi Aku di malam yang dingin, ketika tak ada lagi orang yang akan menebarkan berita fitrah … Selanjutnya, kata Habib Muhammad Idrus, kami selagi berpelukan dan menangis,

Karomah lainnya setiap kali beliau memandang borgol yang membelegu kakinya, maka terlepaslah borgol itu. Disebutkan juga bahwa ketika pimpinan penjara menyuruh bawahannya untuk mengikat keher Habib Abdullah Bin Mukhsin maka dengan rante besi maka atas izin Allah rantai itu terlepas, dan pemimpin penjara beserta keluarga dan kerabatnya mendapat sakit panas, dokter tak mampu mengobati penyakit pemimpin penjara dan keluarganya itu, barulah kemudian pemimpin penjara sadar bahwa ;penyakitnya dan penyakit keluarganya itu diakibatkan Karena dia telah menyakiti Al Habib yang sedang dipenjara. Kemudian, kepala penjara pengutus bawahannya untuk mendoakan, penyakit yang di derita oleh kepala penjara dan keluarganya itu agar sembuh Maka, berkatalah Habib Abdullah kepada utusan itu Ambillah borgol dan rante ini ikatkan di kaki dan leher pemimpin penjara itu, maka akan sembuhlah dia. Kemudian dikerjakanlah apa yang dikatakan oleh Habib Abdullah, maka dengan izin Allah SWT penyakit pimpinan penjara dan keluarganya seketika sembuh. Kejadian ini penyebabkan pimpinan penjara makin yakin akan kekeramatan Habib Abdullah Mukhsin Al Athas. Sekeluarnya dari penjara beliau tinggal di Jakarta selama beberapa tahun.
Perjalanan ke Empang

Dari sumber lain disebutkan, bahwa awal mula kedatangan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ke Indonesia, pada tahun 1800 Masehi, waktu itu beliau diperintahkan oleh Al Habibul Imam Abdullah bin Abu Bakar Alayidrus, untuk menuju Kota Mekah. Dan sesampainya di Kota Mekah, beliau melaksanakan sholat dan pada malam harinya beliau mimpi bertemu dengan Rasullah SAW, entah apa yang dimimpikannya, yang jelas ke esok harinya beliau berangkat menuju Negeri Indonesia.
Sesampainya di Indonesia, beliau dipertemukan dengan Al Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas yang da dipakojan Jakarta dan beliau belajar ilmu agama darinya, lalu Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas memerintahkan agar beliau datang berziarah ke Habib Husen di luar Batang, dari sana sampailah perjalanan beliau ke Bogor
Beliau datang ke Empang dengan tidak membawa apa-apa, Pada saat belau datang ke Empang Bogor, disana disebutkan bahwa Empang yang pada saat itu belum ada penghuninya, namun dengan Ilmu beliau bisa menyala dan menjadi terang benderang Diceritakan, ada kekeramatan yang lain terjadi pula ketika beliau tengah makan dipinggiran empang, kebetulan pada saat itu datang kepada beliau seorang penduduk Bogor dan berkata Habib, kalau anda benar-benar seorang Habib Keramat, tunjukanlah kepada saya akan kekeramatannya..
Pada saat itu kebetulan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas tengah makan dengan seekor ikan dan ikan itu tinggall separuh lagi. Maka Habib Abdukkah berkata Yaa sama Anjul ilaman Tabis, ( wahai ikan kalau benar-benar cinta kepadaku tunjukanlah) maka atas izin Allah SWT, seketika itu juga ikan yang tinggal sebelah lagi meloncat ke empang. Konon ikan sebelah tersebut sampai sekarang masih hidup dilaut.
Masjid Keramat Empang didirikan sekitar tahun 1828 M. pendirian Masjid ini dilakukan bersama para Habaib dan ulama-ulama besar di Indonesia. Di Sekitar Areal Masjid Keramat terdapat peninggalan rumah kediaman Habib Abdullah, yang kini rumah itu ditempati oleh Khalifah Masjid, Habib Abdullah Bin Zen Al Athas. Didalam rumah tersebut terdapat kamar khusus yang tidak bisa sembarang orang memasukinya, karena kamar itu merupakan tempat khalwat dan zikir beliau. Bahkan disana terdapat peninggalan beliau seperti tempat tidur, tongkat , gamis dan sorbannya yang sampai sekarang masih disimpan utuh.
Kitab-kitab beliau kurang lebih ada 850 kitab, namun yang ada sekarang tinggal 100 kitab, sisanya disimpan di Jamaturkhair atau di Rabitoh . Tanah Abang Jakarta. Salah satu kitab karangan beliau yang terkenal adalah Faturrabaniah konon kitab itu hanya beredar dikalangan para ulama besar. Adapun karangannya yang lain adalah kitab Ratibul Ahtas dan Ratibul Hadad. Kedua kitab itu merupakan pelajaran rutin yang diajarkan setiap magrib oleh beliau kepada murid-muridnya dimasa beliau masih hidup, bahkan kepada anak dan cucunya, Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas menganjurkan supaya tetap dibacanya.
Habib Abdullah Bin Al Athas, adalah seorang Waliyullah dengan kiprahnya menyebarkan Agama Islam dari satu negeri kenegeri lain. Di Kampung Empang beliau menikahi seorang wanita keturanan dalem Sholawat. Dari sanalah beliau mendapatkan wakaf tanah yang cukup luas, sampai sekarang 85 bangunan yang terdapat di kampung Empang didalam sertifikatnya atas nama Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas. Semasa hidupnya sampai menjelang akhir hayatnya beliau selalu membaca Sholawat Nabi yang setiap harinya dilakukan secara dawam di baca sebanyak seribu kali, dengan kitab Sholawat yang dikenal yaitu Dalal Khoirot artinya kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Menurut Manakib, beliau dipanggil Allah SWT pada hari Selasa, 29 Zulhijjah 1351 Hijriah diawal waktu zuhur Jenazah beliau dimakamkan keesokan harinya hari Rabu setelah Sholat zuhur. Tak terhitung jumlah orang yang ikut mesholatkan jenazah. Beliau dimakamkan di bagian Barat Masjid An nur Empang,sebelum wafat beliau terserang sakit flu ringan. (penulis : Iyan dan End)
Sumber: kitab Manakib Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas dan wawancara Gentra Madani dengan Habib Hasan Bin Jafar (Keturunan Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athos).
Umi Mariam bertemu dengan Habib Keramat
Umi Mariam mengaku pernah bertemu langsung dengan Habib Abdullah Bin Mukhsin Alathas. Pertemuan Umi Mariam binti Muhamad Bin Salim Bin Ahmad keika masih berusia 12 tahun, dimana pada saat itu dia dibawa oleh kakeknya Habib Abu Bakar untuk berziarah ke Empang.
Waktu ketemu Habib Abdullah beliau memakai jubah, orangnya kurus, tinggi, matanya pake sifat, hidungnya mancung, janggutnya kekuning-kuningan…Masya Allah…nggak ada yang menyamainya, kenang Umi Mariam yang kini sudah bersia 100 tahun. Namun diusianya yang sudah lanjut itu, ingatan Umi Mariam masih tajam, Ada anaknya yang bernama Husen Bin Abdullah sedikit mirip dengan beliau, tuturnya..
Menurut pengakuan Umi Mariam, ia ternyata bukan hanya bertemu saja, tetapi juga sempat ditanya oleh Habib Keramat, dengan menggunakan bahasa Arab Habib Abdullah bertanya Haja Bintimin?. ( Ini anak siapa? -red ). Ana jawab, Ana Mariam Binti Abdullah Bin Salim Bin Ahmad. Mendengar itu habib keramat tertawa seraya berkata ahli dzuhur… (nama kampung kelahiran Umi Mariam di Malaysia.- red) ibu Al Habsi kalau Aba Al Athas.
Bahkan waktu itu Habib Keramat berkata, bahwa umi Mariam masih kanak-kanak kelak akan menjadi anaknya. Ucapan itu terbukti dengan menikahnya Umi Mariam dengan anak Habib Mukhsin salah seorang anak tertua dari Habib Abdullah.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 17:08 0 KOMENTAR
Ulama dari Malaysia
Syed Hussein Alatas
(17/9/1928 – 23/1/2007)

Professor Syed Hussein Alatas was born in Bogor, Indonesia, on Monday, 17 September 1928, corresponding to 1 Rabiul Akhir 1347.
He was among several intellectuals who formed Gerakan in 1968 as an offshoot of the defunct Labour Party. Gerakan was relatively successful in the 1969 general election, where it campaigned on a platform of social justice and the reduction or elimination of Bumiputra privileges outlined by Article 153 of the Malaysian Constitution. When Gerakan joined the Alliance coalition government in 1972, Syed Hussein left to help form Pekemas (Keadilan Masyarakat Malaysia, or Social Justice Party of Malaysia), based on similar principles that Gerakan had been formed on. However, the party collapsed in 1978 due to massive defections to the Democratic Action Party (DAP).

Syed Hussein's academic career began at the Dewan Bahasa dan Pusaka publishing house, where he worked as head of the research department from 1958 onwards. He began lecturing part-time in philosophy the University of Malaya in 1960, and served as the Head of the Cultural Division at the University's Department of Malay Studies from 1963 to 1967. He served as the Head of the Department of Malay Studies in the National University of Singapore from 1967 to 1988, before quitting to form Gerakan. He returned to academia as the Vice-Chancellor of the University of Malaya in 1988, before becoming a professor at the Centre for General Studies in the Universiti Kebangsaan Malaysia in 1995. He later transferred to the Department of Anthropology and Sociology in 1997, before becoming principal research fellow at the Institute of the Malay World and Civilisation of the same university in 1999.

Syed Hussein has authored a substantial number of books, many of them on corruption.

Syed Hussein died after a fall in his home in Damansara Heights, Tuesday night 23 January 23 2007, at 9.30pm. According to his son-in-law, Datuk Danyal Balagopal Abdullah, Syed Hussein died of a heart attack. He was immediately taken to the University Malaya Medical Centre in Petaling Jaya, where he was pronounced dead. He was buried at Bukit Kiara Muslim Cemetery, Kuala Lumpur.

May Allah have mercy upon his soul.

DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 03:58 0 KOMENTAR
Ulama dari Indonesia
Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari
(17/3/1710 – 13/10/1812)

Syeikh Muhammad Arsyad al Banjari dilahirkan pada 15 Safar 1122 Hijrah bersarnaan 17 Mac 1710 Masihi di Kampung Lok Gabang, Martapura, Banjarmasin. Bapanya Abdullah merupakan seorang pemuda yang dikasihi sultan (Sultan Hamidullah atau Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah 1700 1734M). Bapanya bukan asal orang Banjar, tetapi datang dari India, mengembara untuk menyebarkan dakwah. Beliau seorang ahli seni ukiran kayu.

Semasa ibunya hamil, kedua ibu bapanya sering berdoa agar dapat melahirkan anak yang alim dan zuhud. Setelah lahir, ibu bapanya mendidik dengan penuh kasih sayang setelah mendapat anak sulung yang dinanti nantikan ini. Beliau dididik dengan dendangan Asmaul ¬husna, di samping berdoa kepada Allah. Setelah itu diberi pendidikan Al Quran kepadanya. Kemudian barulah menyusul kelahiran adik-adiknya iaitu 'Abidin, Zainal Abidin, Nurmein, dan Nurul Amien.

Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari Semasa Kecil
Sejak kecil, Syeikh Muhammad Arsyad al Banjari kelihatan cergas dan cerdas serta mempunyai akhlak yang baik dan terpuji. Kehebatan beliau sejak kecil ialah dalam bidang seni lukis dan seni tulis, sehingga sesiapa sahaja yang melihat karyanya akan berasa kagum dan terpukau.

Pada suatu hari, sultan mengadakan kunjungan ke kampung kampung. Apabila baginda sultan sampai ke kampung Lok Gabang, baginda berkesempatan melihat hasil karya lukisan Muhammad Arsyad yang indah lagi memukau hati itu. Justeru, sultan berhajat untuk memelihara dan mendidik Muhammad Arsyad yang tatkala itu baru berusia 7 tahun.

Syeikh Muhammad Arsyad al Banjari mendapat pendidikan penuh di istana sehingga usianya mencapai 30 tahun. Kemudian, beliau dikahwinkan dengan seorang perempuan yang solehah bernama Tuan Bajut. Hasil perkahwinan, beliau memperoleh seorang puteri yang diberi nama Syarifah.

Syeikh Muhammad Arsyad telah meneruskan pengembaraan ilmunya di Makkah dan Madinah. Segala perbelanjaannya ditanggung oleh Sultan Tamjidillah (1745 1778M) dan pengganti baginda Sultan Tahmidillah (1778 1808M). Selama belajar di Makkah, Syeikh Muhammad Arsyad tinggal di sebuah rumah yang dibeli oleh Sultan Banjar yang terletak di kampung Samiyyah iaitu dikenali sebagai Barhat Banjar.

Syeikh Muhammad Arsyad AI Banjari Semasa Di Makkah Dan Madinah
Semasa di Makkah, Syeikh Muhammad Arsyad belajar dengan tekun di Masjidil Haram dalam pelbagai bidang ilmu. Beliau berguru dengan ulama' ulama' terkenal pada masa itu seperti Syeikh Ataillah Bin Ahmad al Misriy, Syeikh Muhammad Bin Sulaiman al Kurdiy, Syeikh Muhammad Bin Abd Karim al Qadiri, Syeikh Ahmad Bin Abd Mun'im al Damanhuri, Syeikh Hasan Bin Ahmad 'Akisy al Yamani, Sheikh Salim Bin Abdullah al¬Basri, dan banyak lagi.

Sahabat sahabat Syeikh Muhammad Arsyad merupakan golongan pencinta kepada ilmu pengetahuan sehingga setiap perternuan yang merupakan majlis ilmu, mereka saling ber-muzakarah bersama sama. Antara sahabat beliau ialah: Syeikh Abdul Samad al Falimbani, Syeikh Abdul Rahman Mesri, Syeikh Daud bin Abdullah al Fatani, Syeikh Abdul Wahab Sadengreng (Bugis), dan Syeikh Muhammad Salih bin Umar al Samarani atau 'Semarang'.

Untuk menambah ilmu, Syeikh Muhammad Arsyad bersama sahabatnya ingin merantau pula ke Mesir. Namun, setelah bersiap untuk berangkat, mereka mendapat khabar bahawa ulama' besar Mesir iaitu Syeikh Muhammad Bin Sulaiman al¬-Kurdie datang ke Madinah. Lantas beliau bersama sahabat pergi ke Madinah untuk berguru dengan syeikh tersebut.

Pulang Ke Tanah Air
Setelah berada selama 30 tahun di Makkah dan lima tahun di Madinah, Syeikh Muhammad Arsyad al Banjari pulang ke tanah air untuk menyebarkan Islam. Setibanya beliau ke kampung halaman, beliau membuka pusat pusat pengajian untuk memudahkan masyarakat Islam menimba ilmu pengetahuan. Selain itu, Syeikh Muhammad Arsyad
turut membiasakan diri bersama orang kampong berkebun, bersawah, dan bertani.

Di samping aktif mengajar dan mendidik masyarakat Islam yang datang dari pelbagai pelosok daerah, beliau turut turun berdakwah ke segenap lapisan masyarakat yang terdiri daripada rakyat biasa hinggalah kepada golongan pembesar dan bangsawan.

Dalam menyampaikan dakwah, Syeikh Muhammad Arsyad menggunakan pelbagai kaedah pendekatan iaitu Dakwah bil Hal (dakwah yang menggunakan pendekatan contoh dan akhlak yang dipamerkan oleh beliau), Dakwah bil Lisan (dakwah dengan menggunakan pendekatan lidah iaitu mengajak dan menyeru) dan Dakwah bil Kitabah (dakwah dengan menggunakan pendekatan penulisan buku dan risalah).

Karya karya Syeikh Muhammad Arsyad AI Banjari
1. Kitab Usuluddin Ditulis pada 1188H (1774 M), ditulis dalam bahasa Melayu, yang memuatkan masalah tauhid dan keimanan. Risalah ini belum pernah dicetak.
2. Luqthatul 'AjIan fi Bayan Haid wa istihadhati wa nifas al Niswan Iaitu kitab yang mengupas mengenai masalah haid, istihadhah, dan nifas. Isi kitab ini terdiri daripada muqaddimah, 15 fasal, dan penutup. Dicetak pada tahun 1992 di Indonesia. Dalam kitab ini dinyatakan bahawa wajib hukumnya bagi perempuan belajar masalah haid, istihadhah, dan nifas. Jika suami orang berilmu, dia wajib mengajar isterinya; jika sebaliknya, dia wajib memberi keizinan kepada isterinya untuk belajar mengenainya.

3. Kitab Tuhfat al Raghibin Ditulis pada 1188H (1774M). Pernah diterbitkan di Mesir pada 1353H. Kitab ini membincangkan masalah tauhid iaitu penjelasan tentang hakikat iman, perkara¬-perkara yang boleh merosakkan iman, tanda seseorang menjadi murtad, dan sebagainya. Kitab ini terdiri daripada muqaddimah, tiga fasal, dan penutup.

4. Kitab al Qawl al Mukhtasar fi 'Alamat al¬Mahdi al Muntazar Kitab ini mula dikarang pada tahun 1196H. Mengandungi perbahasan tentang tanda tanda kiamat seperti Imam Mahdi, Dajjal, turunnya Nabi Isa, terbit matahari sebelah barat. Ditulis dalarn tulisan jawi dan pernah dicetak di Singapura tahun 1356H (1937M).

5. Kitab Ilmu Falak Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab. Penulisannya mernuatkan kaedah bila terjadinya gerhana matahari dan bulan. Walau bagaimanapun kitab ini belum sempat dicetak.

6. Kitab al Nikah Kitab ini menerangkan tentang pengertian wali dan kaedah melaksanakan akad nikah berdasarkan apa yang telah diajar oleh Rasulullah s.a.w. Kitab ini pernah diterbitkan di Istanbul pada 1304H.

7. Kitab Kanzul Ma'rifah Kitab ini berkaitan dengan ilmu tasawuf serta penjelasan mengenai hakikat mengenal diri untuk mencapai makrifat kepada Allah. Isi kandungannya ditulis dalam bahasa Melayu dan belum dicetak.

8. Kitab Sabil al Muhtadin Inilah kitab beliau yang paling masyhur. Kemasyhuran kitab ini akhirnya menjadi khazanah di beberapa perpustakaan besar iaitu di Makkah, Mesir, Turki, dan Beirut. Kitab ini amat popular di Nusantara yang merangkumi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Kemboja, dan Brunei.

Karya Syeikh Muhammad Arsyad al Banjari yang paling terkenal ini merupakan kitab fiqh Melayu yang tersebar luas di seluruh alam Melayu. Terdapat di dalam dua jilid, jilid pertama mempunyai 252 halaman dan jilid kedua 272 halaman. Perbincangan dalam kitab ini meliputi persoalan ibadah yang menyentuh thaharah, solat, puasa, zakat, haji, akikah, korban, makanan yang halal dan haram serta sembelihan.

Kitab ini ditulis atas permintaan Sultan Tahmidillah Bin Sultan Tamjidillah. Penulisannya mengambil masa selama dua tahun iaitu dimulai pada 1193H/1779M dan selesai pada 27 Rabiul Akhir 1195H. Kitab ini pertama kali dicetak di Istanbul pada tahun 1300H/1882M kemudian diulang cetak di Kaherah dan Makkah.

Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari Meninggal Dunia
Beliau meninggal dunia pada malam Selasa iaitu di antara waktu Maghrib dan Isyak, pada 6 Syawal 1227 Hijrah bersamaan 13 Oktober 1812 Masihi. Beliau meninggal dunia pada usia 105 tahun dengan meninggalkan sumbangan yang besar terhadap masyarakat Islam di Nusantara.

Bagi mengenang jasa dan sumbangan beliau, beberapa tempat di Indonesia telah mengabadikan nama dan karya beliau. Antaranya ialah Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad al Banjari dan Masjid Raya Sabilal Muhtadin.





DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 03:29 0 KOMENTAR
Ulama dari Indonesia
Abdul Malik bin Abdul Karim Hamka
(17/2/1908 – 24/7/1981)

Dia lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Nama sebenarnya ialah Haji Abdul Malik bin Abdul Karim. Ayahnya ialah Syekh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Meninjau hingga Darjah Dua. Ketika usia HAMKA 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syekh Ibrahim Musa, Syekh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R. M Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo.
HAMKA lebih banyak belajar sendiri dan melakukan penyelidikan meliputi pelbagai bidang ilmu pengetahuan seperti falsafah, kesusasteraan, sejarah, sosiologi dan politik sama ada Islam atau Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, dia dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-‘Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Husein Haikal. Melalui bahasa Arab juga, dia meneliti karya sarjana Perancis, Inggeris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Freud, Toynbee, Jean Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti.

HAMKA juga rajin membaca dan bertukar-tukar fikiran dengan tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Chokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fakrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil dia mengasah bakatnya hingga menjadi seorang pemidato yang handal.

Kerjaya HAMKA bermula sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai pensyarah di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, dia dilantik sebagai Rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustapo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun1960, dia dilantik sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakan jawatan apabila Sukarno memberi kata dua sama ada menjadi pegawai kerajaan atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslim Indonesia (Masyumi).

HAMKA juga aktif dalam gerakan Islam melalui pertubuhan Muhammadiyah. Dia menyertai pertubuhan itu mulai tahu 1925 bagi menentang khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahu 1928, dia mengetuai cawangan Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, HAMKA mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah. Pada tahun 1931, dia menjadi Konsul Muhammadiyah di Makasar. Kemudian dia terpilih menjadi Ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah menggantikan S. Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Dia menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Jogjakarta pada tahun 1950. Pada tahun 1953, HAMKA dipilih sebagai Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiah.

Pada 26 Julai 1957, Menteri Agama Indonesia iaitu Mukti Ali melantik HAMKA sebagai ketua Umum Majlis Ulama Indonesia tetapi dia meletak jawatan pada tahun 1981 kerana nasihatnya diketepikan oleh pemerintah Indonesia.

Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 apabila dia menjadi anggota parti politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, dia membantu menentang kemaraan kembali penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerila di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai Ketua Front Pertahanan Nasional, Indonesia. Dia menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro-Malaysia. Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Di samping aktif di Indonesia, HAMKA juga aktif pada peringkat antarabangsa. Pada tahun 1950, dia mengunjungi Arab Saudi, Mesir, Syria, Iraq dan Lebanon untuk membincangkan hal-hal yang berhubung dengan agama Islam.Pada tahun 1952, dia melawat Amerika Syarikat selama empat bulan atas tajaan State Department. Pada tahun1954, HAMKA mengunjungi Burma sebagai wakil Departemen Indonesia sempena perayaan 2000 tahun Buddha. Pada taun 1958, dia menyertai seminar Islam di Lahore dan pada tahun 1967 HAMKA menjadi tetamu kerajaan Malaysia.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an lagi, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, dia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, dia menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar dan antara novelnya termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.

HAMKA pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti Doktor Honoris Causa, Universiti al-Azhar, 1958; Doktor honoris Causa, Universiti Kebangsaan Malaysia, 1974 dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno daripada kerajaan Indonesia.

HAMKA meninggal dunia pada 24 Julai 1981.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 03:21 0 KOMENTAR
Ulama dari Arab Saudi
Muhammad Bin Alawi Abbas Al-Maliki
(1949 – 29/10/2004)

He was Syed Muhammad bin ‘Alawi ‘Abbas bin Abdul Aziz Al-Maliki, born in 1949, and a descendent of the prophet Muhammad (Blessings and Salutations of peace upon Him) through Imam Hasan, a grand-son of the prophet. He was a contemporary Saudi Arabian scholar of Tafseer (interpretation of the Qur’an), Hadith (the sayings of the Prophet), Fiqh (Islamic law), `Aqeedah (tenets of faith) and Seerah (Prophetic biography). He was the most highly acclaimed and respected scholar (Shaykh) in Makkah (Mecca). He was born to a family of traditional Maliki scholars of ancestral residence in the Holy City. His grandfather was the Qadi (Chief Judge) of Makkah and an Imam of the Holy Mosque, the site of the Ka’bah.
His father Sayyid Alawi taught and lectured in the precints of the Holy Mosque for 30 years until he passed away on Wednesday, 21 April 1971 / 25 Safar 1391 , his funeral being the biggest one in the area in the present era. Sayyid Muhammad was educated by his eminent father from childhood and was authorised to teach every book he studied with him. He also learnt at the feet of prominent scholars of Makkah such as Shaykh Say-yid Ameen Kutbi, Shaykh Hassan Masshat, Shaykh Muhammad Nur Sayf, Shaykh Saeed Yamani and many others.
At the age of 25 he received his PhD from from the esteemed Al Azhar university of Egypt. His thesis - on Hadith (the sayings of the Prophet) - was rated excellent and highly praised by the ‘ulama (learned elders) there at the time such as Imam Abu Zahra. During his never-ending quest for knowledge he has travelled extensively to north Africa, Egypt, Syria, Turkey, Yemen and the Indo-Pak sub-continent to gather Hadith, collect manuscripts, visit scholars, saints and benefit from their wisdom.
Apart from the ‘ulama of the Hijaz (Arabian Peninsula) he has got "Sanad" or "‘Ijazah" (lineage of authority to teach and guide) in the theological and spiritual sciences from eminent savants all over the Islamic world. The great Da’ee (spreader of the religion) and Imam of Yemen, Imam Habib Ahmad Mashur al-Haddad , Shaykh Hasnayn Makhluf the great Mufti of Egypt, Shaykh al Ghimari of Morrocco , Shaykh Diauddin Qadiri of Madinah and numerous others have given him their ‘ijazah.
In 1970 he was appointed professor of Islamic studies at the Umm-ul-Qurra university in Makkah. In 1971, after his father’s death, the scholars of Makkah asked him to accept his father’s position as a teacher in the Holy Mosque, which he did. Hundreds of students have learnt at his feet and have become savants of Islamic knowledge and spirituality in their countries, particularly Indonesia, Malaysia, Egypt, Yemen and Dubai. Since 1983 he concentrated on research and teaching. He also gave classes at his home and mosque on al-Maliki street in the Rusayfa district of Makkah. He was highly respected by the Saudi government and was nominated head judge at the international Qira’at (Qur’anic reading) competition in Makkah three times from 1399 AH to 1401 AH. He was also the author of close to one hundred books. Among his well known books:

- Huwa Allah
- Imam Dar al-Hijrah Malik bin Anas
- Fadhl al-Muwatto’
- Tarikh al-Hawadith
- At-Toli’ as-Sai’d al-Muntakhab min al-Musalsalat wa al-Asanid
- Al-Manhal al-Latif
- Shari’atullah al-Khalidah
- Al-Qawaid al-Asasiyyah
- Mafahim Yajibu an Tusohahah
- Muhammad al-Insan al-Kamil
- Az-Zakhair al-Muhammadiah
- Duru’ al-Wiqayah bi Ahzab al-Himayah
- Abwab al-Farj
- Syawari’ al-anwar min Ad’iyah al-Saadah al-Akhyar

He passed away at the age of 56, in Mecca, on Friday, 15 Ramadan 1425 / 29 October 2004, after his sahoor.

May Allah have Mercy upon his soul, Amen.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 03:10 0 KOMENTAR
Foto Ulama seluruh dunia

DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 03:07 0 KOMENTAR
Imam Sya'roni ra
IImam Sya'roni adalah nama tenar dari Abdul Wahab al-Sya’roni. Pengarang kitab al-Mizan al-Kubro ini berasal dari salah satu keluarga besar Bani Alawiyyah (keturunan Nabi SAW). Tetapi, di saat terjadi ketegangan antara keturunan Bani Alawiyah dengan Bani Umawiyah, keluarga besar Bani Alawiyah yang merupakan keluarga besar Imam al-Sya’roni, berpindah ke Maghrib (Maroko); yang pada akhirnya Bani Alawiyah mampu mendirikan sebuah kerajaan di sana. Dengan demikian, Imam al-Sya’roni mempunyai silsilah keturunan dari Muhammad bin al-Hanafiah bin Ali bin Abi Thalib.Menurut riwayat yang shahih, tokoh kita ini dilahirkan pada tanggal 27 Ramadhan tahun 898 H, di sebuah pedesaan yang bernama Qalqasyandah (daerah selatan Mesir). Desa tersebut merupakan pedesaan kakeknya dari jalur ibu. Tapi, setelah empat puluh hari dari hari kelahiranya, al-Sya’roni dibawa oleh sang ibu untuk pindah dari desa kelahiranya, menuju desa asal ayahandanya yaitu desa Abu Sya'roh di propinsi Manufiyyah, yang lambat laun dari desa tersebut Imam Sya’roni mendapatkan sebuah gelar; yaitu al-Sya’roni.
I
mam Sya'roni dan dunia ibadah

Pada usia yang masih sangat belia, al-Sya’roni telah ditinggal mati oleh ayahnya. Setelah itu Sya'roni kecil dirawat oleh seorang paman yang shalih dan ahli ibadah. Sang paman yang shalih selalu membimbing kemenakannya untuk selalu hidup dalam keshalihan dan ketaatan kepada Tuhan. Dari hasil didikan seorang paman yang taat ini, bukan sesuatu yang mengherankan jika Imam Sya’roni semenjak kecilnya, merupakan seorang anak yang terkenal akan ibadah dan pengabdianya kepada Allah. Semenjak usia delapan tahun, dia telah terbiasa melakukan shalat malam, dengan menenggelamkan diri dalam dzikir-dzikir yang mengagumkan. Keyatiman yang ia alami, tidak menjadikan dirinya berkembang sebagai anak yang hidup dalam keputusasaan dengan tanpa harapan. Semenjak kecil, ia telah menyakini dalam hatinya yang paling dalam, bahwa Allah telah menjaganya dari sifat keberagamaan yang lemah, sebagaimana Allah selalu menjaga dirinya dari perbuatan yang tercela dan hina. Bahkan dalam hatinya, dia juga percaya bahwa Allah telah memberikan kepada dirinya kecerdasan yang bisa dijadikan pisau dalam memahami semua keilmuan dengan benar, yang sekaligus mampu memahami semua kerumitan- kerumitan yang ada.

Imam Sya'roni dan dunia kelimuan

Dalam sejarah hidupnya, kecintaan Imam Sya’roni terhadap ilmu-ilmu agama, telah menjadikan dirinya melakukan perjalananan dari desa asalnya menuju Kairo. Ketika berada di Kairo, dia yang semenjak kecil dididik dengan keshalihan dan ketaatan, selalu menghabiskan waktu-waktu yang ia miliki dengan beribadah dan menelaah semua keilmuan. Dia telah menjadi semakin alim dan bertakwa. Waktu-waktunya hanya ia habiskan untuk beribadah dan belajar, di dalam sebuah masjid. Semenjak berada di Kairo, dia telah berhasil bertemu dengan para ulama-ulama besar; seperti Jalaluddin al-Syuyuthi, Zakaria al-Anshori, Nashirudin al-Laqoni dan al-Romli, yang guru-gurunya ini selalu ia kenang dalam beberapa tulisan kitabnya. Di Kairo, Imam agung ini mempelajari semua keilmuan yang ada pada zamanya. Dia selalu mempelajari semua keilmuan dengan semangat belajar yang luar biasa. Dia merupakan simbol dari seorang murid yang teladan dan rajin pada zamanya. Dia selalu mencari sebuah kebenaran di manapun ia berada. Dalam pandangannya, semua imam adalah figur yang telah mendapatkan sebuah petunjuk dari Allah. Dia tidak melakukan sikap fanatisme yang berlebihan terhadap salah satu mazhab, dan tidak tergesa-gesa dalam menilai sebuah ijtihad dari salah satu mazhab tertentu, kecuali setelah melakukan pengkajian yang matang dan mendetail. Dan, setelah ia menguasai beberapa disiplin ilmu yang ada pada zamanya, dia tidak berubah menjadi seorang yang sombong dan angkuh, tapi tetap menjadi seorang yang tawadhu’ dan rendah hati. As-Sya'roni sebagaimana ahli sufi lainnya, selalu menghindari perdebatan yang tidak ada gunanya di saat menuntut ilmu. Dia memahami betul bahwa berdebat hanya akan menjauhkan dirnya dari cahaya Tuhan.

As-Syaroni dan Ali al-Khowwas

Pertemuan antara al-Sya’roni dan al Khowwas, merupakan salah satu bukti betapa pentingnya seorang Syaikh dalam dunia para sufi. Al-Khowwas adalah seorang laki-laki yang telah diberikan Allah sebuah mauhibah dan keistimewaan, dalam menjalani badai kehidupan. Dia merupakan salah satu anugrah, yang pernah diberikan Allah kepada umat manusia dalam menuju sebuah hakikat. Al-Khowwas merupakan simbol kebenaran atas keberadaan ilmu Laduni dalam dunia sufi. Semenjak kecil Dia adalah seorang yang ummi(buta huruf), yang dalam setiap perkataannya selalu diwarnai dengan ayat-ayat Alquran dan Hadits. Dia mampu mengambil sebuah istimbat dari dalil-dalil tersebut, dengan sangat menakjubkan dan mengherankan. Pertemuannya dengan al-Sya’roni, merupakan sebuah bukti dari keistimewaan seorang wali dengan ilmu laduninya, dengan seorang alim yang belum mencapai derajat tersebut. Al-Khowwas adalah seorang ummi, sedang al-Sya’roni adalah seorang yang alim. Tapi, itu semua hanya dalam penampakan lahir belaka. Pada hakikatnya al-Khowwas adalah seorang alim sedang al-Sya’roni adalah seorang ummi. Ilmu al-Khowwas adalah ilmu mauhibah yang langsung diterima dari Allah, sedang ilmu al-Sya’roni adalah ilmu yang bersumber dari kitab-kitab bacaan yang hakikat ilmu tersebut menurut orang sufi bukan merupakan ilmu yang dimiliki secara hakiki, melainkan ilmu yang didapat melalui bacaan terhadap kitab. Al-Khowwas adalah seorang yang telah mengantarkan al-Sya’roni menuju dunia sufi yang sesunggungya. Dia telah mengantarkan al-Sya’roni mencapai derajat kewalian, dan mengajarkan tata cara mencapai sebuah ilmu laduni. Dalam beberapa kesempatan Al-Sya’roni mengisahkan bagaimana al-Khowwas telah memberikan pengajaran kepada dirinya dalam mencapai derajat tersebut. Yang pertama ia lakukan adalah menjual semua kitab yang ia miliki, dan menghabiskan semua hasil penjualan kepada fakir miskin. Pada awalnya, al-Sya’roni merasa berat menjalankan perintah sang guru, bahkan setelah melakukan semua perintah tersebut, al-Sya’roni merasa tidak enak hati dan terus memikirkan kitab-kitab yang telah ia jual. Ia merasa telah kehilangan semua ilmu yang selama ini ia tekuni. Tetapi, ketika al-Khowwas mengetahui hal tersebut, beliau memerintahkan kepada al-Sya’roni untuk memperbanyak dzikir kepada Allah. Setelah mampu menanggulangi cobaan pertama ini, al-Khowwas menyuruhnya menghindari keramaian manusia (uzlah), hingga pada akhirnya al-Sya’roni merasa dirinya paling baik dibandingkan dengan yang lainya. Al-Khowwas kemudian menganjurkan kepada al-Sya’roni untuk terus melakukan mujahadah hingga ia akan merasakan bahwa dirinya lebih hina dari pada orang yang paling hina sekalipun.Setelah masa-masa tersebut, al-Khowas menyuruh al-Sya’roni untuk berbaur kembali dengan masyarakat ramai, dengan bersabar atas apa yang mereka lakukan terhadap dirinya. Al-Sya’roni ketika menjalankan hal tersebut merasakan bahwa dirinya merupakan orang yang paling tinggai derajatnya jika dibandingkan dengan orang lainya. Tetapi, seperti biasanya, al-Khowwas kemudian memerintahkan kepada dirinya untuk menghilangkan perasaan-perasaan tersebut. Al-Khowwas menyuruh al-Sya’roni untuk memperbanyak dzikir kepada Allah dalam semua waktu-waktunya. Ia tidak boleh memikirkan hal lain selain sang pencipta. Sehingga ia harus menjalani masa-masa itu selama berbulan-bulan. Dan bukan hanya itu saja, al-Khowwas kemudian menyuruh dirinya untuk menghindar dari nafsu makan. Makan hanya dilakukan untuk menjaga kelangsungan hidup belaka, sehingga al-Sya’roni ketika itu merasakan dirinya telah terbang ke atas.Mujahadah yang telah diajarkan al-Khowwas kepada al-Sya’roni telah menjadikan dirinya memiliki keilmuan yang tidak ia duga sebelumnya. Ia merasakan, bahwa ilmu yang telah ia miliki, mendapatkan pesaing dari ilmu mauhibah yang baru ia dapat. Ilmu yang baru ia dapat telah memberi penyempurnaan terhadap ilmu yang selama ini ia miliki. Hati al-Sya’roni telah dibuka oleh Allah, dan diberikan pengetahuan-pengetahuan yang hanya dimiliki oleh seorang sufi saja. Tetapi, walaupun al-Sya’roni telah mendapatkan ilmu laduni dari Allah, al-Khowwas yang dalam hal ini berperan sebagai guru al-Sya’roni, membimbing kepada dirinya untuk terus melakukan berbagai macam mujahadah dalam rangka membersihkan hatinya dari belenggu duniawi. Sehingga pada akhirnya al-Sya’roni mampu mendapatkan berbagai macam ilham dan karomah yang telah diberikan langsung oleh Allah kepada dirinya.

Karomah Imam Sya'roni

Suatu ketika antara Syaekh Abd al-Wahhab dengan Syekh Nasiruddin al-Laqqani, terjadi kesalahkepahaman karena ada aduan dari sebagian orang yang hasud pada Syaekh Abd al-Wahhab. Dia mengadu pada Syekh Nasir bahwa Syekh Sya'roni dalam majlis pengajiannya mencampur santri laki-laki dengan santri perempuan. Ketika Syekh Sya'roni mengetahui bahwa Syekh Nasir terkena tipuan orang ini, maka beliau sowan ke Syekh Nasir untuk meminjam kitab "Al-Mudawwanah". Syaekh Nasir dalam kesempatan itu mengatakan : " Aku harap engkau tidak melakukan pelanggaran lagi, dan engkau kembali pada Syariat yang benar ! ". Syaekh Sya'roni menjawab : " InsyaAllah itu akan terjadi ". Setelah itu, Syaekh Nasir menyuruh pembantunya untuk mengeluarkan kitab "Al-Mudawwanah" dari lemari, dan menyuruhnya mengantarkannya ke rumah Syekh Sya'roni. Beberapa saat setelah sampai di rumah Syekh Sya'roni, pembantu itu mohon diri untuk pulang. Namun Syekh Sya'roni menahan dan meminta agar ia mau menginap barang satu malam.Keduanya mengisi malam itu dengan bercengkerama sampai larut malam. Ketika malam telah melampaui sepertiganya, Syekh Sya'roni masuk ke kamar kholwatnya. Kira-kira seperempat jam, beliau keluar untuk membangunkan pembantu itu agar sholat tahajjud. Lalu dia bangun, berwudlu dan sholat bersama Syekh Sya'roni sampai menjelang subuh. Selesai solat Subuh mereka berdua membaca Qur'an bersama, lalu mengamalkan wirid masing masing sampai matahari terbit. Menginjak matahari setinggi tombak Syekh Sya'roni mengajaknya untuk ke kamar dan makan pagi bersama. "Tolong kembalikan kitab al-Mudawwanah ini pada Syekh Nasir dan sampaikan rasa terima kasih saya" ucap Syekh Sya'roni setelah acara makan pagi selesai. Khodim Syekh Nasir ini heran dan bertanya-tanya dalam hatinya : " Apa maksud Syakh Sya'roni ini, meminjam kitab hanya satu malam saja? Apa yang telah dilakukannya dengan kitab ini? ". Ketika dia sampai pada gurunya dan mengembalikan kitab tersebut Syekh Nasir tambah marah pada Syekh Sya'roni. Di tengah rasa marah ini Syekh Nasir ditanya tentang suatu masalah yang mengharuskannya untuk membaca kitab Al-Mudawwanah. Ketika membukanya ia kaget karena di situ ada catatan-catatan tangan Syekh Sya'roni. Demikian lembar demi lembar selalu ada catatan tangan Syekh Sya'roni. Karena heran dengan kenyataan ini Syekh Nasir bertanya pada muridnya tadi : "Apa yang dilakukan Syekh Sya'roni dengan kitab ini ?". Diapun menjawab: " Demi Allah… dia tidak berpisah dariku kecuali hanya dua puluh menit, beliau tidak meninggalkan wiridan dan tahajjudnya ". Demi mendengar keterang muridnya ini, Syekh Nasir lalu pergi menghadap Syekh Sya'roni dengan tanpa memaakai alas kaki dan tutup kepala. Ketika sampai di hadapan Syekh Sya'roni Syekh Nasir berkata : " Sekarang aku bertaubat. Aku tidak akan berani lancang pada golongan ahli Tasawwuf ". Syaekh Sya'roni lalu berkata : "Maukah tuan aku tunjukkan kitab ringkasan kitab Al-Mudawwanah, yang aku lakukan malam itu ? kalau memang ada yang menerimanya itu semata-mata anugerah Allah, dan barokah Izin Nabi SAW. Kalau tidak ada yang menerimanya maka aku akan menghapusnya dengan air ". Lalu Syaekh Nasir memberikan kata pengantar, dan memuji kitab Syekh Sya'roni ini.Di antara karomah Imam Sya'roni adalah suatu ketika ia tidur di rumah kawannya di sebuah ruang terpencil yang banyak jinnya. Pada petang harinya kawannya ini menyalakan lampu di ruangan itu, menutup pintu lalu meninggalkan Syekh Sya'roni sendirian. Lalu datanglah sekelompok jin. Mereka mematikan lampu dan mengitari Syekh kita ini hendak mengganggunya. Tahu akan apa yang terjadi Syekh Sya'roni berkata : " Demi keagungan Allah…. Kalau saja aku mau menangkap salah satu di antara mereka, niscaya tidak akan ada satupun yang mampu melepaskannya". Lalu Imam Sya'roni tertidur dengan tenang seperti tidak ada apa-apa.Di antara karomahnya adalah, suatu ketika Imam Sya'roni berkata : "Aku diberi anugrah oleh Allah berupa pengetahuan apakah seorang wali sedang berada dalam kuburnya atau tidak. Karena memang para wali dalam kuburnya mempunyai aktifitas tersendiri. Mereka selalu datang dan pergi. Keistimewaan ini juga di miliki oleh Syekh Ali al-Khowwas guru Syaekh Sya'roni. Sang guru ini kalau melihat seseorang mau ziaroh ke makam seorang wali kadang-kadang mengatakan : " Cepatlah pergi kesana, karena sebentar lagi sang wali mau pergi untuk keperluan ! ". Suatu ketika Syekh Sya'roni ziarah ke makam Syekh Umar Ibn al-Faridl, tapi tidak menjumpainya dalam kuburannya. Setelah itu, Syekh Umar datang kepadanya, sambil berkata : " Maafkan saya, karena tadi aku ada keperluan ".

Wafat

Imam Sya'roni wafat pada tahun 973 H 1565 M.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 02:35 0 KOMENTAR
Sayyid Abdul Hayy Siddiq al-Ghumari
Beliau ialah al ‘Allamah al Faqih al Usuli al Muhaddith al Muhaqqiq al Mudaqqiq al Imam Maulana Sayyid Abdul Hayy bin Muhammad bin Siddiq bin Ahmad bin Muhammad bin al Qasim bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Mukmin bin Ali bin al Hasan bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdullah bin Isa bin Sa'id bin Mas'ud bin al Fudhoil bin Ali bin Umar bin al 'Arabi bin 'Allal (Ali menurut bahasa Maghribi) bin Musa bin Ahmad bin Daud bin Maulana Idris al Asghor bin Maulana Idris al Akbar bin Abdullah al Kamil bin al Hasan al Muthanna bin Imam al Hasan al Mujtaba bin Amirul Mukminin Sayyiduna Ali dan Sayyidah Fatimah al Zahra' binti Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w. Ini merupakan juraian keturunan yang disepakati dan popular sebagaimana yang disebut oleh dua orang abang beliau, Sayyid Ahmad al Ghumari dan Sayyid Abdullah al Ghumari. Sayyid Ahmad al Ghumari menyebut perkara ini di dalam kitab beliau yang berjudul al Tasawwur wat Tasdiq bi Akhbar Syeikh Sayyid Muhammad al Siddiq. Manakala Sayyid Abdullah al Ghumari pula menyebutnya di dalam kitab beliau yang berjudul Sabilut Taufiq dan Bida’ut Tafasir.
Kelahiran

Beliau dilahirkan di Tonjah (Tangiers), Morocco. Adapun tarikh kelahiran beliau, saya tidak menemukan sumber yang menyebutnya. Latar belakang keluarga. Sayyid Abdul Hayy al Ghumari dilahirkan di kalangan keluarga al Ghumariyyah yang terkenal dengan keilmuan, ketaqwaan, kesolehan, kemuliaan dan kesucian keturunan. Ayahanda beliau Sayyid Muhammad Siddiq al Ghumari merupakan seorang ulama’ rabbani yang memainkan peranan penting dalam mentarbiah beliau sebagaimana adik beradik beliau yang lain. Datuk beliau sebelah ibu, Sayyid Ibnu ‘Ajibah al Hasani adalah seorang ulama’ yang tidak asing lagi di dunia Islam melalui karya-karya beliau yang masih wujud hingga ke hari ini. Abang sulung beliau, Sayyid Ahmad al Ghumari merupakan tokoh hadith yang tiada tandingannya sehingga mencapai martabat al Hafiz. Abang kedua beliau, Sayyid Abdullah al Ghumari ialah seorang pakar rujuk dalam pelbagai lapangan ilmu. Adik beradik beliau, Sayyid Abdul Aziz, Sayyid al Hasan, Sayyid Ibrahim dan Sayyid Muhammad Zamzami adalah tokoh-tokoh muhaddithin dan muhaqqiqin.

Latar belakang pendidikan

Sebagaimana adik beradik beliau yang lain, Sayyid Abdul Hayy al Ghumari memulakan pendidikan seawal usia lima dengan menghafal al Quran dan sebahagian besar matan-matan ilmu yang lain. Pada tahun 1355 Hijrah (1937), beliau bersama adiknya Sayyid Abdul Aziz al Ghumari merantau ke Mesir untuk melanjutkan pelajaran di sana. Beliau menetap di Mesir selama 11 tahun. Dalam tempoh ini, beliau berusaha bersungguh-sungguh tanpa mengenal penat lelah mencari ilmu pengetahuan sehingga akhirnya beliau menjadi seorang tokoh ilmuwan sebagaimana adik beradiknya yang lain. Sayyid Abdul Hayy al Ghumari merupakan seorang pakar ilmu Usul Fiqh. Ini boleh dilihat melalui karya-karya dan kajian-kajian ilmiah yang beliau hasilkan dalam bidang ini. Beliau juga merupakan seorang muhaddith sepertimana adik beradik beliau yang lain di samping sebagai seorang yang mahir dalam perdebatan. Melalui perdebatan, beliau berusaha membetulkan fahaman-fahaman salah lagi melampau yang timbul daripada sikap taasub sebahagian pengikut mazhab-mazhab tertentu.

Kerjaya

Selesai menamatkan pengajian, beliau pulang ke Morocco. Di sana, beliau menjadi tenaga pengajar di dalam bidang Usul Fiqh di sebuah institut pengajian Islam yang terletak di Tonjah. Setelah itu, beliau dilantik menjadi pengetua institut tersebut. Apabila sistem pendidikan institut-institut pengajian di Morocco mengalami perubahan disebabkan kemasukan unsur-unsur tertentu, beliau meletakkan jawatan sebagai tanda bantahan terhadap perubahan yang berlaku. Kemudiannya, beliau mengadakan majlis pengajian khusus di rumahnya yang mana beliau mengajar ilmu Usul Fiqh, Fiqh, Nahu dan Balaghah. Selain itu, beliau juga sering ke udara melalui ruangan radio Morocco di mana beliau menjawab segala pertanyaan yang timbul dari seluruh pelusuk Morocco.

Guru-guru

Antaranya:

1. Ayahanda beliau, Sayyid Muhammad bin Siddiq al Ghumari al Idrisi al Hasani.
2. Abang-abang beliau, Sayyid Ahmad al Ghumari dan Sayyid Abdullah al Ghumari.
3. Syeikh Abdul Rahman Qoro’ah, mufti Kerajaan Mesir.
4. Al Muhaddith al ‘Allamah Sayyid Badruddin al Hasani al Dimasyqi.
5. Al ‘Allamah Syeikh Roghib al Tobbakh al Halabi.
6. Al ‘Allamah Syeikh Khalil bin Badr al Maqdisi.
7. Al ‘Allamah Syeikh Abdul Mu’ti al Syarsini al Misri.
8. Al ‘Allamah Syeikh Abdul Wahhab bin al Sayyid bin Salim al Misri.
9. Al ‘Allamah Syeikh Muhsin Nasr al Yamani dan lain-lain lagi.

Karya-karya beliau

Sepanjang usia beliau, Sayyid Abdul Hayy telah menghasilkan sebanyak 23 buah karya yang merangkumi pelbagai bidang ilmu khususnya Usul Fiqh, Fiqh dan Hadith. Antaranya:

1. Tabyin al Madarik li Rujhan Sunniyyah Tahiyyatul Masjid Waqta Khutbah al Jumu’ah fi Mazhab Malik.
2. Thubut al Ajr bi Bayan Hukm Solatil Witr ba’ada Solatil Fajr.
3. Al Iqna’ Bi’tibar Khilaf Daud fil Ijma’.
4. Rukhos al Toharah was Solah wa Tasydidat al Fuqaha’.
5. Hukmut Tayammum fil Kitab was Sunnah.
6. Hukmul Lahm al Mustaurid min Urubba.
7. Hukmud Dukhan wa Tobah was Solah Khalfa Muta’atihima.
8. Al Ihlal bi Jawabis Sual ‘an Hukmi Aghlal.
9. Iqomatul Hujjah ‘ala Annal Aimmah al Arba’ah lam Yuhitu Bis Sunnah dan lain-lain lagi.

Pesanan beliau

Sayyid Abdul Hayy al Ghumari seringkali berpesan kepada para penuntutnya agar selalu berpegang dengan Sunnah Nabawiyyah dan tidak berpaling daripadanya walau apapun yang berlaku serta mendahulukannya daripada segala pendapat di samping berusaha menyebarkannya. Beliau berkata di dalam ijazahnya yang dianugerahkan buat para pelajarnya: Saya juga berpesan kepada beliau agar berusaha bersungguh-sungguh dalam menyebarkan dakwah supaya kembali beramal dengan al Quran dan Sunnah Nabawiyyah kerana beramal dengan keduanya (al Quran dan Sunnah) dan berusaha melaksanakan perintah dan larangan keduanya merupakan jalan kearah bantuan Allah Taala buat umat ini sebagaimana yang ditegaskan oleh-Nya menerusi Kitab-Nya…

Kewafatan

Setelah memerah usia dalam perjuangan mempertahankan al Quran dan Sunnah Nabawiyyah, akhirnya pada bulan Sya’aban tahun 1415 Hijrah (1995) Sayyid Abdul Hayy al Ghumari menyahut panggilan Ilahi. Jenazah beliau disemadikan bersebelahan pusara ayahanda dan bondanya di Madrasah Siddiqiyyah. Semoga Allah Taala merahmati beliau dan membalas jasa-jasa beliau dalam mempertahankan Sunnah Nabawiyyah dengan sebaik-baik pembalasan. Amin.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 02:32 0 KOMENTAR
Sayyid Abdullah Siddiq al-Ghumari
Beliau ialah al-Imam al-'Allamah al-Hafiz al-Muhaddith al-Usuli al-Muhaqqiq al-Mudaqqiq Abul Fadhl Sayyid Abdullah bin Muhammad bin Siddiq bin Ahmad bin Muhammad bin al-Qasim bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Mukmin bin Ali bin al-Hasan bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdullah bin Isa bin Sa'id bin Mas'ud bin al-Fudhoil bin Ali bin Umar bin al-'Arabi bin 'Allal bin Musa bin Ahmad bin Daud bin Maulana Idris al-Asghor bin Maulana Idris al-Akbar bin Abdullah al-Kamil bin al-Hasan al-Muthanna bin Imam al-Hasan al-Mujtaba bin Amirul Mukminin Sayyiduna Ali dan Sayyidah Fatimah al-Zahra' binti Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w. Berkata Sayyid Abdullah al-Ghumari di dalam kitab beliau yang berjudul Sabilut Taufiq dan Bida'ut Tafasir : Inilah susur galur keturunan kami yang popular di kalangan keluarga kami yang menetap di wilayah Ghumarah dan selainnya.

Kelahiran

Beliau dilahirkan di bandar Tonjah (Tangier), Morocco pada hujung bulan Jamadil Akhir atau awal bulan Rejab tahun 1328 Hijrah (1910 Masihi)

Latar belakang keluarga

Sayyid Abdullah al-Ghumari dilahirkan di kalangan keluarga yang terkenal dengan ketaqwaan, keilmuan, kesolehan dan kemuliaan ditambah dengan kesucian keturunan. Ayahanda beliau, Sayyid Muhammad Siddiq al-Ghumari merupakan syeikh para ulama' Morocco. Beliau telah mengasaskan Madrasah Siddiqiyyah yang berjaya melahirkan ramai para ulama' yang $berwibawa. Datuk beliau sebelah ibu, Sayyid Ibnu 'Ajibah al-Hasani merupakan seorang ulama' yang tidak asing lagi. Beliau merupakan pengarang kitab tafsir yang berjudul Bahrul Madid serta syarah Hikam 'Atoiyyah yang bertajuk Iqazul Himam. Abang beliau, Sayyid Ahmad al-Ghumari merupakan seorang tokoh hadith yang terkemuka sehingga mencapai taraf al-Hafiz. Beliau juga telah menghasilkan karya-karya yang bernilai sehingga mencecah ratusan buah. Adik-adik beliau, Sayyid Abdul Aziz, Sayyid Abdul Hayy, Sayyid Ibrahim, Sayyid Hasan dan Sayyid Muhammad Zamzami pula merupakan tokoh-tokoh muhaddithin dan muhaqqiqin. Di kalangan mereka ada yang muncul sebagai pakar tafsir, usul fiqh, hadith dan ilmu-ilmu yang lain. Namun keluarga al-Ghumari sememangnya terkenal dengan keilmuan mereka di dalam bidang hadith di wilayah Tonjah sebagaimana keluarga al-Kittani di wilayah Fas (Fez).

Latar belakang pendidikan

Sayyid Abdullah al-Ghumari memulakan pendidikan seawal usia lima tahun. Ayahandanya memasukkan beliau ke pondok dengan tujuan untuk menghafal al-Quran. Lalu beliau mula menghafal al-Quran dengan riwayat Warasy. Setelah itu, beliau menghafal pula al-Quran dengan riwayat Hafs. Di samping itu beliau turut menghafal sebahagian besar matan-matan ilmu seperti nazam al-Kharraz yang berjudul Mauriduz Zomaan, al-Arba'in al-Nawawiyyah, al-Ajurumiyyah, Alfiyyah Ibnu Malik, Bulughul Maram dan Mukhtasar Syeikh Khalil ibnu Ishaq dalam fiqh mazhab Maliki. Setelah itu, dengan perintah ayahandanya, beliau bermusafir ke wilayah Fas untuk menyambung pengajian di Masjid al-Qurowiyyin yang merupakan pusat pengajian terkemuka di Morocco. Beliau menetap di situ selama lebih kurang 6 bulan. Kemudian beliau pulang semula ke Tonjah dan setelah itu beliau kembali menyambung pengajiannya di Fas. Antara subjek yang beliau pelajari di al-Qurowiyyin: 1) Nahu: Alfiyyah Ibnu Malik dengan Syarah Ibnu ‘Aqil dan Hasyiah al-Suja’i. Juga Syarah al-Makudi dengan Hasyiah Ibnu Haj. 2) Fiqh: Mukhtasor Khalil dengan Syarah al-Khurosyi. Juga sebahagian besar Syarah al-Zurqani dan Syarah al-Dirdir daripada bab al-Ijarah sehingga habis. 3) Hadith: Syarah al-Qostollani bagi Sohih al-Bukhari dan Hasyiah al-Syinwani bagi Mukhtasor Ibnu Abi Jamrah. 4) Tafsir: Tafsir al-Jalalain dengan Hasyiah al-Sowi. 5) Tauhid: Kitab al-Tauhid susunan Imam Ibnu 'Asyur. 6) Usul Fiqh: Jam'ul Jawami' dengan Syarah Jalaluddin al-Mahalli 7) Mantiq: Syarah al-Quwaisani bagi matan al-Sullam. Beliau juga turut mendalami bidang-bidang ilmu yang lain daripada guru yang pelbagai. Setelah menamatkan pengajian di Qurowiyyin, beliau pulang ke Tonjah untuk meneruskan pengajian di Madrasah Siddiqiyyah di bawah seliaan ayahandanya sambil mengajar para pelajar di madrasah tersebut. Dalam tempoh ini juga, ayahandanya memberi galakan supaya beliau mula menulis. Maka beliau mula meringkaskan kitab Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq fi 'Ilmil Usul karangan Imam al-Syaukani. Beliau turut menulis huraian matan Ajurumiyyah dalam ilmu Nahu. Setelah selesai mengarang huraian ini, beliau membentangkannya kepada ayahandanya untuk disemak dan diedit. Setelah itu, abangnya Sayyid Ahmad al-Ghumari menamakan huraian ini dengan judul Tashyidul Mabani litaudhih ma hawathul Muqaddimatul Ajurumiyyah minal Haqaiq wal Ma'ani. Semua ini beliau lakukan ketika masih lagi berusia belasan tahun. Ketika berusia 21 tahun, dengan izin ayahandanya beliau bermusafir ke Mesir bersama abangnya Sayyid Ahmad dan adiknya Sayyid Muhammad Zamzami bagi melanjutkan pengajian di al-Azhar al-Syarif. Di Mesir, bintang beliau sebagai seorang ilmuwan lebih-lebih lagi sebagai seorang muhaddith mula menyinar. Dengan galakan daripada rakan-rakan yang mengenali kewibawaannya, beliau menduduki peperiksaan Syahadah 'Alamiyyah Khassah dalam 12 subjek iaitu Usul Fiqh, Ma'ani, Bayan, Badi', Nahu, Sorf, Tauhid, Mantiq, Hadith, Mustolah Hadith, Fiqh dan Tafsir. Dalam peperiksaan ini, beliau memperolehi kejayaan yang cemerlang. Setelah itu, beliau sekali lagi menduduki peperiksaan Syahadah 'Alamiyyah al-Azhariyyah dalam subjek yang sama seperti peperiksaan yang lalu. Cuma ditambah 3 lagi subjek iaitu ilmu al-Wadh'u, 'Arudh Qafiah dan Tasawwuf. Dalam peperiksaan ini juga, beliau beroleh kejayaan yang cemerlang dan berita kejayaan beliau disiarkan menerusi akhbar al-Ahram sehingga Syeikh Mahmud Syaltut yang ketika itu merupakan wakil Fakulti Syariah al-Azhar al-Syarif berkata: Kita mengucapkan tahniah kepada peperiksaan Syahadah 'Alamiyyah al-Azhariyyah kerana ianya telah diduduki oleh Syeikh Abdullah yang sememangnya datang dari negaranya dalam keadaan alim.

Kerjaya

Setelah menamatkan pengajian, beliau mula mengajar di Masjid al-Azhar al-Syarif di dalam ilmu Nahu, Mantiq, Usul Fiqh dan Balaghah. Di samping itu, beliau turut menyumbangkan karya-karya ilmiah kepada majalah-majalah yang pelbagai antaranya: 1) Majalah Hadyul Islami. 2) Majalah al-Irsyad. 3) Majalah al-Rabitoh al-Islamiyyah. 4) Majalah al-Syarq al-'Arabi. 5) Majalah Nasyrul Fadhoil wal Adabul Islamiyyah. 6) Majalah al-Wasilah. 7) Majalah al-Muslim yang diterbitkan oleh 'Asyirah Muhammadiyyah. Selain itu, beliau mula aktif mengarang pelbagai kitab ilmiah yang bernilai terutama di dalam bidang Hadith di samping mentahqiq beberapa kitab turath. Hubungan beliau dengan pertubuhan & gerakan Islam di Mesir Sayyid Abdullah al-Ghumari sememangnya mempunyai hubungan yang baik dengan beberapa pertubuhan dan gerakan Islam di Mesir antaranya: 1) Pertubuhan al-Hidayah al-Islamiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad al-Khidr al-Husain al-Tunisi. 2) Al-‘Asyirah al-Muhammadiyyah di mana beliau merupakan salah seorang panel fatwa dan ahli jawatankuasa pertubuhan ini yang diasaskan oleh Sayyid Muhammad Zakiyyuddin Ibrahim. 3) Pertubuhan Nasyrul Fadhoil wal Adabul Islamiyyah. 4) Pertubuhan al-Robitoh al-Islamiyyah. 5) Gerakan al-Ikhwanul Muslimun yang diasaskan oleh Imam al-Syahid Hasan al-Banna. Berkata Sayyid Abdullah: Saya mempunyai hubungan yang erat dengan al-Ustaz Hasan al-Banna, pemimpin gerakan al-Ikhwanul Muslimun dan ayahandanya al-Ustaz Ahmad Abdul Rahman, pemilik sanad-sanad yang banyak di mana kami seringkali berhubung dan saling ziarah menziarahi. 6) Pertubuhan wanita yang diasaskan oleh Sayyidah Zainab al-Ghazali di mana Sayyid Abdullah al-Ghumari menyampaikan pengajian mingguan beliau di pusat pertubuhan ini.

Guru-guru beliau

Sayyid Abdullah al-Ghumari memiliki seramai 62 orang guru sebagaimana yang disebut oleh beliau sendiri. Antaranya:

1) Ayahanda beliau sendiri Sayyid Muhammad Siddiq al-Ghumari al-Idrisi al-Hasani.
2) Abang beliau al-Hafiz Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Siddiq al-Ghumari.
3) Sayyid Ahmad Rafi’ al-Tohtowi, musnid negara Mesir.
4) Al-‘Allamah al-Muhaddith Muhammad Zahid al-Kauthari.
5) Al-‘Allamah Syeikh Muhammad Duwaidar al-Kafrawi al-Talawi al-Syafi’e.
6) Al-‘Allamah al-Faqih al-Usuli Syeikh Muhammad al-Tohir bin ‘Asyur al-Tunisi.
7) Al-‘Allamah Syeikh Abdul Baqi al-Ansori al-Laknawi al-Madani. Muhaddith al-Haramain Syeikh Umar Hamdan al-Mahrasi al-Tunisi. 9) Al-‘Allamah Syeikh Abdul Wasi’ bin Yahya al-Wasi’e al-Yamani.
10) Al-‘Allamah al-Faqih Muhsin bin Nasir Bahrobah al-Hadhrami.
11) Al-‘Allamah al-Faqih al-Musnid Abdul Qadir bin Taufiq al-Syalabi al-Tarablasi al-Hanafi.
12) Al-‘Allamah al-Faqih Muhammad bin Muhammad al-Halabi al-Misri al-Syafi’e.
13) Al-‘Allamah Muhammad Imam bin Ibrahim al-Saqa.
14) Syeikh Darul Hadith Damsyiq al-Muhaddith Badruddin Muhammad bin Yusuf al-Hasani.
15) Sayyidah al-Musnidah Ummul Banin Aminah binti Abdul Jalil bin Salim al-Dimasyqiyyah.

Dan lain-lain lagi di beberapa negara Islam seperti Mekah al-Mukarramah, Emiriah Arab Bersatu, Jordan, Sudan dan Qatar.

Murid-murid beliau

Antaranya:

1) Adik-adik beliau sendiri Sayyid Abdul Aziz, Sayyid Abdul Hayy, Sayyid Hasan, Sayyid Ibrahim dan Sayyid Muhammad Zamzami.
2) Al-‘Allamah Syeikh Muhammad al-Hamid al-Hamawi.
3) Al-‘Allamah Syeikh Abdul Aziz ‘Uyun al-Sud al-Himsi.
4) Al-‘Allamah al-Muhaddith Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah al-Halabi.
5) Al-‘Allamah Syeikh Muhammad ‘Awwamah al-Halabi.
6) Al-‘Allamah Syeikh Muhammad Ali al-Murad al-Hamawi.
7) Dr. Abdul Wahhab Abdul Latif. Dr. Ali Juma’ah al-Misri, Mufti Republik Arab Mesir.
9) Sayyid Soleh al-Ja’afari, Imam Masjid al-Azhar suatu ketika dahulu.
10) Syeikh Hamdi Aslan al-Albani.
11) Dr. Mahmud Sa’id Mamduh al-Misri.
12) Syeikh Mahmud Hasan al-Syeikh.
13) Dr. Hanafi Hasanain.
14) Syeikh Husain al-Batanuti.
15) Dr. Faruq Hammadah.
16) Dr. Muhammad Fuad al-Barazi dan ramai lagi dari seluruh pelusuk dunia.

Karya-karya beliau

Sayyid Abdullah al-Ghumari telah menghasilkan pelbagai karangan yang bermutu tinggi hingga mencecah sebanyak 81 buah dalam pelbagai bidang ilmu terutama ilmu Hadith sehinggakan seorang ulama’ pernah berkata sambil menujukan ucapannya kepada Sayyid Abdullah al-Ghumari: Kami menyangka tiada lagi ulama’ Hadith di Mesir dan Timur selain Syeikh Rasyid Ridho dan Syeikh Ahmad Syakir. Namun setelah kami membaca hasil kajian anda dan semakan-semakan anda di dalam bidang Hadith, maka kami mengatakan andalah orang yang ketiga! Antara karya-karya beliau mengikut susunan bidang ilmu: a) Usuluddin: 1) Itqanus Sun’ah fi Tahqiq Ma’nal Bida’ah. 2) Irsyadul Jahilil Ghabiy ila Wujubi’tiqad anna Adam Nabiy. 3) Irghamul Mubtadi’il Ghabiy bijawazit Tawassul bin Nabiy. 4) Al-Tahqiqul Bahir fi Ma’nal Iman Billah wal Yaumil Akhir. 5) Ithaful Azkiya’ bijawazit Tawassul Bil Anbiya’ wal Auliya’. 6) Iqomatul Burhan ‘ala Nuzul ‘Isa fi Akhiriz Zaman dan lain-lain lagi. b) Ulum al-Quran: 1) Al-Ihsan fi Ta’aqqubil Itqan. 2) Bida’ut Tafasir. 3) Bayan Sohihil Aqawil fi Tafsir Ayat Bani Israil. 4) Taudhihul Bayan liwusul Thawabil Quran. 5) Zauqul Halawah bi Bayan Imtina’ Naskhit Tilawah. 6) Al-Ru’ya fil Quran was Sunnah dan lain-lain lagi. c) Ulum Hadith: 1) Al-Ahadith al-Muntaqah fi Fadhoil Sayyidina Rasulillah. 2) Al-Arba’un Hadithan al-Siddiqiyyah. 3) Al-Arba’un al-Ghumariyyah fi Syukrin Ni’am. 4) Asanidul Kutubus Sab’ah fil Hadith. 5) Nihayatul Amal fi Sihhah wa Syarh Hadithil ‘Amal dan lain-lain lagi. d) Fiqh dan Usul Fiqh: 1) Husnut Tafahhum wad Dark Li Masaalatit Tark. 2) Al-Adillah al-Rojihah 'ala Fardhiyyah Qira'atil Fatihah. 3) Al-Istiqso' li Adillah Tahrimil Istimna'. 4) I'lamur Roki'is Sajid bi Ma'nat Tikhazil Qubur Masajid dan lain-lain lagi. Juga beberapa karangan lagi yang agak banyak untuk disenaraikan di sini dalam pelbagai bidang ilmu.

Sesiapa yang membaca setiap karangan beliau, pasti merasa kagum dengan ketinggian ilmu beliau yang menunjukkan keluasan kajian beliau ditambah dengan kekuatan dalil yang dikemukakan dalam setiap masalah yang beliau bentangkan apatah lagi beliau merupakan seorang pakar hadith yang mencapai martabat al-Hafiz. Tidak keterlaluan saya katakan bahawa Sayyid Abdullah al-Ghumari sememangnya seorang tokoh yang hebat bagi sesiapa yang meneliti karangan beliau dengan pandangan yang saksama tanpa sebarang perasaan ta'sub.

Ujian hidup yang ditempuhi

Sayyid Abdullah al-Ghumari pernah dipenjarakan pada zaman pemerintahan Presiden Jamal Abdul Nasir atas tuduhan mengintip bagi pihak Perancis sedangkan ini merupakan suatu tuduhan palsu melalui perancangan beberapa pihak tertentu yang merasa tergugat dengan kelantangan dan keberanian beliau. Pada asalnya, beliau dijatuhkan hukuman mati, namun setelah mahkamah mendapati beliau tidak bersalah, beliau dikenakan hukuman penjara selama 11 tahun bermula daripada 15 Oktober 1959 hingga 26 Disember 1969. Walaupun berada dalam penjara, ianya tidak menghalang beliau untuk mengarang beberapa karya yang tidak kurang hebatnya.

Kepulangan ke Morocco dan kewafatannya.

Setelah keluar dari penjara, beliau pulang ke Morocco bagi meneruskan perjuangan dalam bidang ilmu. Sayyid Abdullah al-Ghumari telah berada di Mesir selama 40 tahun dan beliau pulang ke tanah airnya untuk menabur bakti buat anak bangsanya di samping meneruskan kelangsungan Madrasah Siddiqiyyah yang telah diasaskan oleh ayahandanya. Setelah menaburkan bakti di Morocco selama lebih kurang 23 tahun, akhirnya beliau menyahut panggilan Ilahi pada hari Khamis 19 Sya'aban 1413 Hijrah (11 Februari 1993) dalam usia 85 tahun. Jasad beliau disemadikan bersebelahan pusara ayahanda dan bondanya yang terletak di Madrasah Siddiqiyyah. Pemergian beliau ditangisi oleh mata-mata yang mencintai beliau dan mengenali kedudukan beliau. Semoga Allah mencucurkan rahmat ke atas roh beliau. Amin.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 02:30 0 KOMENTAR
Sayyid Abdul Aziz Siddiq al-Ghumari
Beliau ialah al ‘Allamah al Muhaddith al Sufi al Muhaqqiq al Mudaqqiq al Imam Maulana Sayyid Abdul Aziz bin Muhammad bin Siddiq bin Ahmad bin Muhammad bin al-Qasim bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Mukmin bin Ali bin al Hasan bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdullah bin Isa bin Sa'id bin Mas'ud bin al Fudhoil bin Ali bin Umar bin al 'Arabi bin 'Allal (Ali menurut bahasa Maghribi) bin Musa bin Ahmad bin Daud bin Maulana Idris al Asghor bin Maulana Idris al Akbar bin Abdullah al Kamil bin al Hasan al Muthanna bin Imam al Hasan al Mujtaba bin Amirul Mukminin Sayyiduna Ali dan Sayyidah Fatimah al Zahra' binti Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w.

Kelahiran


Dilahirkan pada bulan Jamadil Awal 1338 (1920) di Tonjah (Tangiers), Morocco.


Latar belakang pendidikan


Beliau memulakan pendidikan seawal usia lima tahun dengan menghafal al Quran melalui bimbingan Syeikh Muhammad Bu Durrah, murid ayahandanya. Setelah itu, beliau mula menumpukan sepenuh perhatian kepada ilmu-ilmu yang lain melalui pembelajaran, pembacaan dan kajian. Ayahandanya memberi sepenuh perhatian kepada beliau sepanjang tempoh pendidikan dengan nasihat-nasihat yang berguna dan petunjuk-petunjuk yang berfaedah. Ini disebabkan ayahandanya dapat mengesan bakat-bakat terpendam yang ada pada diri beliau. Pada tahun 1355 (1937) ketika berusia 17 tahun, beliau merantau ke Mesir bersama-sama abangnya Sayyid Abdul Hayy al Ghumari untuk melanjutkan pelajaran di al Azhar al Syarif. Di al Azhar, beliau menuntut ilmu daripada para ulama’ yang berwibawa dalam pelbagai lapangan ilmu. Dalam tempoh ini juga, beliau mula berjinak-jinak dengan ilmu Hadith di samping melakukan latihan-latihan dan kajian-kajian sekitar ilmu ini.


Bergelumang dengan ilmu Hadith


Mengenai permulaan beliau bergelumang ilmu Hadith, Sayyid Abdul Aziz menceritakan pengalamannya bahawa beliau mula terlibat secara serius dalam ilmu Hadith setelah menamatkan pengajian dalam bidang Mustolah Hadith. Untuk merealisasikan apa yang telah beliau pelajari, beliau mula menumpukan kajian terhadap kitab al Laali’ al Masnu’ah karangan al Hafiz Jalaluddin al Suyuti. Melalui kajian beliau terhadap kitab ini, Sayyid Abdul Aziz berjaya menghasilkan karya yang berjudul al Jawahir al Ghawali. Beliau turut menyebut bahawa melalui kajiannya terhadap kitab ini, beliau mempelajari methodologi kritikan terhadap para perawi hadith, rantaian sanad dan kaedah membezakan hadith yang sohih dengan yang dho’if. Setelah itu, beliau menumpukan kajiannya terhadap kitab-kitab hadith yang pula yang mana beliau membaca dan mengkaji hasil kajian hadith yang dihasilkan oleh abangnya al Hafiz Sayyid Ahmad al Ghumari. Apabila selesai mengkaji karya-karya abangnya, beliau meneruskan usaha dengan mengkaji kitab-kitab hadith lain yang dikarang oleh al Huffaz yang berkaliber dalam bidang ini seperti al Hafiz al ‘Iraqi, al Hafiz al Zailai’e, al Hafiz Ibnu Hajar al ‘Asqolani, al Hafiz al Suyuti dan lain-lain lagi. Sepanjang kajian beliau terhadap ilmu Hadith, beliau seringkali berhubung dengan abangnya al Hafiz Sayyid Ahmad al Ghumari untuk meminta nasihat dan petunjuk. Kemuncaknya beliau menyebut bahawa setelah beliau merasa telah mahir dalam bidang ini dan mampu menguasainya dengan baik, maka beliau mula mengarang sebuah kitab yang berjudul Bulugh al Amani min Maudhu’at al Sun’ani. Setelah selesai mengarang karya ini, beliau membentangkannya kepada abangnya al Hafiz Sayyid Ahmad al Ghumari, lalu abangnya memberi komentar: Sepatutnya karya ini diberi judul Hazij al Aghani kerana ianya mengandungi faedah yang boleh membuatkan pembacanya menari-nari kerana riang dan kagum!


Kepulangan ke Tonjah


Setelah 12 tahun menetap di Mesir, akhirnya pada bulan Rabiul Awwal 1366 (1949) beliau pulang ke Tonjah untuk menyebarkan ilmu buat anak bangsanya. Di Tonjah, beliau aktif mengajar di Madrasah Siddiqiyyah di samping menulis dan mengadakan majlis zikir. Beliau juga turut dilantik menjadi khatib di madrasah tersebut.


Guru-guru


Antaranya:


1. Ayahandanya Sayyid Muhammad Siddiq al Ghumari.
2. Abang-abangnya al Hafiz Sayyid Ahmad al Ghumari dan al Hafiz Sayyid Abdullah al Ghumari. 3. Al ‘Allamah Syeikh Muhammad Bu Durrah, murid ayahandanya.
4. Al ‘Allamah Syeikh Abdul Mu’ti al Syarsyimi.
5. Al ‘Allamah Syeikh Mahmud Imam.
6. Al ‘Allamah Syeikh Abdul Salam Ghanim al Dimyati al Syafie.
7. Al ‘Allamah Syeikh Muhammad ‘Izzat dan lain-lain lagi.


Karya-karya beliau


Semuanya berjumlah 73 buah. Kebanyakannya dalam bidang hadith. Antaranya:


1. Tashil al Mudarraj ila al Mudarraj.
2. Al Ta’nis bi Syarh Manzumah al Zahabi fi Ahli al Tadlis.
3. Al Bughyah fi Tartib Ahadith al Hilyah.
4. Ithaf Zawi al Himam al ‘Aaliyah bi Syarh al ‘Asymawiyyah.
5. Al Qaul al Ma’thur bi Jawaz Imamah al Mar’ah bi Rubat al Khudur.
6. Mafatih al Dahyan li Tartib Tarikh Asbahan.
7. Al Tahzir Mimma Zakarahu al Nablusi fi al Ta’bir.
8. Al Tuhfah al ‘Aziziyyah fi al Hadith al Musalsal bi al Awwaliyyah dan lain-lain lagi.


Kewafatan

Beliau menghembuskan nafas terakhir pada tahun 1418 (1998) dan disemadikan di Madrasah Siddiqiyyah berhampiran pusara keluarganya. Semoga Allah merahmati beliau dan membalas jasa-jasa beliau dengan sebaik-baik pembalasan. Amin.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 02:28 0 KOMENTAR
Ibnu Atha'illah
Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atho’ al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa’ribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.

Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri Thariqah al-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Atho’ dalam kitabnya “Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: "Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.

Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ Sholihin
Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya.
Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: "Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku", dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: "Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: " Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka". Dengan bijak Nabi mengatakan : " Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka". Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”. Pada akhirnya Ibn Atho' memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa:

Masa pertama
Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita: "Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau". Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.

Masa kedua
Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama' tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini.
Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho' mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : "apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.
Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara'. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku".
Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.
Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : "Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : "Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : "Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?". Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : "Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga".
Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka". Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah".

Masa ketiga
Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho' dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.
Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya. Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.
Ibnu Hajar berkata: "Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan". Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : "Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah". Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”.

Karya
Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho' meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah.
Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama Hikam, yang telah diberikan komentar oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.
Kitab ini dikenali juga dengan nama al-Hikam al-ata'iyyah untuk membezakannya daripada kitab-kitab lain yang juga berjudul Hikam.
Karomah Ibn Athoillah
Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: "Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia...". Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: "Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka". Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak.

Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketiak mendengar teman-temannya menjawab "Tidak". Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : "Siapa saja yang kamu temui ?" lalu si murid menjawab : "Tuanku… saya melihat tuanku di sana ". Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : "Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.
Wafat

Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 02:20 0 KOMENTAR
Sayyid Ahmad Siddiq al-Ghumari
Beliau ialah al Hafiz al ‘Allamah al Imam al Mujtahid al Muhaqqiq al Mudaqqiq Abul Faidh Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Siddiq bin Ahmad bin Muhammad bin al-Qasim bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Mukmin bin Ali bin al Hasan bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdullah bin Isa bin Sa'id bin Mas'ud bin al Fudhoil bin Ali bin Umar bin al 'Arabi bin 'Allal (Ali menurut bahasa Maghribi) bin Musa bin Ahmad bin Daud bin Maulana Idris al Asghor bin Maulana Idris al Akbar bin Abdullah al Kamil bin al Hasan al Muthanna bin Imam al Hasan al Mujtaba bin Amirul Mukminin Sayyiduna Ali dan Sayyidah Fatimah al Zahra' binti Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w. Sayyid Ahmad al Ghumari menyebut susur galur keturunan ini dalam kitab yang berjudul al Tasawwur wat Tasdiq bi Akhbar Syeikh Sayyid Muhammad al Siddiq dengan berkata: Adapun juraian keturunan ini, ia merupakan perkara sabit yang dibuktikan melalui jalan kesaksian, kemasyhuran dan mutawatir di kalangan orang ramai sepertimana yang termaktub di dalam sijil-sijil pernikahan, jual beli dan pemberian yang dilaburkan buat kawasan pemakaman nenek moyang kami serta sumber-sumber lain yang menyebut tentang perkara ini dari kurun kesepuluh Hijrah sehingga sekarang.

Kelahiran

Dilahirkan di desa Bani Sa’ad, wilayah Ghumarah, utara Maghrib Aqso, Morocco pada hari Jumaat, 27 Ramadhan 1320 Hijrah (1902). Selepas 2 hari kelahiran beliau, ayahandanya membawa beliau pulang ke wilayah Tonjah (Tangiers).

Latar belakang keluarga

Sayyid Ahmad al Ghumari merupakan anak sulung daripada 7 orang adik beradik. Bukan sekadar sulung daripada sudut susunan keluarga, bahkan sulung daripada sudut keilmuan sehinggakan adik-adiknya berguru dengan beliau. Bahkan adik-adik beliau akan membentangkan setiap karya mereka kepadanya untuk disemak, diedit dan dikomentar. Ayahanda beliau, Sayyid Muhammad Siddiq al Ghumari merupakan tokoh ulama’ yang hebat sehingga menjadi rujukan para ulama’ dari seluruh Morocco. Beliau juga merupakan pengasas Madrasah Siddiqiyyah yang menjadi gedung penyumbang para ulama’ di dunia umumnya dan Morocco khasnya. Datuk beliau sebelah ibu, Sayyid Ibnu ‘Ajibah al Hasani merupakan seorang ulama’ yang tidak asing lagi. Beliau merupakan penulis kitab tafsir al-Quran yang berjudul Bahrul Madid fi Tafsir al-Quran al Majid dan kitab tasawwuf yang berjudul Iqozul Himam yang merupakan huraian terhadap kitab Hikam Ibnu ‘Atoillah karangan Imam al ‘Allamah al Faqih Sayyid Ahmad bin ‘Atoillah al Sakandari. Adik-adik beliau, Sayyid Abdullah, Sayyid Abdul Aziz, Sayyid Abdul Hayy, Sayyid al Hasan, Sayyid Ibrahim dan Sayyid Muhammad Zamzami merupakan tokoh-tokoh muhaqqiqin. Di kalangan mereka ada yang mencapai martabat al Hafiz dalam bidang hadith. Begitu juga di kalangan mereka terdapat pakar-pakar yang menjadi rujukan dalam bidang Tafsir, Fiqh, Usul Fiqh, Bahasa Arab, Tasawwuf dan bidang ilmu yang lain. Namun keluarga al Ghumari merupakan keluarga ulama’ yang menonjol dalam bidang Hadith serta keluarga yang melahirkan tokoh-tokoh ulama’ yang mencapai taraf Mujtahid.

Latar belakang pendidikan

Sayyid Ahmad al Ghumari memulakan pendidikan seawal usia lima tahun. Ayahandanya memasukkan beliau ke pondok dengan tujuan untuk menghafal al-Quran. Di samping itu, beliau turut menghafal beberapa matan ilmu seperti Muqaddimah al-Ajurumiyyah dan lain-lain lagi. Setelah itu, beliau mula menumpukan perhatian terhadap subjek-subjek yang lain seperti Nahu, Sorf, Fiqh Maliki, Tauhid dan Hadith. Ayahandanya begitu mengambil berat tentang pendidikan beliau di mana ayahandanya memberi galakan supaya beliau bersungguh-sungguh dan berpenat lelah dalam menuntut ilmu. Ketika mana ayahandanya memerintahkan para pelajar Madrasah Siddiqiyyah supaya menghafal al-Quran, lantas beliau mengarang sebuah kitab yang berjudul Riyadh al Tanzih fi Fadhoil al Quran wa Hamilih untuk menjelaskan tentang kelebihan-kelebihan al Quran dan golongan yang menghafalnya. Perkara ini beliau lakukan ketika masih lagi berusia belasan tahun. Dalam tempoh ini juga, beliau cenderung untuk mempelajari ilmu Hadith dan bergelumang dengan perkara-perkara yang berkaitan dengannya lantas beliau mula membaca dan mengkaji kitab-kitab Hadith khususnya kitab al Targhib wa al Tarhib dan kitab al Jami’ al Soghir berserta huraiannya yang berjudul al Taisir. Ketika berusia 20 tahun, dengan perintah ayahandanya beliau pun merantau ke Mesir untuk melanjutkan pengajian di al Azhar al Syarif. Di Mesir, beliau menumpukan sepenuh perhatian untuk mempelajari Fiqh Maliki dan Syafie. Antara subjek-subjek yang beliau pelajari: 1) Nahu: Matan al Ajurumiyyah berserta huraiannya yang bertajuk Syarah al Kafrowi. Beliau turut mempelajari matan Alfiyyah Ibnu Malik berserta huraiannya yang berjudul Syarah Ibnu ‘Aqil dan Syarah al Asymuni. 2) Tauhid: Kitab Jauharah al Tauhid. 3) Fiqh: Kitab al Tahrir karangan Syeikhul Islam Zakaria al Ansori dalam Fiqh Syafie dan kitab Syarah al Hidayah dalam Fiqh Hanafi. 4) Hadith: Sohih al Bukhari, al Adab al Mufrad, Musnad al Imam al Syafie, Musalsal Awwaliyyah dan Musalsal Yaum ‘Asyura. 5) Usul Fiqh: Kitab Minhaj al Usul ila ‘Ilmi al Usul berserta huraiannya yang berjudul Nihayah al Sul. Dan beberapa subjek lagi yang merangkumi pelbagai bidang ilmu sama ada ilmu-ilmu berbentuk naqliyyah mahu pun ‘aqliyyah. Sayyid Ahmad al Ghumari merupakan seorang pelajar yang pintar dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sehingga kepintaran dan kesungguhan beliau menimbulkan kekaguman para gurunya. Ini kerana beliau berjaya menghabiskan subjek-subjek tersebut dalam masa yang singkat.

Guru-guru beliau

Sayyid Ahmad al Ghumari memiliki guru yang ramai dari beberapa buah negara Islam seperti Mesir, Halab, Damsyik dan Sudan. Beliau menyebut nama-nama mereka secara khusus di dalam kitab yang berjudul al Bahsul ‘Amiiq fi Marwiyyat Ibni al Siddiq. Di antaranya ialah:

1) Ayahanda beliau sendiri al Imam al ‘Allamah Sayyid Muhammad bin Siddiq al Ghumari al Idrisi al Hasani.
2) Syeikh al ‘Arabi bin Ahmad Bu Durrah, murid ayahandanya.
3) Al ‘Allamah al Muhaddith Sayyid Muhammad bin Ja’afar al Kittani.
4) Al ‘Allamah Syeikh Muhammad Imam bin Ibrahim al Saqa al Syafie.
5) Al ‘Allamah al Faqih al Usuli al Mufassir Syeikh Muhammad Bakhit al Muti’e, mufti Kerajaan Mesir.
6) Al ‘Allamah Muhaddith al Haramain Syeikh Umar Hamdan al Mahrasi dan lain-lain lagi.

Bergelumang dengan ilmu Hadith

Setelah menamatkan pengajian, beliau mula menumpukan sepenuh perhatian untuk mengkaji bidang Hadith secara riwayat dan dirayah. Lantas beliau mengurung dirinya di rumah dengan tujuan untuk mengkaji hadith dengan lebih mendalam dan teliti. Beliau tidak keluar dari rumahnya melainkan untuk menunaikan sembahyang lima waktu dan tidak tidur pada waktu malam kecuali seketika selepas menunaikan sembahyang sunat Dhuha. Beliau berterusan dalam keadaan sebegini sehingga 2 tahun lamanya. Dalam tempoh ini, beliau menghafal hadith, mengkaji dan mentakhrijnya. Apabila tamat tempoh ini, beliau merantau pula ke Damsyik bersama-sama ayahandanya dan terus pulang ke Morocco. Beliau menetap selama lebih kurang empat tahun di Morocco. Dalam tempoh ini, beliau meneruskan kesungguhan dalam mengkaji ilmu Hadith di samping menghafal, mentakhrij, menulis dan mengajar. Dalam tempoh ini juga, beliau mula mengajar kitab Nailul Autor dan al Syamail al Muhammadiyyah yang mana kedua-duanya merupakan kitab hadith. Setelah itu, beliau kembali merantau ke Mesir bersama dua orang adiknya Sayyid Abdullah dan Sayyid Muhammad Zamzami. Di Mesir, beliau menjadi tempat rujukan para ulama’ walaupun beliau masih lagi berusia muda. Di samping menulis, beliau diminta untuk membacakan kitab Fathul Bari dan Muqaddimah Ibnu Solah. Beliau turut mengadakan majlis imla’ yang bertempat di Masjid Imam Husain dan Masjid al Kokhya. Pada tahun 1354 (1936), beliau pulang ke Morocco disebabkan kewafatan ayahandanya. Lantas beliau mengambil alih tempat ayahandanya bagi meneruskan kelangsungan Madrasah Siddiqiyyah. Maka beliau mula mengajar kitab-kitab yang berkaitan dengan ilmu Hadith dan mengadakan majlis-majlis imla’. Sayyid Ahmad al Ghumari sering menyeru orang ramai agar kembali berpegang dengan Sunnah Nabawiyyah dan beliau menentang dengan keras sebarang peniruan dan penyeruan serta ikutan terhadap golongan kafir lebih-lebih lagi Morocco ketika itu telah mula dimasuki pengaruh Eropah yang membawa unsur-unsur yang negatif.

Seorang mujahid

Sayyid Ahmad al Ghumari bukan saja terkenal sebagai seorang ilmuwan dan tokoh dalam bidang hadith bahkan beliau adalah seorang tokoh mujahid yang berjuang bermati-matian menentang penjajah dan penjajahan. Lantas kerana itu, beliau telah dipenjara selama beberapa tahun. Setelah dibebaskan dari penjara, beliau berterusan dikenakan tekanan oleh pihak penjajah sehingga akhirnya beliau memutuskan untuk merantau meninggalkan Morocco dan memilih untuk menetap di Mesir sehingga ke akhir hayat.

Karya-karya

Sayyid Ahmad al Ghumari merupakan seorang ulama’ yang banyak menulis sehingga diberi gelaran sebagai ‘al Suyuti pada zamannya’. Karangan beliau mencecah sebanyak 169 buah. Beliau menulis dalam pelbagai bidang ilmu seperti ‘Aqidah, Fiqh, Tafsir, Hadith, Tasawwuf, Sejarah, Biografi dan sebagainya. Karya-karya beliau ada yang telah dicetak dan ada yang masih dalam bentuk tulisan tangan. Antara karya-karya beliau:

1) Ibraz al Wahm al Maknun min Kalam Ibni Khaldun.
2) Ithaf al Adib bima fi Ta’liq ‘Ilam al Arib.
3) Ithaf al Huffaz al Maharah bi Asanid al Usul al ‘Asyarah.
4) Al Ajwibah al Sorifah ‘an Isykal Hadith al Toifah.
5) Ihya’ al Maqbur bi Adillah Bina’ al Masajid wal Qubab ‘ala al Qubur.
6) Azhaar al Raudhatain fiman yu’ta Ajrahu Marratain.
7) Al Azhar al Mutakathifah fil Alfaz al Mutaradifah.
8)Al Isti’azah wal Hasbalah mimman Sohhaha Hadith al Basmalah.
9) Al Isti’adhoh bi Hadith Wudhu’ al Mustahadhah.
10) Al Istinfar li Ghazwi al Tasyabbuh bil Kuffar.
11) Al Asrar al ‘Ajibah fi Syarh Azkar Ibn ‘Ajibah.
12) Al Ifdhol wal Minnah bi Ru’yah al Nisa’ Lillah fil Jannah.
13) Iqomah al Dalil ‘ala Hurmah al Tamsil.
14) Al Iqlid bi Tanzil Kitabillah ‘ala Ahli al Taqlid.
15) Al Iqna’ bi Sihhah al Solah Khalfa al Mizya’ dan lain-lain lagi.

Karya-karya Sayyid Ahmad al Ghumari merupakan himpunan karya yang bermutu tinggi. Di dalamnya terhimpun dalil-dalil, hujah-hujah, fakta-fakta serta keterangan-keterangan yang membuktikan keluasan ilmu beliau di dalam pelbagai lapangan ilmu ditambah dengan beberapa pandangan yang dilontarkan hasil ijtihad beliau sendiri. Ini merupakan suatu perkara yang tidak mustahil kerana beliau sendiri telah mencapai taraf mujtahid. Dikatakan beliau mula berijtihad setelah berjaya membaca 7 buah kitab dalam pelbagai mazhab yang mana kitab-kitab tersebut ada yang mencecah berjilid-jilid banyaknya. Ini merupakan suatu perkara yang mengkagumkan!

Kewafatan

Setelah pulang dari Sudan, beliau ditimpa sakit teruk yang berterusan. Akhirnya pada hari Ahad, awal bulan Jamadil Akhir 1380 (1962) beliau menghembuskan nafas terakhir dalam usia 60 tahun. Jenazah beliau disemadikan di Kaherah, Mesir. Semoga Allah merahmati Sayyid Ahmad al Ghumari serta membalas jasa-jasa beliau dalam mempertahankan Sunnah Nabawiyyah dengan sebaik-baik pembalasan. Amin.
DIPOSKAN OLEH MY JE_BLOGGER DI 01:39 0 KOMENTAR
20 FEBRUARI 2008
Jalaludin Ar Rumi
Jalaludin Ar Rumi

Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207 Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).
Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru beruisa lima tahun.
Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.
Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da'i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz.
Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing --yakni Syamsi Tabriz-- ikut bertanya, "Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?" Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.
Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, "Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya."
Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya.
Bak remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Rumi dirundung duka. Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.
Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.
Demi mengabulkan permintaan Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.
Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.
Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba'iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).
Bersama Syekh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

WAFAT. Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.
Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo'akan, "Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan." Rumi sempat menyahut, "Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit."
Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.